Sebenarnya, apa sih esensi Backpacking?
Bandara internasional Bangkok, Suvarnabhumi (baca: “Su-Wana-Poom”) baru diresmikan akhir tahun 2006, menggantikan bandara Don Muang. Bandara baru ini banyak dibicarakan orang, khususnya orang Indonesia, ketika berkunjung ke Thailand. Bila sebelumnya bandara Don Muang jelek (baca: tidak jauh beda dengan Bandara Soekarno-Hatta) dan gelap, maka bandara ini 360 derajat bedanya. Megah, besar, terang, modern, keren, mewah. Bandara ini sudah bisa disetarakan dengan bandara internasional di Hongkong atau Taipei. Bahkan lebih keren dibandingkan bandara Changi Singapore.
Suvarnabhumi yang berarti “The Golden Land” berada di Bang Phli District, ditempuh dengan 20-30 menit naik taksi dari kota Bangkok. Bandara seluas 3,200 hektar ini sudah dimulai pembangunannya sejak Januari 2002.
Bandara sebelumnya, Don Muang, saat ini akan difokuskan khusus untuk penerbangan domestik. Don Muang saat ini adalah bandara tersibuk di Asia Tenggara, dan sudah mencapai kapasitas maksimumnya yaitu lebih dari 37 juta penumpang per tahun. Bandara Suvarnabhumi diperkirakan bisa menampung hingga 100 juta penumpang per tahun setelah dua tahun berdiri. 
”Akhirnya, gw ke Suvarnabhumi juga,” ujar Uchi, yang sudah mendengar dari temannya tentang bandara ini. Mereka masih saja membandingkan bandara Thailand ini dengan bandara Indonesia. Menurutku, sudah bukan saatnya lagi melakukan pembandingan seperti itu. Mungkin pantasnya kita membandingkan bandara kita dengan bandara di Vietnam. (O ya? Don’t be so sure.... nantikan di tulisan selanjutnya)
Uchi senang karena sesuai rencana awal, seharusnya kami tidak menggunakan pesawat. Karena itu tidak akan ada kesempatan untuk mengunjungi bandara ini. Maka setelah turun dari taksi kami pun menyempatkan diri untuk berfoto di depan bandara ini. Begitu masuk, kami tak henti-hentinya mengagumi bandara ini dengan gaya wong ndeso.
Pada saat mengantri check in Air Asia ke Hanoi, kebetulan sekali di depan kami, 2 pasang pemuda-pemudi, ternyata adalah orang Indonesia. Maka kami pun mengobrol tentang trip kami.
Rute yang mereka tempuh hampir sama. Dari Malaysia ke Thailand, lalu ke Hanoi, dan kembali lagi ke Singapore. Bedanya dengan kami, mereka tidak ke Cambodia. Bedanya lagi, mereka semuanya menggunakan pesawat. Low fare airline, Air Asia, kebetulan melayani rute-rute itu, dan tidak ke Cambodia.
Kami pun menggunakan kesempatan ini untuk bertanya-tanya soal apa yang mereka ketahui tentang Hanoi. Karena kami sama sekali blank tentang Hanoi. Sebenarnya mereka juga blank, tetapi mereka sudah mempersiapkannya sejak dari Jakarta. Mereka sudah booking hotel, dan juga booking tour ke Halong Bay. Kami pun minta nomor telepon tour tersebut in case kami membutuhkan.
Mereka menghabiskan hanya sekitar 2 jutaan untuk semua flight dengan Air Asia tersebut. Mereka sempat main di KL, Langkawi, dan beberapa tempat di Bangkok. Tidak seperti kami yang menghabiskan banyak waktu di jalan dengan sedikit kepastian. Ketika melihat kami check in tanpa bagasi, mereka bingung. ”Bagasinya mana?” Gak ada, kata kami. Semua tas ransel, dibawa begitu saja. Hah? Mana cukup untuk ganti baju 10 hari? Well, ya gitu deh...
Sementara bawaan mereka, beberapa koper hitam yang besar di atas trolley. Koper-koper itu sudah beranak dalam perjalanan. Beranak karena banyaknya belanjaan, sehingga koper yang sebelumnya tidak cukup lagi. Wah wah wah.. kami mulai merasa iri dalam hati. Dan mental kami mulai agak terganggu.
Mengapa kita tidak travel seperti mereka? Semua dengan pesawat, dan semua sudah fixed. (dan bisa belanja banyak!) Katanya kita mau backpacking, ujung-ujungnya kita banyak naik pesawat juga. Sejak dari Penang. Dan sekarang ke Hanoi. Wah gw mulai bertanya-tanya, sebenarnya, apa sih definisi backpacking itu? Apakah kita benar-benar backpacking hanya karena kita membawa tas ransel di belakang punggung? Apa bedanya kita dengan mereka?
Bedanya: untuk mendapatkan flight yang murah, mereka harus booking jauh-jauh hari. Mereka sudah book semua flight itu sejak Januari 2007, dengan segala resiko tidak jadi berangkat. We can’t afford that. Rencananya aja baru muncul sebulan dua bulan yang lalu.
Dari ngobrol dan renungan pribadi, aku pun mengambil kesimpulan. Sebenarnya, apa sih esensi backpacking itu?
1. The cheapest possible. Semuanya harus yang paling murah: transport, akomodasi, makan, dll.
2. Independent. Tidak mengandalkan pertolongan yang memudahkan (yang harus bayar) tetapi perjalanan direncanakan dan diatur sendiri.
3. Well-informed. Karena independent tadi, maka kita pun cukup well informed, mencari-cari sendiri tentang transportasi, hotel, dll. Kami membawa buku Lonely Planet, peta, dan juga print out hasil search di web.
4. Penuh surprise dan fun. Travel seperti kami ini memberikan banyak kejutan dalam perjalanan, banyak yang tidak sesuai dengan rencana. Dan karena travel ramai-ramai dengan teman, maka semua itu menjadi sangat menyenangkan.
Kesimpulannya, mungkin kami enggak full backpacking. Karena tidak punya banyak waktu, banyak pilihan kami ambil bukan berdasarkan harga, tetapi berdasarkan waktu.
Akhirnya, karena kelamaan ngobrol, kami lupa, bahwa setelah check in, masih banyak pintu yang harus dilalui sebelum boarding. Kami baru masuk beberapa saat sebelum boarding. Ketika ingat, kami langsung berlari masuk ke dalam ruang departure yang hanya boleh dimasuki penumpang bertiket. Setelah itu masih harus melewati imigrasi dan pemeriksaan tas. Karena kami membawa tas ke kabin (bukan di bagasi) maka tas harus diperiksa, sesuai dengan aturan tidak boleh membawa cairan dengan kemasan lebih dari 100 ml dan totalnya tidak boleh melebihi 1 liter.
Di antara meja imigrasi dan gate tempat boarding juga ternyata sangat mewah. Banyak sekali toko duty free dan restoran yang bagus-bagus. Semua itu kami nikmati sambil berlari mengejar waktu. Aduh bodohnya. (bukannya masuk dari tadi, malah sibuk ngobrol di luar)
Coming up: The Exotic Hanoi, The Exquisite Halong Bay
Friday, August 31, 2007
Thursday, August 30, 2007
One Night in Bangkok
Kalau hanya punya satu malam di Bangkok, saya usul sebaiknya dihabiskan di Khaosan Road. Jalan yang sudah lama terkenal sebagai area backpacking ini letaknya tidak jauh dari tujuan wisata utama di Bangkok yaitu Grand Palace dan Emerald Budha Temple.
Khaosan Road (Thai: ถนนข้าวสาร) adalah rumah untuk penginapan-penginapan murah. Tempat ini laksana surga bagi mereka yang suka musik, minuman dan keramaian malam. Jalan ini adalah salah satu jalan paling ramai di Bangkok, menjadi rumah bagi pelancong dari seluruh dunia. 
Seorang penulis Thai pernah melukiskan jalan ini sebagai "a short road that has the longest dream in the world." Memang tempat ini menawarkan segala kemungkinan. Tempat ini punya segalanya. Souvenir, handicraft, pakaian, CD dan DVD bajakan, buku bekas, bahkan ijazah dan SIM tembak (hal-hal yang seringkali berguna bagi para backpacker) bisa diperoleh di sini.
Gw sudah lama pernah mendengar tentang kawasan ini. Tetapi pada kunjungan pertama ke Bangkok, gw tinggal di hotel yang agak dekat dengan MRT, sehingga jauh dari Khaosan. Kali ini gw penasaran ingin mencoba kawasan yang sangat terkenal di Bangkok ini. Dan memang cocok dengan budget kami untuk menginap di hotel backpack. Sepertinya sih orang Indonesia jarang yang menginap di kawasan ini. Biasanya sudah booking hotel dari Indonesia dan hotel-hotel di Bangkok tidak terlalu mahal. Dengan harga Rp 300,000 sudah dapat yang cukup lumayan. Hampir sama dengan di Jakarta.
Tetapi, kami mencari yang lebih murah dari itu. Akhirnya kami mendapat sebuah hostel dengan tarif 250 THB per room. (= Rp 70,500) Murah banget ya.. yang bener nih Mei? Bener deh kayaknya catatan gw hahahaha. Satu kamar itu bisa untuk berdua. Mungkin ini seperti hotel-hotel backpack yang murah meriah di Yogya kali ya.
Meskipun murah meriah, justru di hotel ini kami banyak bertemu orang-orang asik. Mostly bule yang linger di Thailand selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Mereka tetangga-tetangga kamar kami. Karena kamar mandinya di luar, ketika mengantre kamar mandi, kami punya kesempatan untuk menyapa dan berbasa-basi.
Yang pertama Inga, perempuan muda dari Holland yang terlihat gugup karena pertama kali backpacking. Dia berkali-kali bilang ”I don’t know” dengan ekspresi pasrah. Ini kali pertamanya dia ke Thailand, dan dia akan bertemu dengan temannya yang akan menjadi teman travelnya, tetapi dia masih ragu dan tidak tahu apa yang akan ditemuinya.
Lalu Gabrielle, wanita Inggris yang baru saja bercerai dan menjual rumahnya untuk jalan-jalan. Rencananya dia akan travelling selama lebih dari satu tahun, menjelajah Asia dan juga Australia dan New Zealand. Menarik mengobrol dengan para petualang seperti ini sambil menemani mereka merokok sambil mengantre kamar mandi.
Guardian Angel
Bagaimana kami bisa menemukan Khaosan Road dari terminal bus Bangkok Southern tempat kami diturunin ketika pertama tiba di Bangkok? Well, that’s another story. Kami belum tahu harus naik bis nomor berapa karena di Lonely Planet tidak ada petunjuk nomor bus. Dan nama daerah di Bangkok sulit sekali dihafal. Di sinilah ada satu lagi pertolongan dari langit. Kami bertemu seorang pria bule yang cute dari Belgia bernama David di terminal bus yang crowded dan memusingkan itu. Kebetulan dia juga hendak ke Khaosan. Dia sudah dua mingguan di Thailand. Langsung deh kita ngekor di belakangnya bagaikan bebek naik bus.
David mengatar kami ke hotel tempat kami tinggal itu. It was a nice hotel, murah-meriah dan di bawahnya ada warnet. Begitu liat warnet, langsung deh gw setuju dengan hotel itu. (Dan sebagai karyawan yang baik, gw langsung menyempatkan membuka PortalHR.com dari sana). Tanpa AC (hanya fan), kamar mandi di luar, kasur yang sekeras batu, tidak ada fasilitas lain. Untunglah kamar mandinya cukup bersih, sehingga kita betah kok. Lagi pula kita hanya satu malam.
Dari Khaosan cukup mudah untuk ke mana-mana. Kita bisa menggunakan angkutan tuk-tuk, taksi, atau bus. Karena ini daerah turis, cukup banyak juga tuk-tuk atau taksi yang nakal, yang nawar-nawarin paket wisata, dll. Kami tiba di Bangkok pada pagi hari, check in, istirahat sebentar, mandi! (setelah seharian di perjalanan), baru deh kita jalan-jalan. Ke Grand Palace, Wat Arun, pasar buah apa tuh namanya (kita makan durian Bangkok yang segede kepalan tangan), dan Bobae Tower (tempat belanja grosir kayak mangga dua gitu). 
Malamnya, we decided to jalan-jalan di Khaosan saja. Karena Khaosan sendiri cukup menarik. Banyak toko-toko antik, lampu warna-warni, jajanan di pinggir jalan, musik yang berdentum-dentum keluar dari pub-pub dan bar-bar yang berserakan. Dengan tempat-tempat duduk di luar, orang-orang minum bir dan minuman lainnya sambil menikmati suasana keramaian Khaosan. Minum bir di Khaosan katanya adalah hal yang tidak boleh dilewatkan ketika berkunjung ke Bangkok, seperti halnya mengunjungi kebon binatang.
Maka aku pun minum di sana. Segelas margarita kupilih untuk merilekskan badan agar tidur dengan lebih dalam, kubeli hanya dengan 120 bath (=sekitar Rp 30 ribuan). Mau cari di mana harga segini di Jakarta? Bayangkan murahnya bir di bar-bar itu. Gw lupa, tapi pokoknya murah deh. Apalagi bagi orang-orang bule. Oya, mereka minum bir bukan lagi dengan gelas, tapi dengan ember!!!! Embernya gak segede-gede buat nyuci sih, tapi baru pertama kali gw liat orang minum bir pake ember.
Meski hanya satu malam di Bangkok, gw puas sudah mengunjungi Khaosan dan beberapa tempat penting. Ketika tiba di Bangkok, kami sudah sibuk merencanakan destination berikutnya. Awalnya mau ke Laos, tetapi karena tidak ada transportasi yang convenience, dan juga karena sempitnya waktu, akhirnya kami mengubah rute ke Hanoi. Pilihan transportasi darat pun tidak mudah, karena itu terpaksa kami naik pesawat lagi. Kami membeli tiket pesawat Air Asia Bangkok – Hanoi dengan harga sekitar Rp 1 juta lebih.
One night in Bangkok and the world's your oyster
The bars are temples but the pearls ain't free
You'll find a god in every golden cloister
A little flesh, a little history
I can feel an angel sliding up to me
One night in Bangkok makes a hard man humble
Not much between despair and ecstasy
One night in Bangkok and the tough guys tumble
Can't be too careful with your company
I can feel the devil walking next to me
(Frankie Goes To Hollywood)
Coming up: Sebenarnya, apa sih esensi Backpacking?
Wednesday, August 29, 2007
Pagi di Indonesia, Siang di Malaysia, Malam di Thailand
Tanggal 17 Agustus, di saat teman-teman di Jakarta masih pada terlelap di hari yang menyenangkan karena tidak perlu bekerja, gw sudah menemukan diri gw mengantri di depan pintu terminal A bandara Soekarno-Hatta. Jangan kaget, pukul 5 pagi di bandara suasananya sudah sangat heboh. Apalagi long weekend. Mau masuk ke dalam terminalnya saja sudah mengantri. Gw sendiri terpesona dengan pemandangan pagi itu.
Pukul 06.15 kami terbang menuju Medan sesuai dengan rencana. Sekitar jam 9 pagi tiba di bandara Polonia Medan. Dari sana kami diantar untuk mencari tiket ferry untuk menyeberang ke Pulau Penang, Malaysia. Sesampai di salah satu travel agent, sangat terkejutlah kami, karena ternyata hari Jumat tidak ada ferry. Sama sekali tidak ada ferry yang berangkat ke Penang melalui pelabuhan Belawan. Wah, untung tidak langsung straight ke Belawan dari bandara tadi.
Karena masih sulit menerima kenyataan, kami bertanya lagi kepada beberapa travel agent yang tidak jauh dari sana. Bahkan ke agen resmi Pelni segala. Dan memang benar, tidak ada ferry pada hari Senin dan Jumat. Padahal di pamflet-pamflet yang tertempel di dinding travel agent, berbunyi, Setiap hari jam 11.00 Ferry ke Penang. Itu sebabnya teman kami Jolie yang sudah mengecek informasi sebelumnya yakin bahwa setiap hari ada ferry. Ternyata sudah 2 tahun terakhir keadaannya berubah. Hiks.
Plan B yang diputuskan secara mendadak adalah naik pesawat. Ini pasti akan membengkakkan biaya, tapi apa boleh buat, daripada membuang satu hari, harus menginap di Medan. Konyol banget. Kenapa gak berangkatnya hari Sabtu saja gitu lho.
Ketika kami menanyakan tiket pesawat, amat terkejutlah kami, ternyata tidak semudah yang kami bayangkan. Beberapa travel agent tidak mau menjual tiket one-way, karena takut bermasalah di imigrasi. Medan-Penang ternyata adalah jalur hot TKI, sehingga kemungkinan untuk masuknya TKI secara ilegal pun besar, sehingga imigrasinya diperketat. Mulai dari pembelian tiket di airline saja sudah mulai diawasi.
Kami tidak gentar. Masa kita mau dikira TKI? Wah... sayang kami tidak punya apa-apa untuk menunjukkan bukti bahwa kami tidak akan stay di Penang (untuk bekerja ilegal). Tidak punya tiket pulang ke Indonesia, tidak punya tiket untuk trip selanjutnya, tidak bawa buku tabungan yang menjelaskan kekayaan kami, tidak bawa kartu identitas dari kantor, tidak bawa surat keterangan dari kantor seperti yang biasanya dipersyaratkan untuk visa, dll. Hanya bermodal secarik kertas yang menerangkan itenary yang sudah kami planning-kan dalam format excel. Dan dengan passport beberapa dari kami yagn sudah banyak capnya. Hanya dua di antara kami yang belum punya cap apa-apa di passport, dan biasanya itu akan lebih sulit.
Dengan bermodalkan itu kami meyakinkan mulai dari travel agent, petugas airline, sampai petugas imigrasi Indonesia. Akhirnya ketemu satu travel agent yang cerdas, yang mau menjual tiket pada kami. Gile lo, enam tiket... lumayan bok. Travel agent yang lain tidak berani mengambil resiko, karena sering bermasalah. Tapi si agent ini memberikan ide untuk membeli tiket ferry dari Singapore ke batam, setelah melihat itenary kami, bahwa kami akan pulang lewat Singapore. Harga tiket ferry tersebut 95.000, kami pikir ya udah lah kalau pun tidak terpakai, hanya untuk dummy untuk meyakinkan beberapa pintu yang harus kami lalui.
Pucat
Pintu pertama: ketika check in di airline (Lion Air). Ternyata tidak mudah. Kami harus meyakinkan berulang-ulang soal itenary tersebut, lalu petugasnya tidak berani memutuskan sehingga dia harus bertanya ke atasannya dll. Pada waktu menunggu, terus terang saja gw udah pucat. Selain karena tiket pesawat lebih mahal daripada tiket ferry sesuai rencana sebelumnya, kita juga harus membayar fiskal Rp 1.000.000 (Kalau naik ferry hanya setengahnya). Gimana kalau kita gak dikasih masuk oleh imigrasi, semua biaya itu hangus deh.
Syukurlah, kita berhasil diloloskan. Dari airline, trus imigrasi Indonesia, lolos. Next stop adalah imigrasi Malaysia di Penang. Sambil di dalam pesawat dengan lama penerbangan hanya 50 menit itu gw berdoa, mudah-mudahan imigrasi Malaysia gak reseh.
Sesampai di bandara Penang, kami yang terakhir tiba di meja imigrasi. Bukannya apa, biasa cewek-cewek, pake ke toilet dulu begitu turun dari pesawat. Belum lagi pada foto-foto dulu. Ya udah ketika tiba di meja imigrasi, udah gak ada antrian. Ada seorang bapak-bapak yang mengenakan seragam petugas langsung menyamperi kami. “Dari mana?” tanyanya. “Dari Jakarta,” jawab kami.
“Oh, mau naik gunung ya?” tanya bapak yang ramah itu karena melihat penampilan kami dengan ransel-ransel seperti mau naik gunung saja. Hehehe, kami tertawa saja. Lalu kami menceritakan bahwa kami berencana untuk naik kereta dari Butterworth (Penang) ke Bangkok. “Wah hebat,” kata bapak yang baik itu, lalu dia menunjukkan kepada kami agar mengisi Arrival Card dan diantar ke meja imigrasi. Semuanya ternyata sama sekali gak ada masalah tuh. Penang menyambut kami dengan sangat hangat. Rupanya orang Indonesia saja yang nervous menjaga agar bangsanya jangan ilegal di luar negeri kali ya.
Next Destination: Thailand
Dengan berbahagia kami berhamburan keluar dari bandara Penang menuju udara bebas. Setelah bertanya-tanya, kami berjalan menuju halte bus. Setelah menunggu agak lama, kami mulai ditawari taksi, karena naik taksi lebih cepat. Sebab dari sana menuju Butterworth itu harus menyeberangi sebuah selat naik ferry. Kalau naik bus, kita jalannya memutar, lewat jembatan, sehingga agak jauh. Dan macet ternyata. Kalau naik taksi, hanya diantar sampai ke tempat naik ferry, kita nyebrang naik ferry sendiri (which is GRATIS !) dan setelah turun ferry langsung tiba di terminal bus yang bersebelahan dengan stasiun kereta Butterworth.
Hebat kan? Dari Pulau Penang menyeberang ke mainland Malaysia, gratis! Tetapi entah kenapa arah sebaliknya bayar, tetapi tidak banyak. Pada saat di Hongkong angkutan favorit gw adalah Star Ferry yang menyeberang dari Hongkong Island ke Kowloon pp. Tarifnya hanya setara dengan 2.000 rupiah uang kita. Nah ternyata Malaysia lebih hebat lagi. Gratis bok. Untuk perjalanan sekitar 15 menit. 
Sayang sekali kami tidak singgah di Penang yang menyambut kami dengan ramah. Well, maybe next time pak. Kali ini kita tidak punya waktu untuk singgah di pulau yang indah ini. Orang-orangnya juga ramah dan baik. Sopir taksi yang mengantar kami dengan ramah bercerita tentang Penang. Tentang kawasan-kawasan yang dihuni orang Indonesia di sana, kebanyakan para pekerja kelang (pabrik).
Tiba di stasiun kereta Butterworth, another surprise menanti. Kereta ke Bangkok sudah berangkat. Beberapa jam yang lalu. Itu berarti kita harus menunggu besok untuk kereta berikutnya.
Gubrak. Langsung pada lesu deh kita, terduduk dengan bingung di kursi yang disediakan di stasiun kecil itu. Sambil mencari-cari pilihan lain. Kereta ke Hat yai (Thailand) pun sudah berangkat juga. Tidak ada lagi kereta ke Thailand. Apakah kita harus menginap di Butterworth?
Sambil menunggu, Jolie yang paling rajin itu jalan-jalan keluar bersama mbak Uchi. Siapa tahu ada jalan keluarnya di luar sana. Gw dan yang lain kelelahan. Mau pipis pun susah karena harus bayar. Kita gak punya uang Ringgit Malaysia pecahan kecil. “Pake rupiah bisa gak pak?” Ya enggakkkkk lahhhh :P
Agak lama kemudian, kembalilah si Jolie dan Uchi dengan sebuah solusi. Naik taksi ke Hat Yai. Biayanya kalau gak salah 250 RM per taksi. Kita memakai 2 taksi. Dari Hat Yai katanya banyak bus yang menuju Bangkok. Ya sudah, setidaknya kita sudah di Thailand by tonight. Begitu pikir kami. We don’t want to be stuck in this Malaysia town we don’t really know about.
Perjalanan ke Hat Yai kira-kira perlu waktu 3,5 jam. Kami berangkat sekitar jam 17.00. Perjalanan ini ternyata sangat menarik dan kami sangat terharu dengan kebaikan sopir taksi kami. Mereka mendapat informasi bahwa bus terakhir dari Hat Yai ke Bangkok itu pukul 20.00. Berarti kami harus ngebut. Soalnya, karena lintas negara, it means kita harus berhenti di border untuk prosedur imigrasi.
Alhasil taksi kita ngebut ala film TAXI --- cool. Sopir taksi gw sambil ngebut sambil marah-marah. ”Kenapa sih kalian pilih program seperti ini. Kalian ini nekat banget tau gak sih. Gimana kalau kamu ketinggalan bus malam ini. Kan repot harus nginap di Hat Yai.”
Lucu deh. Kok dia yang stress. Padahal kita tenang-tenang aja. Kita aja gak tahu jadwal bus. Dia yang ngasih tahu kita dan dia yang membawa kita ke sana dan make sure we can make it on time. Bahkan sopir taksi yang satunya lagi lebih gila. Lampu merah aja dilabrak. Kami benar-benar terkesan dengan kebaikan orang-orang Malaysia dan Thailand ini. Mereka adalah salah satu dari sekian malaikat yang membantu dalam perjalanan kami.
Sewaktu di border aja, mereka yang membantu kami, dengan menunjukkan tempatnya dan menyuruh kami buru-buru dan mempersiapkan uang pas. Tidak ada kesulitan melewati border Malaysia-Thailand ini bila menyisipkan uang 20 THB. Aneh juga ya.
Akhirnya kita tiba di terminal bus tepat waktu. Tidak terlalu tepat actually. Salah satu sopir taksi kami sudah mengontak temannya di terminal agar menunggu kami. Masih ada enam penumpang lagi, lumayan kan. Singkat cerita, kita bisa berangkat ke Bangkok malam itu. Dengan tariff 890 THB, perjalanan 12 jam, kami tiba di Bangkok.
Tanggal 17 Agustus ini adalah salah satu hari yang paling seru dalam hidup kami. Pagi masih di Indonesia, siangnya sudah di Malaysia, dan malam di Thailand. Saking serunya sampai kami tidak sempat makan (yang serius). Hanya ngemil. Dalam perjalanan dengan bus, pukul 02.00 pagi, tiba-tiba kami dibangunkan karena bus berhenti di tempat pemberhentian bus (untuk makan).
Hah? Makan jam 2 pagi? Sahur kali? Tapi itu pas banget dengan gw karena gw laper banget. Tidur gak nyenyak dari tadi di bus. Gw dengan penuh semangat turun dan memesan bubur Thailand favorit gw.
Coming up: One Night in Bangkok
Petualangan Bhramp-moi : Penang – Bangkok – Hanoi – Saigon – Phnom Penh - Siem Reap – Singapore
Akhirnya, baru bisa cerita-cerita tentang perjalananku sekarang. Setelah dua hari menginjakkan kaki di dunia nyata, dengan pikiran dan nyawa masih entah di mana di antara Penang dan Siem Reap, rasanya aku harus menulis. Kalau enggak ditulis, kayaknya kepala ini penuh. Ada perasaan … apa ya? Kayak belum rampung, belum selesai, belum orgasme; sehingga belum siap untuk menghadapi dunia pekerjaan.
Hari Senin masuk-masuk kantor langsung aku ditugasin ke Bandung, disuruh datang pagi-pagi pula. Tetapi untunglah aku bisa tidak menyanggupi hal itu. Pasalnya, tiba di Jakarta saja hari Minggunya sudah lewat jam 22.00. Aku bahkan belum sempat meng-unpack tas ranselku. Karena sudah kelelahan, aku langsung tertidur.
Besoknya aku tiba di kantor sekitar jam 10-an, langsung berangkat ke Bandung. Di Bandung acaranya molor dan kebanyakan menunggu, sehingga kami baru pulang dari Bandung pukul 18.30. Alhasil, sampai di Jakarta (kantor) jam 21.00 dan sampai di rumahku pukul 22.00. Sama seperti malam sebelumnya, aku langsung tertidur setelah ganti baju. Bahkan enggak mandi dan enggak gosok gigi.
Pagi ini, hari Selasa, aku meng-excuse diriku sendiri untuk datang agak siang, untuk mengurusi tas ranselku. Baju-baju kotor dan lain-lain. Di kantor pada saat makan siang mulai sibuk bercerita kepada teman-teman kantor. They already know about my trip. Aku bukan tipe yang bisa berbohong, bersandiwara, atau menahan cerita. Apalagi untuk kantorku yang cuma ada beberapa orang, sulit mengatakan bahwa aku tidak pergi ke mana-mana, hanya mudik misalnya.
Mungkin karena aku bukan seorang pencerita yang baik, dan juga mungkin kalau diceritakan secara lisan jadinya kurang runut, aku lebih suka bercerita lewat tulisan. Teman-teman kantor pun rata-rata sudah masuk dalam budaya blogging, di mana semua harus di-share lewat blog. ”Tulis dong ceritanya,” begitu kata mereka, instead of ”Ceritain dong...” Hehehe
Cerita petualangan ini aku beri judul Petualangan Bhramp-moi (baca: bram mui). Bhramp-moi dalam bahasa Cambodia berarti enam. Yup, kami berenam dalam trip ini. Terdiri dari “Jolie” mami kami yang mendapatkan julukan terhormat itu dalam trip ini, mba Elly, Mba Uchi, Sitha, Renny, dan gw sendiri. Enam kemudian menjadi salah satu kosa kata yang paling penting di negara-negara yang kami kunjungi. Setiap kali membayar makanan, akan lebih memudahkan bila kita menggunakan bahasa lokal karena kami selalu makan di warung pinggir jalan, bukan restoran besar, sehingga penjualnya tidak bisa berbahasa Inggris. “Sau, two dollars,” misalnya, ketika makan mie (pho hoa) di pinggir jalan Saigon. Artinya, untuk berenam, 2 dollar USD.
Bramui, i miss them already. Selama 10 hari kami hidup bersama; selama 10 hari hanya mereka yang aku punya. Apa yang kami punya hanyalah kami berenam, bersama langit yang biru dan matahari terik menyengat di sepanjang perjalanan kami, dengan beberapa helai uang US dollar, beberapa helai uang Thai Bath dan beberapa helai Ringgit Malaysia yang menjadi modal perjalanan kami. Segala yang ada di hadapan kami masih tidak jelas terbayang. Segala yang sudah kami perhitungkan bisa saja meleset. Kapal tidak ada, jadwal berubah, harga berubah, tidak ada seat, tidak dapat hotel murah, tidak tahu di mana tempat naik bus, dll. Belum lagi resiko kehabisan uang dan tidak bisa pulang. Banyak resiko, tetapi kami menjadi lebih santai karena kami tidak sendiri. We have each other. Kami mempunyai teman yang akan saling membantu dan mendukung. Bahkan orang-orang yang kami temui dalam perjalanan adalah our helper. Jangan-jangan itulah intinya melakukan perjalanan yang ”pengennya sih” bisa disebut backpacking ini. Penuh surprise dan mengandalkan pertolongan yang ditemui di jalanan.
Sekarang, setelah semuanya berlalu dan ending-nya sudah ketahuan, rasanya tidak ada yang terlalu hebat. Tetapi ketika melalui hari demi hari itu, rasanya seru sekali dengan tantangan-tantangan baru yang akan dihadapi keesokan harinya. Setiap tiba di suatu kota, kita harus bersibuk lagi mencari transportasi untuk destination berikutnya. Begitulah sampai destination terakhir. Tapi kami enjoy aja sepanjang jalan, mungkin justru itu juga yang dicari dalam backpacking.
Kini kami berenam mempunyai sebagian sejarah yang sama (shared history). Perjalanan ini mungkin akan menjadi salah satu perjalanan paling berkesan dalam hidup kami masing-masing. Cerita yang sama ini akan mengikat kami dengan sendirinya, meskipun sebelumnya kami bukan teman dekat. Beberapa bahkan baru kenal pada waktu memulai perjalanan. Dan setiap saat bila diperlukan kami tidak akan malu-malu menceritakannya meskipun kami bagaikan gembel di negeri orang. Kami akan bangga bisa melakukan perjalanan hingga Vietnam, Cambodia secara independent. Apalagi sudah pernah mencicipi naik kereta Hanoi-Saigon selama 32 jam!
Biar gampang, aku menceritakannya secara kronologis aja kali ya... Biar gak bosen, aku tidak akan upload semua sekaligus. Soalnya capek juga nulisnya nih. Sebelum ini sudah gw upload dua tulisan yang di luar kronologi. Yang lain menyusul ya... Coming up (lagi ditulis): Pagi di Indonesia, Siang di Malaysia, Malam di Thailand
Saatnya Detox
Kayaknya gw perlu detox deh. Setelah travel ke negara-negara dunia ketiga, dan khususnya Indochina, I feel like filling my body with rubbish. Nyampah di dalam tubuh gw sendiri. Pasalnya, karena kita sering makan di warung pinggir jalan, beberapa item sampah yang berkelimpahan di bawah ini, gw biarkan masuk dengan sukarela ke dalam tubuh gw:
1. MSG : penggunaan MSG di warung-warung pinggir jalan di Thailand, Vietnam, dan Cambodia, sama parahnya atau bahkan lebih parah daripada yang kita jumpai di warung-warung pinggir jalan di Jakarta. Misalnya: mie ayam, mi tek tek, dll. Di Jakarta saja gw udah sangat mengurangi makanan kayak gini, tapi karena backpacking, dengan senang hati kami mencobai makanan pinggir jalan. Dan memang lebih seru makan pinggir jalan daripada di restoran. Kalau di restoran jadinya bukan makan makanan rakyat yang sesungguhnya dong. Trus kalau kita mau bilang jangan pakai micin.. susah bow pakai bahasa lokalnya... Udah bisa pesen aja dah bagus :P
2. Pork : Nah ini buat teman-teman moslem, emang agak repot kalau travel ke negara-negara di atas. Karena pork berkelimpahan dan bisa dikatakan lauk rakyat. Yang lucu ketika teman-temanku yang muslim hendak mengatakan: ”Jangan pakai pork” ketika makan di pinggir jalan. Susahnya minta ampun karena mereka tidak mengerti ”pork” atau ”chicken.” Alhasil, harus pakai bahasa tubuh deh... Nah kebayang gak sih kalau harus menirukan gaya pig atau gaya chicken dengan bahasa tubuh... Jadinya komedi yang terus-menerus di sepanjang jalan deh...
3. Alcohol (terutama: bir) : Beberapa negara yang gw kunjungi adalah surga buat penggemar alkohol. Point 2 dan 3 tidak mudah diperoleh di Indonesia yang merupakan negara dengan penduduk mayoritas muslim. Kalaupun ada, harganya mahal, khususnya minuman beralkohol. Dengan pajak yang berat, pemerintah berusaha mengurangi perilaku mabok di kalangan warganya. Tidak demikian di Thailand, Vietnam dan Cambodia. Di Thailand, khususnya di area Khaosan Road, bisa ditemui bar-bar tempat kita bisa minum bir lokal maupun internasional seperti Heineken dengan harga sangat terjangkau. Sayang deh kalau gak nyobain. Di Vietnam banyak sekali warung-warung di pinggir jalan yang menyediakan bir. Dengan kursi-kursi plastik yang diletakkan di luar rumah, jadilah sebuah warung minum bir yang merupakan pemandangan yang lazim sepanjang jalan yang gw lalui. Sore-sore pukul 4 gitu terlihat banyak lelaki nongkrong di sana sambil minum bir. Kebanyakan bertelanjang dada, karena udara yang sangat panas. Di Cambodia, bir dan wine dan vodka dan segala jenis minuman serupa dijual dengan mudahnya di toko-toko convenience seperti Indomaret di Jakarta. Harganya pun sangat terjangkau. Bayangkan bisa membeli Whiskey dengan harga 1 USD. Huh! Real heaven untuk pemabok.
Tetapi karena tubuh gw tidak terbiasa dengan filling seperti itu, gw khawatir akan ada pengaruhnya deh. Makanya harus mulai detox nih...
Menjadi Hua Ren
Selain tissue basah, kalkulator, buku Lonely Planet, dan sun block, ternyata bahasa Mandarin juga adalah salah satu hal yang surprisingly sangat membantu dalam perjalanan ini. Di negara-negara Indochina yang gw kunjungi, yaitu Vietnam dan Cambodia, ternyata cukup mudah ditemui orang-orang keturunan China. Dan untungnya juga gw cukup gampang dikenali sebagai Hua ren (orang China).
Di Hanoi, gw ditegor seorang pria berwajah Chinese. Langsung dengan bahasa Mandarin. Untung aja gw bisa jawab. Meskipun bahasa Mandarin yang gw kuasai mungkin hanya sekitar 20% dari total bahasa lisan Mandarin, tetapi ternyata 20% itu cukup untuk percakapan basa-basi dengan orang yang baru kita kenal. Pria itu ternyata seorang engineer China, bekerja di Huawei Telecom, yang sedang ditugaskan di Hanoi. Dari situlah orang-orang hotel pun tahu bahwa aku bisa diajak berbahasa Mandarin. Mulai deh dari sana bisa ngobrol lebih akrab dengan bahasa yang lebih biasa mereka gunakan daripada bahasa Inggris.
Gw tanya kepada pegawai hotel itu, di mana kamu belajar mandarin? Dia agak aneh dengan pertanyaan gw. ”Wo shi hua ren,” katanya. Saya orang China kok, maksudnya. Ya bisa lah bahasa mandarin. Oh iya ya... ternyata gw aja yang aneh. Orang China tapi tidak bisa berbahasa China. Kayaknya di Singapore, Malaysia, Vietnam, Cambodia, orang-orang keturunan China otomatis bisa berbahasa China karena bahasa tersebut digunakan di rumahnya dan juga mereka sekolah bahasa China.
Di Singapore, begitu melihat wajah gw, orang-orang langsung dengan otomatis mengajak berbahasa Mandarin lho. Singapore memang kayaknya gak punya bahasa nasional kali ya, English ok, Chinese ok, Melayu ok, India juga ok. Budayanya pun campur-campur.
Itulah kenapa gw sangat bersyukur sempat belajar Mandarin, meskipun hanya setahun, dan di Taipei pula (bukan di China yang lebih banyak terpakai). Minimal sebagai seorang hua ren gw bisa masuk dalam pergaulan sesama hua ren di dunia internasional. Anak-anak hua qiao (peranakan China) yang besar di era Soeharto seperti gw memang kurang menguntungkan dari sisi ini. Ini bagi gw bukan masalah nasionalisme, tapi masalah skill bahasa yang disayangkan hehehe. Anak-anak sekarang sudah bisa belajar bahasa Mandarin di sekolah. Gw sering lihat anak-anak hua qiao berbahasa Mandarin dengan orangtuanya. Mungkin some day kita akan seperti di Singapore kali ya...
Thursday, August 16, 2007
Nobar The Simpson
Kemarin jam 16.30 (yang biasanya masih dianggap sebagai jam kerja di kantor kami meskipun sudah banyak orang meninggalkan kantor pada jam segitu), kami bedol kantor dan menuju Setiabudi One. Entah terkena angin apa tiba-tiba saja bos kami yang baik hati itu ingin mengajak semua anak kantor nobar (nonton bareng) The Simpson Movie.
Meskipun aku sudah pernah nonton, aku tidak bisa menolak acara yang berlandaskan kebersamaan itu. Dipaksa dengan ancaman "Kalau gak ikut, potong gaji" siapa yang bisa menolak?
Kami membeli tiket sejak pukul 12 siang karena takut tidak mendapat tempat duduk yang berbarengan dalam rombongan besar (30 orang). Apalagi katanya Setiabudi One ramai banget karena sekarang hari Senin s.d. Jumat tiket menonton hanya Rp 15.000.
Ternyata, sesampai di bioskop menjelang jam pertunjukannya, isi bioskop tidak lebih dari orang kantor kami dan hanya beberapa orang lain saja (kalau tidak salah hanya 6 orang). Hal yang sama juga terjadi ketika aku nonton yang pertama kali di Kelapa Gading dua minggu yang lalu.
Pada waktu itu, saya sengaja datang pagi-pagi juga karena takut kehabisan. Sebab film itu sudah lama saya tunggu-tunggu. The Simpson adalah acara TV favorit saya dan sudah lama sekali tidak diputar di TV Indonesia. Tetapi, ternyata film itu tidak ramai tuh. Di dalam bioskop pun hanya beberapa orang saja. Dan tidak lama setelah itu pun film the Simpson tidak lagi diputar di Kelapa Gading.
Aku heran, kok animo pasar Indonesia begitu kecil terhadap The Simpson? Pada waktu nonton di Kelapa Gading pun perasaan aku sendiri tertawa terus, banyak penonton yang lain tidak terdengar tawanya. Nah, kalau nonton bareng teman-teman kantor lebih seru, lebih ramai.
Karena itu, ketika Kompas menurunkan artikel tentang The Simpson Movie hari minggu kemarin, saya ikut senang. Secara tak langsung pasti tulisan itu akan mengangkat penjualan the Simpson. Saya curiga juga artikel itu yang jangan-jangan mempengaruhi bos kami untuk mengajak kami nonton. Film yang laku keras di AS itu ternyata tidak terlalu laku di sini. Kenapa ya?
Tuesday, August 14, 2007
Planning a Backpacking Trip
Tanggal 17 Agustus ini, memanfaatkan liburan hari Kemerdekaan RI di hari Jumat menjelang akhir pekan, aku akan mengadakan trip backpacking pertamaku yang kuanggap agak-agak gila. Mengapa gila? Waktu yang kumiliki hanya 10 hari, kami akan mengunjungi---atau lebih tepat lagi melewati---enam negara di ASEAN.
Serunya perjalanan ini dimulai sejak masa persiapannya. Tidak mudah mempersiapkan perjalanan backpack yang totally diatur oleh kita sendiri, tanpa bantuan travel agent, ataupun bantuan teman yang ada di sana. Satu-satunya bantuan yang ada hanyalah dari paman Google dan bibi Lonely Planet.
Adalah temanku Nuri yang punya ide melakukan perjalanan gila ini. Rencana globalnya adalah keliling ASEAN dengan murah meriah. Perjalanan dimulai dari Medan. Dari Medan naik ferry menuju Penang, yang merupakan rute yang biasa digunakan oleh TKI kita dari Aceh dan Medan yang akan bekerja di kota-kota di Malaysia.
Dari Penang perjalanan dilanjutkan menuju Bangkok menumpang bus. Dari Bangkok lanjut ke Laos (Vientiane), menggunakan transportasi darat. Setelah itu lanjut ke Vietnam, Cambodia, lalu pulang melalui Singapore, naik ferry ke Batam, dan kemudian pesawat ke Jakarta.
Pada waktu Nuri mengajak aku, aku langsung tertarik. Biaya diperkirakan 8 juta rupiah, dari hitung-hitungan kasar, dan di satu tempat kita bisa punya waktu 2 hari untuk tour. Dari sana kita pun mulai gerilya mencari tim yang kami targetkan maksimal 5 orang. 5 orang adalah angka yang optimal karena kalau perlu naik taksi, hanya perlu 1 taksi.
Ternyata, tidak mudah mencari 3 orang lain itu selain kami berdua. Kendalanya banyak. Tidak mudah mencari teman yang punya uang 10 juta rupiah, dan juga tidak mudah mencari teman yang punya waktu bepergian lebih dari 1 minggu. Pada awalnya ditargetkan 2 minggu. Akhirnya, baru belum lama ini kami mendapatkan 4 orang lagi, jadi total 6 orang dalam tim, setelah kami agree untuk mengurangi waktu perjalanan menjadi hanya hingga tanggal 26. Itu berarti, buat kami pekerja kantoran, hanya perlu mengambil cuti 1 minggu (20-24 Agustus).
Langkah selanjutnya setelah mendapatkan tim adalah merencanakan detil perjalanan. Nah ini yang ribet. Saya mengakui teman-teman dalam tim ini hebat-hebat, para pencari informasi yang piawai, pengguna-pengguna internet yang handal. Mereka bisa menemukan banyak informasi penting: jadwal kereta, bus, harga, hotel murah (backpack) di tempat-tempat tujuan, everything you need to know. Well, almost everything.
Kami mengadakan meeting 2 kali saja, dan kedua kalinya sangat efektif. Hasil meeting itu adalah itenary yang cukup fixed. Kami sudah tahu harus membawa uang berapa, dalam currency apa, foto, dll. Hari ini semua persiapanku sudah selesai. Dimulai dari membeli tas pinggang yang saya anggap lebih memudahkan, obat-obatan dan peralatan mandi, dan keperluan lainnya yang perlu dibawa. Sekian US Dollar untuk beberapa negara, sekian Thailand Bath, dan sekian Ringgit Malaysia. Untuk Cambodia dan Laos, meskipun masih ASEAN, ternyata perlu visa. Kami harap visa bisa didapatkan on arrival, jadi tidak perlu disiapkan dari sini. Kita hanya perlu menyiapkan foto ukuran 4 X 6.
Persiapan yang lain berhubungan dengan jaga-jaga. Kami harus mengumpulkan contact person di Indonesia in case terjadi apa-apa. Kami juga scan passport in case terjadi apa-apa. Selain itu menghubungi provider sellular untuk memastikan sudah bisa international roaming. Dan, satu-satunya tiket yang kami persiapkan jauh-jauh hari adalah tiket Jakarta-Medan saja, menggunakan Air Asia.
Kami harap semua sesuai dengan yang sudah disiapkan dan kami akan dilindungi Tuhan dalam perjalanan yang cukup beresiko ini. Misalnya, menumpang bus dan kereta melewati perbatasan negara-negara kecil. Dan juga, Tuhan memberi kami kekuatan melakukan perjalanan yang saya bilang agak gila di awal tadi. Mengapa agak gila, karena setelah diplanning-kan dengan detil, ternyata kami hanya punya waktu satu hari untuk satu tempat. Kebanyakan waktu habis di jalan. Saya khawatir kami hanya akan membuang uang dan tenaga sehingga yang didapat hanya capek doang dan tidak bisa menikmati.
Meskipun kami sudah sangat membatasi diri, misalnya: transportasi hanya boleh lewat darat, tidak boleh naik pesawat internasional, lalu hanya boleh menginap di hotel backpack dengan tarif di bawah 10 US dollar per malam, tetap saja budget membengkak hingga 10 juta rupiah. Itulah yang membuat saya khawatir, kami malah boros dengan melakukan perjalanan ini. Well, kita lihat saja nanti bagaimana kelanjutannya. Yang jelas paspor akan penuh dengan cap dari masing-masing negara.
I’ll keep you updated in this blog.
Para Pengundang yang Tidak Rela
Bagaimana rasanya kalau Anda diundang ke suatu tempat.. terus sesampai di sana pintunya tertutup. Boro-boro Anda disambut, malah Anda disuruh kembali lagi untuk mengambil kunci atau kartu pass dll agar bisa masuk.
Itulah yang saya rasakan ketika mengklik beberapa iklan yang saya anggap menarik beberapa hari yang lalu. Baru dalam satu hari browsing, sudah ketemu 3 pengundang yang tidak rela itu. Pertama, iklan Toyota Ecology yang saya anggap menarik di Detik. Saya klik lah.. dan apa yang saya dapat... adalah halaman berikut ini.
Lalu ketika saya membuka Kompas.co.id dan penasaran dengan iklan Awas Kecolongan yang sudah lama heboh itu, eh saya malah ditolak. "Anda tidak boleh masuk karena Anda tidak memakai dress code yang pantas." Seolah-olah begitu. Berikut ini halaman yang tampil.
Berapa banyak orang yang mau mendownload aplikasi tertentu untuk melihat suatu content yang sifatnya promosi? Content tersebut adalah content yang di-drive oleh pemilik brand, bukan oleh user. Ingat lho, user tidak butuh. Anda yang butuh user untuk melihat. Makanya Anda pasang iklan mahal-mahal untuk mengundang orang datang. Ketika orang sudah susah-susah datang.. (hanya berapa persen dari orang yang view iklan banner itu melakukan klik), eh apa yang didapatnya...
Itulah.. saya tidak habis pikir...
Begitu membuka koran kompas, saya ketemu iklan yang sangat menarik. Langsung saya klik karena kebetulan lagi online. (berapa banyak orang yang bisa online langsung pada hari minggu ketika membaca koran? Tidak banyak...)
Dan berapa banyak orang yang mau download aplikasi tertentu. Selain memberatkan bandwidth, dilarang IT, download takut membawa virus dll, orang tidak mau membuang waktu untuk sesuatu yang di-drive oleh company. They don't need it dan they don't seek for it.
Unless dia seorang designer, atau dia seorang pengamat IT atau pengamat iklan, yang berkepentingan untuk melihat iklan tersebut demi pekerjaan, saya rasa orang tidak akan melakukan segala kerepotan hanya karena penasaran. 
Thursday, August 09, 2007
A Beautiful Atjeh Morning
This is the second time I've been to Aceh. Aceh now, is no longer about tsunami. Tsunami no longer heard in Aceh. No longer smelled. No longer seen.
There's so many reasons to love Aceh. Why I love to be back to Aceh, I'd tried to find the reasons.
Aceh is a real beautiful land. See the picture below. Hopefully you can see what I see and feel what I feel. If you land in Jakarta for instance, you could not see a breath-taking view like this. Mountanous and very-green.
Aceh now is about this:
Beautiful morning spent in one of the nice hotels in Banda Aceh. Coffee, newspaper, and nice meal. The hotel is new, beautiful, simple, nice, and warm. The service is also excellent, not like other small cities standard of services.
Aceh is real serious about their development. People are working hard. And picture below showing Aceh government is doing training in one of the tenth they used as office.
