Wednesday, November 04, 2009

Black Swan dalam Lonely Planet Story



Once while traveling across the sky, this lonely planet caught my eye,” demikian Tony Wheeler bernyanyi pada suatu hari. Tanpa disadarinya, dia telah salah menyanyikan lirik lagu Space Captain (Joe Cocker) yang kemudian dikoreksi oleh Maureen, istrinya.

“Bukan begitu liriknya,” kata Maureen, “Yang benar adalah lovely planet.” Namun, meskipun mengakui kekeliruannya, Tony tetap merasa lonely planet kedengarannya lebih bagus. Dan begitulah cara nama Lonely Planet ditemukan.

Meskipun terdengar tidak serius dan jauh dari kesan bisnis, nama itu jelas adalah nama yang sulit dilupakan. Kini nama itu sudah menjadi sangat familiar di kalangan pelancong, khususnya para pelancong mandiri yang tidak butuh tour guide atau tour agent. Sebagai brand, Lonely Planet termasuk salah satu brand yang dicintai, sebuah brand yang memiliki engagement yang baik dengan pemakainya. Pada tahun 2004 terpilih menjadi salah satu dari 10 brand terbaik di Asia Pacific dalam Interbrand Readers’ Choice Brand of the Year, dikalahkan oleh Sony, Samsung, Toyota, LG, dan Singapore Airlines.

Tentu saja kesuksesan Lonely Planet, sama seperti banyak kisah sukses lainnya, bisa dikatakan sebuah Black Swan (suatu kejadian yang tidak pernah diduga sebelumnya) juga. Sama seperti penemuan namanya yang terjadi secara tidak sengaja, bisnis penerbitan buku panduan juga bukanlah sesuatu yang direncanakan Tony dan Maureen Wheeler ketika muda. Mereka adalah fresh graduate dari London, pada waktu itu Tony sudah mendapatkan pekerjaan dari Chrysler, namun dia memutuskan untuk melakukan perjalanan terlebih dahulu sebelum mulai bekerja. Surat panggilan dari Chrysler itu hingga kini masih disimpan oleh Tony.

Semua berawal dari sebuah perjalanan fenomenal yang mereka lakukan dari Eropa menuju Australia. Lewat darat. Perjalanan itu melewati tempat-tempat eksotis di Asia, seperti Afghanistan, India, Nepal dan Asia Tenggara, termasuk tentu saja, tanah air kita tercinta.

Bisa Anda bayangkan, pada saat itu masih tahun 1971-1972, masih sangat jarang orang Eropa yang melakukan perjalanan ke tempat-tempat eksotis itu. Thailand baru mulai membuka dirinya untuk pelancong, dan Pantai Kuta---seperti dilukiskan dalam buku ini---hanya memiliki satu jalan setapak berpasir menuju pantai dan akomodasi hanya ada Hotel Kuta Beach dan dua lusin losmen.

Setelah mereka berhasil melakukan perjalanan itu, tentu saja banyak sekali pertanyaan, bagaimana kalian melakukannya? Bagaimana kalian, misalnya, menyeberangi Afghanistan menuju India? Dan berbagai pertanyaan lain, serta pada saat yang sama mereka sempat kehabisan uang di Australia, yang membuat Maureen berpikir, mengapa mereka tidak membuat buku panduan perjalanan? Maka lahirlah buku pertama mereka, Across Asia on the Cheap.

Buku ini mendapat sambutan yang sangat baik di Australia, yang tentu saja kemudian mendorong lahirnya buku-buku selanjutnya. Sementara pertanyaan tentang perjalanan mengilhami lahirnya Lonely Planet, buku Lonely Planet Story ini juga ditulis dengan alasan yang sama---karena orang-orang terus bertanya, “Bagaimana ceritanya dua orang backpacker dengan 27 sen akhirnya bisa mengelola perusahaan multinasional?”

Jawaban pertanyaan itu diurai dalam 565 halaman buku ini. Banyak cerita yang menarik, selain cerita petualangan dalam perjalanan ke negara-negara eksotis (yang sekarang sudah menjadi tidak terlalu eksotis lagi), buku ini juga memuat banyak kisah jatuh bangun sebuah perusahaan, tentang membangun sebuah perusahaan start-up dari nol, dan liku-liku bisnis penerbitan buku panduan. Kita bisa menemukan black swan-black swan kecil di dalam sebuah black swan besar kesuksesan Lonely Planet.

Seperti misalnya, cerita bagaimana Steve Hibbard diangkat menjadi CEO Lonely Planet. Pada 1993, Lonely Planet telah mencapai tahap menjadi perusahaan yang dijadikan objek studi kasus mahasiswa sekolah bisnis. Suatu hari sebuah kelompok mahasiswa dari Melbourne Business School meminta data seperti “diagram alir” dan “struktur hirarki” perusahaan, sebuah permintaan yang menurut Tony dan Maureen cukup menghibur, karena mereka tidak memilikinya.

Setelah itu mereka pun mendatangi presentasi kelompok mahasiswa tersebut dan menyimak pada waktu mahasiswa menjelaskan apa yang telah membuat mereka sukses dan memaparkan tantangan yang akan mereka hadapi di masa depan.

Tidak lama setelah itu, Steve Hibbard, salah satu dari kelompok mahasiswa itu, mengusulkan agar dia bekerja untuk Lonely Planet selama enam bulan untuk mengidentifikasi area-area yang memerlukan perbaikan untuk membawa perusahaan ke depan. Tony dan Maureen berpikir, mereka selama ini menjalankan perusahaan dengan cara mereka sendiri, kurang memberi perhatian pada sisi “bisnis,” keputusan dibuat dari hari ke hari dan kurang perencanaan serta analisa secara keseluruhan serta pengawasan terhadap pembelanjaan.

Di situlah Steve mulai bekerja. Alih-alih hanya enam bulan, dia telah bersama Lonely Planet selama sepuluh tahun. Mulai dari jabatannya sebagai general manager, dia telah memasukkan kedisiplinan dalam perencanaan bisnis Lonely Planet, hingga dia pun diangkat menjadi CEO.

Pada bab-bab terakhir Tony juga menjawab suatu hal yang menjadi pertanyaan kita semua, bagaimana Lonely Planet menjawab tantangan perkembangan internet, dimana banyak informasi panduan wisata begitu mudah diakses secara gratis? Lonely Planet jelas tidak ketinggalan dalam era “information superhighway” ini. Di buku ini juga dipaparkan pandangan Tony tentang perkembangan teknologi.

Pada bagian terakhir terdapat tulisan Maureen yang menganalogikan Lonely Planet sebagai anak mereka sendiri. Saya kutip dari buku:

“Saat anak-anakmu masih sangat kecil, mustahil untuk membayangkan kehidupan ketika mereka takkan tinggal bersamamu, ketika kau takkan melihat mereka setiap hari atau mengetahui apa yang mereka lakukan. Saat mereka tumbuh dewasa kau pelan-pelan melepaskan dirimu dari diri mereka sampai tiba harinya ketika kau memandang anakmu dan melihat orang dewasa yang terpisah, dan menyadari bahwa peran yang kaumainkan dalam hidup mereka tak lagi sentral. Sulit mengakui bahwa anakmu sudah mandiri, tetapi hal tersebut juga teramat membebaskan.”


(Tulisan ini adalah resensi saya yang kedua untuk buku Lonely Planet Story tulisan Tony dan Maureen Wheeler yang versi Indonesianya diterbitkan oleh Mizan. Resensi yang pertama untuk PortalHR menyorot sisi HR dari kisah ini sementara resensi yang ini berfokus pada hal-hal yang mempunyai relevansi personal untuk saya. Thanks for reading!)


Readmore »»

Tuesday, October 13, 2009

Mui Ne, a little city full of resorts which sales sand dunes as main tourism object

Waktu yang sempit dan godaan melihat kota antah berantah yang masih jarang dilihat orang membuat kami akhirnya memilih Mui Ne dari sekian banyaknya pilihan tujuan wisata di Vietnam. Dari "terminal pariwisata" Vietnam di Pham Ngu Lau, banyak kota tujuan wisata yang bisa Anda pilih. Dari selatan ke utara: Mui Ne, Da Lat, Nha Trang, Hoi An, Da Nang, Hue, Ha Noi, Halong Bay, dan Sapa. Semuanya mempunyai daya tarik sendiri-sendiri. Ke arah barat Anda bisa memilih kota-kota di Cambodia, tapi di tulisan ini mari kita fokuskan pada Vietnam saja.

Karena semua kota di atas terletak dalam satu daratan yang sama, jadi semuanya bisa ditempuh lewat perjalanan darat, dengan kereta atau bis. Menariknya di Vietnam, Anda bisa membeli tiket bis yang disebut open bus ticket. Artinya, Anda bisa beli dari Ho Chi Minh City sampai paling ujung (Ha Noi) dan bisa berhenti di kota-kota yang dilewati tanpa batas waktu. Informasi jadwal bus ke kota-kota tersebut sangat mudah diperoleh di agen-agen tour, bahkan bisa disearch di Google. Dengan mengetahui jadwal bus ini sangat memudahkan dalam penyusunan itenerary (rencana perjalanan).

Mui Ne, 4-5 jam dari Ho Chi Minh City, adalah yang paling dekat. Mui Ne menawarkan wisata antara lain: pantai kampung nelayan (Fishing Village), White Sand Dunes, Lotus Lake, dan Yellow Sand Dunes.

Da Lat, sekitar 6-7 jam dari Ho Chi Minh City menjual wisata pemandangan alam nan hijau dan air terjun seperti Datania Waterfalls, Prenn waterfalls, Bao Dai Summer Palace, Valley of Love dan Buddhist meditation monastery. Semuanya dapat di-google untuk melihat foto-fotonya.

Nha Trang adalah kota pantai. Tahun 2008 tempat ini pernah menjadi host Miss Universe 2008 dan rencananya akan menjadi host (tuan rumah) Miss World 2010. Tour Nha Trang biasanya berarti mengunjungi pulau-pulau di dekatnya, Mun Island dan Mot Island, snorkeling, serta mengunjungi fishing village. Nha Trang dapat dicapai dengan 8 jam naik bus dari Ho Chi Minh City.

Wisata Hoi An biasanya disatukan dengan Da Nang dan Hue, karena sudah dekat. Jarak Ho Chi Minh City sampai Hue kira-kira 22 jam perjalanan dengan bus. Kota-kota ini sudah kami eliminir dari awal karena jaraknya tidak memungkinkan mengingat waktu kami di Vietnam hanya 4 hari. Untuk perjalanan darat tidak memungkinkan waktunya, kecuali naik pesawat.

Ho Chi Minh City - Ha Noi pernah saya tempuh dengan kereta selama 32 jam. Dengan bus kurang lebih sama waktunya. Itu sudah tidak menjadi option untuk kali ini. Satu-satunya cara ke Ha Noi adalah naik pesawat, namun karena budget tidak mencukupi, maka akhirnya kami memilih yang dekat-dekat saja. Dengan berbagai pertimbangan (karena masih mau explore Saigon juga), akhirnya pilihan kami jatuh pada Mui Ne. Sebuah kota di pinggir pantai juga, yang ternyata, penuh dengan resort.

Tidak mengherankan karena jaraknya yang tidak jauh dari Ho Chi Minh City, membuat kota kecil ini dapat berkembang menjadi sebuah tujuan wisata. Bila dilihat gambar Vietnam di peta, negara ini panjang dan sempit, kalau kita berjalan terus ke arah timur, pastilah bertemu dengan pantai. Itu berarti, pantai di Vietnam banyak sekali. Coba saja google "beaches in Vietnam" bila Anda menyukai wisata pantai, maka tinggal dipilih saja dengan melihat foto-foto di hasil search. Sebenarnya Vung Tau adalah kota pantai terdekat dengan Ho Chi Minh City, tapi sayang kami tidak sempat ke sana.

Kami memilih Mui Ne karena dari hasil google, terlihat foto-foto gurun pasir yang eksotis. Tidak perlu jauh-jauh ke Sahara, kita bisa melihat "Sahara Kecil" di sini. Di Indonesia katanya juga ada gurun pasir Parangkusumo di Jawa Tengah, tetapi ketika saya search tidak banyak informasinya, bahkan tidak ada fotonya.

Jadi tanggal 24 September malam 20.30 kami pun berangkat ke Mui Ne. Tidak mau repot, kami membeli tour di Sinh Cafe (yang berganti nama menjadi Sinh Tourist) yang sudah termasuk bus pp, menginap di Mui Ne resort milik Sinh Cafe (2 malam), makan, dan tour di Mui Ne. Tour setengah hari meliputi Fishing Village, White Sand Dunes, Lotus Lake dan Yellow Sand Dunes. Total biaya sekitar 700 ribu rupiah.

Kami tiba di Mui Ne resort tengah malam. Sebenarnya agak sayang juga sih boros biaya hotel satu hari, tapi tak apalah, toh kami juga harus mencari hotel bila malam itu menginap di Saigon dan baru berangkat besoknya. Karena berangkat malam, kami ternyata mendapat sleeping bus. Inilah pertama kalinya saya mencoba sleeping bus Vietnam yang spektakuler itu. Bis ini tidak ada yang duduk, semua penumpang harus berbaring, karena langit-langitnya rendah, tidak memungkinkan untuk duduk apalagi berdiri. Bila pegel bisa berdiri di lorong tempat duduk. Sebelumnya, pada waktu browsing sudah pernah menemukan video tentang bis seperti ini di youtube, dan berharap saya tidak perlu naik bis ini, ternyataaa... nasib akhirnya mempertemukan juga saya dengan bis ini. (Coba saja search "Sleeping bus in Vietnam" di youtube, banyak sekali hasil videonya).

Ketika naik ke bus, kita harus melepaskan alas kaki, seperti masuk mesjid saja. Lalu sopir memberikan kita sebuah kantong plastik untuk menyimpan sepatu kita dan kita pun dapat meletakkannya di tempat duduk (tidur) kita. Setelah memberikan plastik, sang sopir mencatat tujuan kita untuk nanti dibangunkan ketika sudah sampai. Hebat kan?

Tetapi dasar tidak biasa, sepanjang perjalanan 4 jam lebih itu saya tidak bisa tidur. Sebelah-sebelah kami sudah tertidur dan mengorok, kami masih mengobrol dan ketawa-ketiwi. Padahal sudah kurang tidur dari semalam, tidak jatuh-jatuh tidur juga saking tidak biasa dengan busnya. Saya terheran-heran, bus seperti ini produksi atau hasil kreasi negara mana ya? Kayaknya kecil kemungkinan bikinan Vietnam sendiri. Ketika saya cerita ke seorang teman, katanya China juga punya bus seperti itu. Mungkin saja produksi China kali ya?

Apa saja yang dilakukan di Mui Ne? Ternyata, selain tour ke tempat yang saya sebutkan tadi, memang tidak ada apa-apa lagi tentang Mui Ne. Pantainya lumayan, tidak begitu bagus. Ombaknya besar. Kita bisa "berenang" alias main ombak di sini. Setelah itu lanjut berenang di kolam renang resort. Cukup menyenangkan.

Setelah sebuah kota yang sangat bising, hiruk-pikuk, dengan tingkat bahaya yang tinggi di lalu-lintas, tiba di Mui Ne bagaikan mendarat di surga. Tiada lagi bunyi klakson. Hanya ada debur ombak yang membuai.

Selanjutnya, untuk tour-nya, lumayan. Pantai Fishing Village cukup bagus. White Sand dunes dan Yellow Sand Dunes juga cukup indah, eksotis. Sayangnya waktu kami datang cuaca mendung. Sempat hujan pula di White Sand Dunes, sehingga waktu habis hanya menunggu hujan. Untunglah masih sempat menikmati sebentar setelah hujan berhenti. Ya, selama kami di Vietnam hujan terus. Setelah pulang, terdengar berita ada badai besar yang memakan korban cukup banyak di Vietnam tengah.

Selanjutnya, mengenai tempat-tempat tadi, mudah-mudahan foto-foto di bawah ini cukup untuk bercerita.

















Readmore »»

Wednesday, October 07, 2009

Some Pictures from Ho Chi Minh City


Pukul 17.00 adalah saat lalu lintas paling ramai. Motor jauh lebih dominan dibanding mobil.


Datangnya kendaraan dari segala arah.


Lampu merahnya ada yang besar dan ada yang kecil. Maksudnya apa ya?


Mendung di Saigon


Gereja Katedral Notre Dame Saigon


Altar gereja Notre Dame Saigon yang megah, langit-langit sangat tinggi.


Seorang ibu meletakkan lilin sehabis berdoa di gereja Notre Dame Saigon (Ho Chi Minh City).


Louis Vuitton Opera View Saigon


Malam di De Tham Street, masih daerah Pham Ngu Lau.


Opera House Saigon


Pho 2000 Saigon


Jajanan pinggir jalan yang aduhai


Bumbu khas Vietnam, di restoran Quan An Ngon.


Colokan listrik di Vietnam yang bersahabat. Bisa dua model, yang kurus dua atau yang bulet seperti di Indonesia. Jadi aman ketika kita travel ke sana, tidak perlu mengganti ujung colokan.

Ulasan tentang Ho Chi Minh City:

Ho Chi Minh City, the motorcycle republic who only good for transit (and for business, maybe)

Readmore »»

Tuesday, October 06, 2009

Ho Chi Minh City, the motorcycle republic who only good for transit (and for business, maybe)


Jalan yang penuh dengan motor dan bunyi klakson yang tiada henti, adalah dua hal yang paling dominan tentang Ho Chi Minh City, sebuah kota yang dulu bernama Saigon. Sampai saat ini nama Saigon masih banyak digunakan untuk menyebut kota terbesar di Vietnam ini, terutama untuk merujuk pada daerah pusat kotanya yaitu di district 1.

District 1 adalah tempat yang dulu bernama Saigon itu, yang setelah bergabung dengan beberapa daerah di sekitarnya maka berganti nama menjadi Ho Chi Minh City. Lebih jelas tentang sejarahnya mungkin dapat dibaca saja di Wikipedia, yang jelas, hal ini menjelaskan mengapa District 1 menjadi pusat kota HCMC, serta menjadi tempat berkumpulnya objek-objek wisata kota Ho Chi Minh City.

Kalau sudah tinggal di District 1, mau ke mana-mana saja dekat. Pusat bisnisnya di sana, pusat wisata juga di sana. Katedral Notre Dame peninggalan Perancis, kantor pos tua (yang mirip Stasiun kereta Beos), Opera House yang bergaya Perancis (tiang depannya yang melengkung dari jauh mirip Arch de Triomph), Reunification Palace, War Remnants Museum, dan Ben Thanh Market. Semuanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki dari pusat kota.

Di district 1 ini ada sebuah backpacker area yang sangat terkenal yaitu jalan Pham Ngu Lao. Meski Anda bukan backpacker, rasanya saya akan tetap menyarankan untuk mencari penginapan di sini saja. Karena daerahnya enak, khas backpacker area, selalu hidup 24 jam, full music, full bar, banyak tourist dari berbagai negara, daerah yang selalu ramai, dan yang penting, harga penginapannya sangat terjangkau. Cobalah menyusuri gang-gang di jalan itu, dengan mudahnya dapat ditemukan tulisan Room for Rent. Dengan harga 5 US Dollar (kipas angin) dan 10 US Dollar (AC) per malam.

Saya dapat kamar yang 10 USD, lumayan lho kamarnya, bisa bertiga pula. Pada malam pertama tiba di Ho Chi Minh City, demi kenyamanan dan keamanan kami telah memesan satu kamar lewat internet. Kebetulan juga pingin mencoba layanan Agoda.com yang sangat terkenal itu. Setelah melihat-lihat gambarnya di internet, kami memesan sebuah kamar seharga 25 USD di District 1, tapi bukan di Pham Ngu Lau. Tidak jauh dari Pham Ngu Lau sih, dan bisa ditempuh dengan berjalan kaki, untuk ke daerah Pham Ngu Lau maupun ke tempat-tempat wisata yang saya sebutkan tadi.

Namun, masalah dengan memesan online adalah, kita tidak dapat mengetahui apakah hotelnya baru atau tidak. Gambar-gambar di website tentu saja bagus. Hal ini pernah saya alami juga dengan Yogyes.com, di mana aslinya tidak seindah gambarnya. Kamarnya agak tua dan agak berbau apek. Tapi tidak apa-apa. Cukuplah untuk memberi kami perlindungan pada malam itu. Setelah itu malam kedua dan ketiga kami menginap di kota lain, dan pada malam terakhir ketika menginap di Saigon kami pun menemukan sebuah kamar yang bahkan lebih baik (karena baru) dengan harga 10 USD saja.

So, apa yang bisa dilihat di Ho Chi Minh City?

Seperti yang pernah aku tuliskan dua tahun yang lalu, ternyata memang benar tidak ada yang menarik untuk dikunjungi di kota ini. Pada waktu itu kami hanya transit di kota ini untuk melanjutkan perjalanan ke Kamboja (Cambodia), yaitu ke Phnom Penh dan Siam Reap (tempat Angkor Wat berada). (baca: Petualangan Bhramp-moi : Penang – Bangkok – Hanoi – Saigon – Phnom Penh - Siem Reap – Singapore) Tidak sedikit orang yang seperti kami (orang yang datang ke kota ini hanya untuk transit ke tempat lain). Tetapi mungkin orang-orang masih punya waktu minimal satu hari untuk explore kota ini. Waktu itu kami hanya punya waktu dua jam kalau gak salah (sambil menunggu bis), karena itu sama sekali tidak ke mana-mana. Dalam trip kali inilah saya berkesempatan mendatangi tempat-tempat wisata di Ho Chi Minh City, yang berakhir dengan kesimpulan: biasa-biasa saja. Tidak ada yang istimewa. Dengan kata lain, bila Anda tidak punya waktu, skip saja. Lanjut ke tempat wisata yang lain.

Saya ambil contoh. Misalkan, katedral Notre Dame-nya. Jauh lebih bagus katedral Jakarta. Gedung-gedung tua peninggalan Eropa masa lalu, juga banyak di daerah Cikini, seperti Gedung Juang dan sekitarnya. Ben Thanh market, ternyata sangat kecil, masih lebih besar pasar Bringharjo di Yogyakarta.

Sedikit catatan untuk katedral Notre Dame Saigon, ada yang istimewa dalam gereja ini. Di dalamnya terdapat tempat-tempat berdoa khusus buat santo dan santa tertentu, dan di setiap tempat itu banyak bata yang bertuliskan ucapan terima kasih dari masa lampau (mulai dari tahun 1920). Dugaan saya itu adalah ucapan terima kasih dan bentuk donor kepada gereja dari orang-orang yang doanya telah dikabulkan santo/santa itu. Bila Anda Katolik, bolehlah menyempatkan diri menghadiri misa di gereja ini. Ada misa khusus foreigner setiap hari minggu jam 09.00.

Kembali ke Pham Ngu Lau, di sini berserakan travel agent. Mau ke mana pun gampang. Tidak sulit sebenarnya untuk bepergian/menjelajah kota-kota di Vietnam dan negara-negara di sekitarnya (Indochina). Semua dapat ditempuh dengan bis (yang nyaman) dan dapat dibeli di daerah Pham Ngu Lau ini.

Karena kami tiba di Ho Chi Minh City sudah hampir pukul 9 malam, otomatis hari pertama tidak ke mana-mana. Malam keluar mencari makan tetapi hujan deras. Hujan turun setiap hari dalam trip kami kali ini. Keesokan harinya kami berkeliling beberapa object wisata di District 1 tadi, dan mencari tour. Mengenai tempat-tempat yang saya sebutkan di atas, silakan di-Google saja, bahkan di Google image, sudah banyak sekali fotonya. Vietnam sudah sangat advanced dalam hal ini, mungkin dari indicator jumlah hasil pencarian ini bisa dibilang tourism mereka cukup maju. Karena ini berarti sudah banyak sekali orang yang berkunjung dan memasangkan foto-foto serta video mereka, dan juga cerita mereka, kepada dunia.

Ho Chi Minh City Tour biasanya berarti mengunjungi tempat-tempat yang saya sebutkan tadi, ditambah ada museum lain, dan juga yang paling terkenal adalah Chu Chi Tunnel. Nah untuk yang ini, tidak sempat kami kunjungi, karena tournya berangkat pagi, kami lebih memilih untuk mengikuti misa di gereja katedral. Daripada memasuki terowongan yang sering disebut lubang tikus itu. Tempat ini adalah persembunyian tentara Vietnam pada perang Vietnam.

Nah, bicara soal perang Vietnam yang terkenal itu. Perang ini baru berakhir tahun 1976, berarti belum lama Vietnam masuk masa damai. Dan mereka juga belum lama membuka diri dalam perdagangan internasional (terinspirasi oleh China). Menyaksikan kecepatan mereka maju, rasanya mengerikan juga. Bisa-bisa Indonesia segera disalib. Saat ini mereka sudah punya semacam Silicon Valley di Ho Chi Minh City, pendidikan IT diperhatikan dengan baik dan sudah menjadi salah satu pilihan outsourcing IT di Asia. Beberapa pengusaha Indonesia juga membuka pabrik di Vietnam, seorang konglomerat Indonesia juga membangun real estate. Barangkali cukup prospektif untuk bisnis? Entahlah. Perlu dieksplore lebih lanjut.

Belum lagi pariwisata mereka yang kelihatannya maju pesat. Meski orang-orangnya belum siap, kecepatan kemajuan mereka cukup menakutkan. Mereka menaruh perhatian serius pada internet, para travel agent sadar benar pentingnya internet untuk bisnis mereka. Salah satu travel agent yang banyak direkomendasikan di dunia maya adalah Sinh Café. Saat ini Sinh Café sangat besar, kantornya diperluas, cabangnya ada di banyak kota dan mereka juga memiliki sendiri resort di kota-kota tujuan wisata utama.

Getting Around Ho Chi Minh City

Ada beberapa moda transportasi di kota yang penuh motor ini, yaitu taksi, bis kota, ojek motor, dan becak. Transportasi yang paling aman dan disarankan di brosur-brosur pariwisata adalah taksi. Bis kota tidak disarankan kepada orang asing, entah kenapa. Disebutkan di brosur bahwa bis kota hanya cocok untuk orang lokal saja. Dugaan kami karena masalah keamanan. Demikian pula bila naik moda transportasi yang lain, di kota ini, harus selalu waspada. Untuk ojek motor dan becak, hati-hati, pastikan harganya dengan baik sebelum naik. Kalau perlu ditulis, karena lafal bahasa Inggris orang Vietnam yang merancukan, bisa menjadi modus operandi sebuah penipuan.

Dibanding naik motor atau becak, taksi juga jauh lebih aman, karena tingkat kecelakaan di kota ini sangat tinggi. Seorang tour operator bercerita, terjadi 20 kecelakaan lalu lintas per hari di Ho Chi Minh City. Masih kalah dengan Delhi, India, yang katanya mencapai 60 per hari. (Di Jakarta sih, kalau dilihat data kecelakaan di salah satu tol dalam kota sekitar 167 kecelakan per bulan).

Di Ho Chi Minh City tidak semua perempatan ada lampu merahnya, selain itu banyak sekali bundaran di tengah perempatan, sehingga kendaraan bisa datang dari segala penjuru. Motor dan mobil tidak ada belas kasihan terhadap pejalan kaki, mereka sering tidak memperlambat laju kendaraannya. Itulah sebabnya, suara klakson selalu terdengar. Tanpa klakson kayaknya sebuah kendaraan tidak akan survive di kota ini. Saya saja sudah menyaksikan dua kali tabrakan, yang satu cukup mengenaskan. Orangnya terbaring kaku di jalan, sementara bis kami mengerem mendadak hingga sandal saya terlempar jauh ke baris depan. Cukup mengerikan.

Teman saya berkomentar, pergi ke Vietnam rasanya seperti pulang kampung. Ya, Jakarta jauh lebih besar dan metropolis. Apalagi di Vietnam banyak yang mengenakan topi caping hahaha, semakin menambah suasana pedesaan kan?

Kopi Vietnam, Pho, Roti Perancis

Di Ho Chi Minh City jangan lupa mencoba kopi Vietnam yang strong itu. Bisa dicoba dalam berbagai versi, versi kaki lima (6.000-7.000 VND per gelas), atau versi café (35.000 VND per gelas). VND = Vietnam Dong, mata uang Vietnam. O ya, beli apa pun di sana, mintalah dengan Vietnam Dong, karena akan lebih murah bila dikurs ke USD. Di sana hampir semua penjual menerima US Dollar. Sampai penjual kaki lima sekali pun. Saat ini nilai tukar 1 USD = 18.000 VND, sepertinya nilai tukar mereka terus menurun. Dua tahun lalu sekitar 15.000, ketika sebelum pergi aku browsing, masih 17.000. Lah gimana enggak turun terus, wong masyarakatnya semua prefer dibayar dengan US Dollar? Nah di sinilah saya merasa bangga dengan rupiah, apalagi belakangan ini rupiah makin perkasa saja…

Setelah kopi Vietnam, yang perlu dicoba tentu saja adalah pho (mie Vietnam itu). Gerai yang terkenal adalah Pho2000, yang katanya pernah dikunjungi Bill Clinton. Kami datang ke sana, tempatnya biasa-biasa saja, tidak seperti gerai Pho2000 di Senayan City yang glamor. Harganya pun lebih terjangkau. Beef Noodle 33.000 VND. Sekitar 20.000 rupiah gitu lah. Selain pho “branded” tentu saja harus dicoba juga pho warung yang bertebaran di pinggir-pinggir jalan dan menjadi makanan sehari-hari orang sana.

Roti Perancis (baguette) yang panjang dan keras (kayak pentungan itu) juga menjadi makanan sehari-hari mereka. Sama seperti yang lain, yang ini juga ada versi kaki lima dan versi café-nya. Keduanya layak untuk dicoba.

Selain makanan, kalau ada waktu bisa juga mampir ke Saigon Square, di sini terkenal sebagai tempat belanja tas murah. Tempatnya tidak jauh dari Ben Thanh market. Mintalah peta di bandara atau pun di hotel. Peta seperti itulah yang menjadi modal kami dalam perjalanan.

Mengakhiri tulisan yang panjang ini---sorry kalau bahasanya berantakan---mungkin dapat diambil kesimpulan, dan inilah yang saya katakan apabila ditanya “Gimana Ho Chi Minh City?” bahwa, Ho Chi Minh City sebagai kota pusat perekonomian di Vietnam (ibukota Vietnam adalah Hanoi, tapi kota terbesar adalah Ho Chi Minh City) hanya layak dikunjungi sebagai kota transit atau mungkin dapat di-explore untuk kemungkinan bisnis. Silakan bagi Anda yang berminat.

Readmore »»

Wednesday, September 30, 2009

Jakarta – Ho Chi Minh City with Air Asia

Penerbangan Jakarta – Ho Chi Minh City adalah rute yang baru dibuka Air Asia Indonesia tanggal 18 September 2009. Saya termasuk yang cukup awal mencobanya, pada tanggal 23 September. Saya dapat tiket pp seharga Rp 700.000. Cukup murah ya, mengingat tanggalnya, 23-27 September, masih bertepatan dengan libur Lebaran.

Trip saya kali ini adalah trip yang sama sekali tidak direncanakan. Ini adalah salah satu trip yang saya sebut dengan Air Asia-driven. Gara-gara mendapat informasi promo Air Asia Rp 199.000 tiket sekali jalan, tak kuat saya menahan godaan. Tangan pun langsung beraksi klak klik airasia.com. Awalnya saya memilih tanggal 23-27 karena mendapat harga yang sangat murah, Rp 500.000. Namun, karena tidak langsung dibeli, masih ajak teman sana-sini dulu, harganya naik menjadi Rp 700.000.

Ini mungkin adalah strategi Air Asia, dengan pemesanan online, dia bisa mengetahui demand, setiap kali demand meningkat, harga akan naik. Permainan ini menjadi seperti lomba, siapa cepat, siapa dapat. Ketika di bandara, saya bertemu teman. Ada yang mendapat tiket 2 jutaan, ada yang bahkan 3 juta. Jadi dalam satu kali penerbangan, ada yang mendapat harga paling minimal, dalam hal ini 500.000, ada yang medium, ada juga yang max, misalnya 3 juta tadi. Dengan cara subsidi silang ini, menurut perkiraan saya, Air Asia bisa mendapatkan harga yang normal apabila semua penumpang dirata-ratain. Harga normalnya mungkin sekitar Rp 1,7 juta. Ditambah dengan keuntungan semua kursi akan terisi, karena mereka yang tergoda dengan harga murah (seperti saya) biasanya tidak punya plan sebelumnya untuk melakukan perjalanan. Setelah beli tiket baru planning. Orang yang memang punya kebutuhan akan membeli tiket dengan harga yang normal, kadang mahal. Sementara yang tadinya tidak berencana ini biasanya terpancing promo, dan membeli tiketnya lebih awal dari yang lain. Terkadang sebelum sempat berpikir terlalu banyak, langsung beli. Dengan resiko tiket dibuang saja apabila tidak jadi berangkat.

Dengan promo-promo gila ini, Air Asia menjadi pembicaraan banyak orang. Teman-teman kantor saya sudah banyak yang mengantongi rencana trip untuk tahun depan. Semua menyebut biaya trip yang sangat murah. Saya sendiri, untuk trip Vietnam saya 5 hari tersebut, saya hanya menghabiskan uang Rp 2 juta, sudah termasuk semua. Sebuah jumlah yang dulu (sebelum ada penerbangan murah) bahkan tidak cukup untuk membeli tiket pesawat terbangnya saja.

Lupakan semua bayangan tentang naik pesawat ke luar negeri yang serba mewah dan nyaman. Lupakan tentang kursi yang lega dan nyaman, serta ada TV di depan kursi kita, maupun TV yang besar di tengah-tengah lorong pesawat. Apalagi pramugari cantik yang mondar-mandir membawa red wine di kiri dan white wine di kanan, bertanya dengan manis, apa yang ingin kita minum. Kopi bisa nambah kapan saja, apalagi air putih, kita tidak perlu kehausan.

Seat pesawat Airbus yang digunakan Air Asia dalam penerbangan Jakarta-Ho Chi Minh City adalah tiga-tiga, tiga kursi di kiri dan tiga kursi di kanan (pesawat yang biasa digunakan untuk domestic flight). Cukup sempit menurutku, untung penerbangan hanya 3 jam. Di depan kursi tidak ada TV, naik pesawat ini juga tidak mendapatkan apa-apa. Semuanya harus beli. Aqua seharga Rp 12.000. Pop Mie Rp 18.000.

Jangan lupa membawa jaket, karena AC di dalam pesawat sangat dingin, sementara di sini tidak akan ada pramugari yang membawakan selimut. Apalagi merapikan selimut apabila kita tidur.

Di depan kursi penumpang, kalau dalam pesawat mahal selalu ada kantong untuk muntah. Di Air Asia ini saya perhatikan, tidak ada. Padahal kalau turbulence goyangnya aduhai, terasa banget. Jangan juga berharap ada majalah, atau koran-koran internasional. Jangan lupa membawa bacaan sendiri, kalau tidak akan sangat membosankan. Tidur pun sulit, karena tempat duduk cukup sempit. Safety information pun tidak setiap seat ada. Sepertinya, setiap habis landing, dibersihkan dan dicek sejenak, pesawat tinggal landas lagi untuk destinasi sebaliknya.

Saya sendiri enggak complain. Maksudnya, ya wajarlah dengan harga segitu. Kalau mau nyaman ya, naiklah pesawat mahal. Air Asia selain mendapatkan keuntungan dari subsidi silang tadi, tentu saja juga dari penjualan makanan dan merchandise. (merchandise mungkin gak seberapa kali ya). Kalau makanan cukup laku. Apalagi penerbangan yang lumayan jauh, seperti Jakarta – Ho Chi Minh City, perlu waktu 3 jam 5 menit, tentu saja penumpang akan merasa lapar atau setidaknya ingin ngemil. Dalam perjalanan pulang dari Ho Chi Minh City (20.30 – 23.35), saya belum pernah melihat dagangan Air Asia begitu lakunya. Pada kehabisan, banyak yang tidak mendapatkan pesanannya, hampir terjadi perebutan. Siapa cepat siapa dapat. Haha…

Pengalaman yang cukup menarik. Mungkin ini berlebihan, tapi saya rasa perlu bagi Anda juga untuk mencoba penerbangan seperti ini dan menjadi saksi sejarah tentang awal sebuah era baru dalam dunia perjalanan. Meski masih ada beberapa teman saya yang enggan naik Air Asia karena dianggap seperti naik bis sekolah, kenyataannya toh Air Asia berkembang pesat. Bisnisnya menggurita dengan cepat. Rekrutmen mengalir deras. Rute-rute baru dibuka. Bahkan rute-rute yang jauh. Tahun depan Air Asia akan meluncurkan rute Kuala Lumpur – Nice. Beberapa tahun lagi akan memasuki rute Amerika Serikat. Wow…

Langkah ini tentu saja akan diikuti oleh maskapai-maskapai yang lain, apalagi setelah terbukti menuai sukses. (Sebenarnya tidak hanya Air Asia, di dunia international sudah banyak budget airlines, namun yang paling dekat dari Indonesia adalah Air Asia, kita bisa melakukan perjalanan dari Kuala Lumpur). Ini berarti, di masa depan, terbang akan semakin murah. Akan semakin banyak orang bepergian.

Dulu backpacker berarti naik angkutan darat dan menghabiskan waktu yang lama. Kini, mungkin saja tren itu akan berubah. Backpacker tidak perlu lewat darat lagi, tetapi bisa island hopping dengan pesawat, jauh lebih menghemat waktu. Dengan biaya yang relative sama, atau bahkan bisa lebih murah!

Di milis backpacker pun ramai dibicarakan rute-rute yang dilalui Air Asia. Seperti: Thailand, Kuala Lumpur, Ho Chi Minh City, Abu Dhabi, Tianjin, London, dan Taipei. Tidak hanya orang-orang gila travel itu, “wabah Air Asia” ini juga turun ke orang-orang awam---orang-orang yang tidak (baca: belum) biasa travelling. Pembicaraan tentang Air Asia mendadak sering terdengar.

Wah… wah… Beginilah Air Asia mengganggu hidup saya. Setelah ini sudah ada satu tiket lagi yang sudah saya beli jauh-jauh hari juga, entah akan dipakai atau tidak. Setelah itu, semoga saya bisa menahan godaan sebisa mungkin untuk tidak membuka web Air Asia lagi.

Readmore »»

Wednesday, September 16, 2009

Di mana tempat terbaik di dunia untuk melihat musim gugur?

Musim gugur telah tiba. Kalau kita jeli, bahkan di Jakarta pun kita bisa melihat daun-daun berguguran dari beberapa jenis pohon tertentu. Selain berjatuhan, dedaunan itu juga menguning dan mencoklat. Sementara pada saat yang sama daun-daun jatuh itu hanya menambah pekerjaan para penyapu jalan, di belahan dunia yang lain orang-orang pergi ke gunung-gunung pada akhir pekan hanya untuk mengagumi dedaunan yang berubah warna itu.

Pekan ini Trip Advisor membuat daftar Top 10 Foliage Destination, yang kira-kira bisa didefinisikan tujuan-tujuan wisata untuk melihat dedaunan. Waw... di mana sajakah itu?

1. White Mountains, New Hampshire, USA
2. Transylvania, Romania
3. Kyoto, Japan
4. Perugia, Italy
5. Bamberg, Germany
6. Ticino, Switzerland
7. Bergen, Norway
8. Beijing, China
9. Nikko, Japan
10.Dunedin, New Zealand

Silakan dicari sendiri deh gambar-gambarnya di Google, soalnya aku belum pernah mengunjungi satu pun tempat-tempat di atas, jadi tidak punya foto. Posting ini disimpan buat nanti aku butuhkan kalau punya waktu dan biaya untuk berlibur menikmati musim gugur. :D



Sumber gambar: TripAdvisor.com

Readmore »»

Friday, September 11, 2009

Teman-teman, Ayo Manfaatkan Youtube untuk Promosikan Indonesia

Berawal dari search yang saya lakukan untuk mencari tahu tentang transportasi dari Ho Chi Minh City ke Nha Trang (Vietnam), saya terpesona dan terkagum-kagum dengan apa yang saya temukan. Terutama di Youtube.

Para traveller independen (tanpa travel agent) pasti tahu betapa exciting mencari-cari informasi untuk menyusun rencana perjalanan. Bahkan seringkali kegiatan itu sendiri melebihi excitement ketika sudah berada di tempat aslinya. Nah, dengan perkembangan internet, dengan semakin banyaknya content yang bisa kita dapatkan ketika membuka jendela dunia maya, kegiatan itu semakin hari menjadi semakin menyenangkan.

Duduk di depan layar komputer sambil menonton youtube selama dua jam saja, saya sudah tahu apa yang akan saya dapatkan atau what to expect dalam trip saya nanti. Hal ini bisa menjadi semacam spoiler (jadi enggak seru lagi ketika di sana) tetapi juga bisa digunakan untuk tujuan-tujuan tertentu.

Misalnya. Dalam rencana trip saya itu saya akan menumpang bus malam dari Ho Chi Minh City ke Nha Trang. Perjalanan itu memakan waktu sekitar 10 jam. Saya sedikit was was, apakah aman, menaiki bus malam di Vietnam? Seperti apakah bus malamnya itu? Semua kemudian terjawab di Youtube. Saya terpesona, betapa banyaknya content video yang di-upload yang menjawab kekhawatiran saya itu. Saya pun tahu busnya seperti apa, nyaman/tidak, aman/tidak, apa yang akan saya dapatkan dalam perjalanan, sopir bus-nya menyetir seperti apa, kondisi lalu lintasnya seperti apa, dll. Luar biasa sekali.

Tentu saja hal itu sangat membantu bagi seorang traveller. Saya pun terpikir, bagaimana keadaannya apabila seorang turis mancanegara mencari informasi tentang Indonesia? Iseng-iseng, saya pun melakukan pencarian di Youtube atas beberapa negara.

Kata kunci "Indonesia" menghasilkan 133.000 video. Hasil tertingginya adalah tentang Ambon Religious Bloodbath. Tentu saja bukan hasil yang menguntungkan untuk pariwisata, bukan? Indonesia sebagai Pedophile Paradise juga adalah salah satu yang duduk di peringkat teratas, lebih tinggi dari Festival Bunaken dan Pandji (Indonesia Unite).

Kata kunci "Malaysia" menghasilkan 199.000 video. Beberapa hasil teratasnya seperti sepak takraw dan polis diraja Malaysia, dan ada Malaysia Truly Asia TVC, video promosi pariwisata mereka. Sepertinya mereka sedikit lebih maju ya?

Kata kunci "Vietnam" ternyata menghasilkan hasil search paling banyak, 232.000 video. Di luar dugaan saya, hasil search Vietnam melebihi "Thailand" yang menghasilkan 185.000 hasil search. Hasil pencarian Vietnam cukup baik, selain video tentang perang Vietnam ada beberapa video tentang pariwisata. Demikian pula hasil pencarian Thailand, selain tentang tsunami juga ada beberapa video yang berhubungan dengan pariwisata.

Kemudian saya mencoba beberapa keyword lagi, seperti "Bali", "Yogyakarta," dan "Jakarta", ternyata hasil pencarian tidak terlalu banyak. Paling banyak adalah "Bali" yang menghasilkan 44.100 hasil search saja.

Bila dibandingkan dengan hasil search di Google, kata kunci "Indonesia" sudah cukup baik, yaitu menghasilkan situs-situs resmi pemerintah, wikipedia, dan situs tourism Indonesia di halaman pertama. Namun, dengan meningkatnya penggunaan youtube sebagai search engine, terutama di negara-negara maju, sudah saatnya kita lebih serius memandang youtube. Terlebih lagi di bidang pariwisata, youtube adalah suatu tools yang dapat kita pergunakan dengan lebih maksimal lagi.

Ketika ribut-ribut tentang Malaysia mengklaim tari Pendet, di milis-milis orang mulai membicarakan bahwa Indonesia juga harus membuat film dokumenter tentang budaya Indonesia. Saya berpikir, kalau bikin film dokumenter yang serius gitu kan lama, dan juga berbiaya tinggi. Untuk masuk Discovery Channel seperti Malaysia mungkin mahal sekali sehingga pemerintah Indonesia perlu memikirkan cara lain yang lebih murah sekaligus efektif.

Mengapa tidak mengoptimalkan youtube? Saat ini youtube disebut-sebut telah menjadi search engine nomor dua setelah Google. Khususnya di negara maju yang tidak memiliki masalah dengan bandwidth lagi, orang-orang lebih suka melakukan pencarian di youtube untuk mencari informasi yang dibutuhkan. Misalnya, ketika mencari informasi yang diperlukan untuk pembelian sebuah produk, mulai dari mobil, review film, hingga tujuan wisata. Nah yang terakhir ini kayaknya yang paling asyik bila sudah menggunakan youtube.

Berdasarkan itulah, ingin rasanya saya mengusulkan kepada pemerintah untuk membuat semacam kontes meng-upload video bertema pariwisata Indonesia di youtube. Dengan menawarkan hadiah menarik bagi pemenang, pasti kita akan mendapatkan banyak video yang bagus-bagus. Dengan mengadakan kontes kita dapat mendorong produksi content-content yang lebih bermutu. Soal kreativitas bangsa Indonesia sepertinya tidak perlu kita ragukan lagi, hanya sayang tidak cukup ter-ekspose kepada dunia luar.

Tanpa perlu menunggu pemerintah, saya mengajak teman-teman yang sering bepergian di kota-kota di Indonesia untuk sebanyak-banyaknya meng-upload content-content yang mendukung pariwisata serta budaya Indonesia. Di Youtube kita bisa mengupload video apa saja, tidak perlu video profesional yang berbiaya tinggi.

Dengan jumlah penduduk dan jumlah pengguna internet yang jauh lebih besar dibanding beberapa negara yang saya jadikan perbandingan tadi, tentu saja content tentang Indonesia harus bisa lebih banyak, dan juga yang paling penting adalah, lebih positif.

Bila belum punya content video, foto-foto pariwisata pun dapat dijadikan sebuah video klip yang disusun dari slideshow dengan ditambahkan background lagu.

Seperti yang dilakukan Vietnam, saya menemukan beberapa video yang isinya foto-foto pemandangan dengan latar sebuah lagu Perancis tentang Vietnam "Bonjour Vietnam."



Jadi, jangan mau kalah dong... bisa dimulai dari teman-teman yang mudik buat berlebaran ini. Ayo, teman-teman, mari kita posting sebanyak-banyaknya video tentang Indonesia di youtube.com.

Readmore »»

Friday, August 07, 2009

Pencak Silat Plus Jacky Chan dalam Merantau



Seno Gumira Ajidarma pernah menulis sebuah artikel yang sangat mengesankan di majalah National Geographic Indonesia tahun lalu tentang pencak silat. Dalam artikel berjudul Bertahan dalam Peradaban itu, Seno menceritakan bagaimana sulitnya pencak silat sebagai warisan budaya Indonesia bertahan dalam gerusan gelombang globalisasi.

Membaca artikel itu membuat saya terkagum-kagum, betapa Indonesia memiliki warisan budaya yang demikian hebat. Ilmu silat ini bila ditelusuri telah diajarkan secara turun-temurun oleh nenek moyang kita sejak ratusan tahun silam. Meski ada kemiripan dengan ilmu silat Tiongkok, ilmu silat tradisional yang tumbuh di Indonesia telah mengalami banyak perkembangan dan telah digubah kembali oleh para guru pencak silat tradisional sehingga telah menjadi milik bangsa Indonesia.

Gerakan-gerakan pencak silat sangat khas: cara memposisikan tangan, posisi kuda-kuda, cara melompat dan menendang, sebagian digambarkan dalam artikel itu. Namun lebih dari itu, pencak silat bukanlah semata tentang gerakan-gerakan untuk membela diri saja, di balik itu pencak silat mengajarkan banyak falsafah kehidupan dan sangat spiritual.

Betapa amat disayangkan apabila warisan budaya yang begitu luar biasa itu perlahan-lahan tergerus oleh perubahan zaman. Zaman yang berbeda memang menuntut perilaku yang berbeda. Definisi yang secara total berbeda tentang apa yang hebat dan apa yang tidak, apa yang keren dan apa yang tidak. Semakin hari semakin sedikit murid yang mempelajari pencak silat, perguruan-perguruan silat yang dulu pernah berjaya sulit bertahan karena masalah dana. Pemerintah pun tidak berbuat banyak untuk melestarikan kekayaan budaya yang satu ini.

Maka ketika menonton Merantau, terlepas dari segala kekurangannya, saya katakan, film ini bagus! Gerakan-gerakan pencak silat yang diperagakan oleh Iko Uwais (sebagai Yuda) kelihatannya bagus dan sangat menghibur. Adegan-adegan perkelahian tidak membosankan, bahkan keren. Tidak ada kesan dibuat-buat, malahan sangat kreatif dan smart. Dalam beberapa adegan penonton memberikan applause, termasuk saya, misalnya ketika adegan kejar-kejaran dengan motor, serta melumpuhkan beberapa penjahat di atas container. Koreografer adegan perkelahiannya mungkin sudah belajar dari Jacky Chan untuk membuat adegan perkelahian yang menyenangkan untuk ditonton, sehingga bisa saya katakan, mutu adegan-adegan ini tidak kalah dari film Hongkong maupun Barat. Tidak lebay ala Matrix, tapi tampak sangat powerful dan real, dengan segala sound effect yang mendukung.



Film ini bercerita tentang petualangan Yuda, seorang pemuda Sumatera Barat, yang harus berhadapan dengan sindikat penjualan manusia dalam “perantauannya” (yang singkat) di Jakarta. Sejak dari persiapan berangkat merantau hingga hari-hari Yuda di Jakarta dan juga setelahnya, semua adegan (kecuali adegan berantem) berjalan dengan terlalu lambat dan telalu banyak yang lebay ala sinetron. Itulah kekurangan film ini dan juga yang menyebabkan durasi film ini terlalu panjang (135 menit). Dengan mengurangi banyak adegan yang bertele-tele itu---seperti misalnya pandang-pandangan yang terlalu lama---film ini akan menjadi jauh lebih baik.

Readmore »»

Thursday, July 30, 2009

Online Crisis Management di Indonesia: Belajar dari Beberapa Kasus

Suatu malam, seorang praktisi PR (public relations) terbangun dari mimpi buruk yang membuat seluruh tubuhnya basah oleh keringat dingin. Dia bermimpi bahwa dia adalah PR sebuah rumah sakit internasional. Suatu hari seorang konsumen/pasien menulis keluhan tentang pelayanan rumah sakitnya ke dalam email kepada teman-temannya, dan kemudian juga mengirimkan email tersebut ke sebuah media online yang sangat besar.

Manajemen rumah sakit kemudian menuntut pasien yang adalah seorang ibu muda dengan dua anak (yang masih kecil-kecil dan salah satunya adalah bayi yang masih menyusui) itu dengan tuduhan pencemaran nama baik rumah sakit dan berhasil menjebloskan ibu muda itu ke dalam penjara.

Kabar mengenai ibu muda yang dipenjara karena email keluhan yang dikirimnya itu lalu menyebar secepat badai. Dengan teknologi internet, melalui media-media yang mempunyai pengaruh besar seperti Facebook, blog, dan juga media besar seperti Detik.com, dengan segera kasus itu mendapatkan simpati banyak orang. Gaung yang tumbuh di online ini semakin diperbesar ketika mulai dilirik oleh media-media tradisional. Televisi, radio, media cetak semua mulai tertarik dengan kasus ini. Tentu saja kasus ini menarik karena memancing emosi banyak orang.

Semua media itu berbahasa satu: menokohkan sang ibu muda sebagai pahlawan, pejuang internet yang dikorbankan karena menyuarakan suara konsumen. Sebaliknya, semua media membuat rumah sakit tampak seperti penjahat. Emosi yang ditimbulkan kepada masyarakat sangatlah besar. Sampai-sampai ada orang yang lewat di depan rumah sakit itu dan langsung timbul rasa marah. Di media online semua memasang bendera dukungan kepada si ibu, serentak semua pengguna internet menunjukkan solidaritas yang sangat besar kepada si ibu, dan sebaliknya gerakan “say No” pada rumah sakit itu tidak kalah besarnya.

Semua orang PR pasti paham bahwa ini adalah mimpi buruk dunia PR. Harian Jakarta Post menulis kasus ini sebagai PR Suicide. Dan sayangnya, kasus ini bukan hanya sebuah mimpi. Ini benar-benar terjadi, di Indonesia, tanah air kita tercinta, dan siapa pun pengguna Internet pastilah sudah tahu siapa yang saya maksud.

Saya membayangkan, ketika terjadi kasus Prita Mulyasari vs RS OMNI, banyak praktisi PR yang merinding, membayangkan apabila hal itu terjadi pada mereka. Serentak terlepas doa yang sama dari batin mereka: Ya Tuhan, jangan sampai hal itu terjadi pada saya…

Kasus Prita Mulyasari adalah pembelajaran online yang sangat menarik. Karena itulah, dalam seminar bertajuk “Strategi Menghadapi Krisis Manajemen di Internet” tanggal 29 Juli 2009 yang berlangsung di hotel Intercontinental Jakarta, Midplaza, Nukman Luthfie menguraikan kronologi kasus itu. Bagaimana sebuah surat elektronik yang dikirim ke teman-teman akhirnya bergulir menjadi sebuah mimpi buruk dunia PR.

Nukman menjelaskan, baik RS OMNI maupun Prita bukanlah siapa-siapa. Sebelumnya, tidak ada yang membicarakan tentang mereka di Internet. Search di Google pun tidak ada. Tiba-tiba saja, dalam periode Mei dan Juni 2009, kedua nama itu menjadi nama yang paling banyak dibicarakan orang. Hal ini ditandai dengan trend search di Google. Prita mengalahkan Manohara, bahkan mengalahkan hits sepanjang masa di Indonesia yaitu Rahma Azhari.

Dengan detil Nukman menjelaskan bagaimana kasus itu membesar, mulai dari blog, facebook, dan juga media-media online besar. Dalam dua bulan, ada 27.842 posting di blog mengenai kasus itu, tak satu pun yang membela RS OMNI. Semuanya negatif. Tidak butuh waktu yang lama, dalam waktu lima hari saja, dukungan bagi ibu Prita Mulyasari di Facebook mendapatkan lebih dari 180.000 anggota.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Nukman menjelaskan dengan menghadirkan juga beberapa tokoh di dunia internet. Menurut Nukman, di setiap media yang berpengaruh besar itu selalu ada tokoh yang menjadi influencer. Ndoro Kakung, Enda Nasution, Ari Julianto Gema, Hanifah dari Fashionese Daily, Niam Masykuri dari mailing list Parents Guide dan Budiman Hakim dari mailing list CCI (Creative Circle Indonesia) adalah beberapa tokoh yang tampil dalam seminar tersebut mewakili tokoh-tokoh di dunia online yang memiliki basis massa.

“Para blogger sudah seperti kiai,” kata Nukman. Mereka mempunyai pengikut yang sangat radikal. Begitu Ndoro Kakung berkata begini, semua pengikutnya akan berkata begini juga. Karena itu, kata Nukman, para PR, dekatilah mereka-mereka ini, karena mereka adalah orang-orang yang mempunyai pengaruh besar di dunia online.

Turut hadir sebagai pembicara dalam seminar itu adalah Budiono Darsono, pemimpin redaksi dan pendiri Detik.com. Budiono menjelaskan bagaimana kekuatan people power melalui media. Bahkan media besar seperti Detik.com yang selalu menjadi trendsetter media-media lain, seringkali mendapatkan sumber berita dari masyarakat umum.

Seperti pada kasus bom JW Mariott dan Ritz Carlton baru-baru ini, Detik mendapatkan informasi dari seorang pembacanya bernama Amelia melalui email. Informasi itu tidak serta-merta dipublish oleh Detik. Sebagai media Detik harus mengecek kebenaran berita tersebut, di antaranya dengan menghubungi sumber-sumber berita, misalnya Polda. Karena itulah, kata Budiono, berita akan lebih cepat menyebar lewat jejaring sosial seperti Twitter dan Facebook.

Detik mendapatkan sumber berita dari mana-mana. Dari Blog, Facebook, Twitter, email dari pembaca, dengan kata lain, dari user, selain dari sumber-sumber berita konvensional. Press Release adalah hal terakhir yang ditengok redaksi Detik menurut Budiono. Setiap hari redaksi Detik menerima lebih dari 1.000 email dari pembacanya. Era web 2.0 membuat media harus berkolaborasi dengan user-nya. Posisi media dan pembaca (user)-nya seperti dijelaskan Budiono tidak lagi Production & Consumption, tetapi Consumption, Production, & Collaboration.

Yang menarik kemudian adalah apa yang terjadi pada Teh Botol Sosro. Mungkin Anda masih ingat, beberapa saat yang lalu tersebar email-email Hoax bahwa Teh Botol Sosro mengandung racun.

Ronny Jatnika, Marketing Head Sosro yang juga salah satu pembicara seminar menjelaskan betapa kasus tersebut berpotensi menjadi krisis. Dalam bahasa lain, Nukman mengatakan kasus Teh Botol Sosro berpotensi untuk meng-OMNI, seandainya saja pihak Sosro tidak bertindak cepat.

Mengapa demikian, karena konten email yang disebarkan mempunyai komponen emosional yang sangat kuat. Isi email itu adalah seorang anak miskin, menunjukkan gejala kecanduan, ibunya bernama Martini, menemukan berita mengenai kandungan berlebihan hidroxylic acid (atau nama resminya dalam format IUPAC adalah dihidrogen monoksida) di dalam Teh Botol Sosro dari internet. Ia langsung ingat, anaknya tadi siang baru saja menghabiskan tiga botol teh yang dibungkus dalam berbagai kemasan dan merk. Bahan baku utama teh Sosro bukan teh alami, tapi hidroxylic acid sehingga rasanya lebih enak daripada yang lain. Hidroxylic acid adalah zat berbahaya kalau berlebihan.

Gejala kecanduan, anak-anak, dan ibu miskin, adalah tiga komponen yang menurut Ronny, sangatlah emosional. Ditambah penguatan konfirmasi dari seorang dokter bernama Priyadi Handoko (yang kalau di-search tidak ditemukan itu), maka email itu sangat berpotensi membuat masyarakat ketakutan, dan tidak berani minum teh Botol Sosro.

Pihak Sosro memperoleh informasi hoax ini dari seorang penjualnya melalui email. Kasus ini melibatkan puluhan ribu retailer yang adalah penjaja minuman di jalanan, hal inilah yang membuat Sosro merasa harus bertindak cepat, sebelum hoax ini semakin menyebar luas dan menyebabkan dampak negatif bagi pedagang-pedagang kecil itu.

Tindakan cepat Sosro dimulai dari internal. Yang paling penting karyawan harus tahu, dan karyawan perlu tahu bahwa manajemen sudah tahu mengenai issue tersebut. Menurut Ronny, CEO sendiri yang turun memberikan pengarahan kepada karyawan.

Setelah itu, komunikasi eksternal pun dilakukan, melalui mitra bisnis (agen, retailer), media (situs perusahaan, blogger, milis), dan konsumen.

Kunci dari upaya penanganan itu, menurut Ronny, adalah kecepatan, diikuti dengan kebenaran dan kelengkapan informasi. Karena ini merupakan manajemen krisis, maka tidak perlu lagi mempergunakan SOP manajemen regular. Pihak Sosro juga memutuskan untuk tidak membawa kasus ini ke ranah hukum.

Sebagai pemungkas dari seminar itu, Nukman menyimpulkan bahwa respon awal terhadap krisis kuncinya harus cepat, akurat, dan konsisten. Setelah itu libatkan publik online untuk memperbaiki reputasi. Usahakan perusak reputasi online untuk terlibat dalam perbaikan reputasi tersebut.

Agar mimpi buruk OMNI tidak terjadi pada Anda, sebaiknya sekarang mulai waspada mengidentifikasi potensi krisis. Dalam hal ini, memiliki situs web perusahaan sangat penting, karena apabila terjadi kebingungan informasi, user akan mencarinya ke sumber yang terpercaya, yaitu situs web perusahaan.

Nukman juga menasihatkan agar para PR mencegah sedini mungkin agar tidak muncul krisis dengan memantau pergerakan isu di social media.

“Para PR yang belum mempunyai akun Twitter, pulang dari seminar ini, segeralah bertobat,” demikian kata Nukman.

Readmore »»

Friday, July 24, 2009

Photos from Pangandaran & Green Canyon Trip 17-19 July 2009

Photos taken July 18, one day after the bomb at JW Mariott and Ritz Carlton Hotel, the crowds at Pangandaran beach over the weekend shows that life in Indonesia goes on normally despite the bomb.























Readmore »»