Friday, July 03, 2009

Yes, Internet changes the world, but when it's gonna happen here?

Mr. Nakka, bukan nama sebenarnya, baru saja datang dari Tokyo ke sebuah kota yang not-so-remote di Indonesia. One of the things he first learned about Indonesia, among other things, sayangnya adalah, koneksi internetnya yang, very, damn, slow.

"Could you help me check this page," kata Mr. Nakka suatu hari di telepon kepada saya, "Coz my internet connection is terribly slow here."

Wah... sama dong, dalam hati saya. Bedanya, saya yang sudah lama tinggal di daerah yang supposed to be not so remote itu, sudah terlatih, dengan speed internet seperti itu. Kami biasa melakukan seperti ini: Klik, lalu tunggu... beberapa detik, atau kadang beberapa menit. Lalu, in order to stay productive (karena kami tidak dibayar untuk duduk dan menunggu hingga page-page itu terbuka), maka kami pun melakukan pekerjaan lain. Membuka page yang lain, atau membuka beberapa task yang lain, yang saking banyaknya, hingga kami sering lupa apa yang sedang kami kerjakan atau page apa yang kami buka tadi. Tidak jarang hingga mendekati jam pulang, ketika kita mulai menutup jendela-jendela itu, barulah kita sadar, oh iya, gue lagi ngerjain ini.

Itulah salah satu gambaran survival mode yang kami lakukan untuk mengatasi internet di daerah yang not-so-remote ini.

Jadi, kembali ke Mr. Nakka, aku pun meng-klik page yang diminta si ganteng, yang menurut teman-teman mirip bintang film porno Jepang tapi kami biasa menyebutnya sebagai Takeshi Kaneshiro biar lebih gampang aja dalam sebuah percakapan. Setelah klik, aku pun menunggu. Bagi seorang yang sudah terlatih seperti aku, menunggu seperti ini bukan suatu hal yang aneh.

Terbayang olehku, Mr. Nakka pasti terus mengumpat menghadapi kecepatan internet seperti ini. Kami tahu bagaimana rasanya. Kami pernah tinggal di suatu tempat dengan koneksi internet yang lebih manusiawi. Koneksi internet yang wajar karena kita bisa membuka gmail, facebook, youtube, dan penyedot-penyedot bandwidth lain yang datang dari luar negeri itu, tanpa mendapatkan pesan "Network Timeout" berulang-ulang. Apabila kecepatan internet seperti ini adalah kondisi mainstream di Indonesia, maka aku merasa seperti seorang raja yang turun melihat kondisi kehidupan rakyat jelata ketika pindah dari koneksi cepat (baca: wajar) ke dalam koneksi internet yang seperti sekarang ini.

Aku dapat membayangkan apa kata Mr. Nakka meski dia terlalu sopan untuk mengatakannya. "Is this what you called internet??????" I think this is more like a training machine (for patience). I think I would have to go to yoga class or anger management training if everyday I have to confront this "speed" of Internet.

Demikianlah. Dengan sopan Mr. Nakka hanya bilang, ya, koneksi, itulah masalah dengan perkembangan internet di Indonesia. Dari tempat dia datang, misalnya, membeli barang di Internet sudah menjadi hal yang sangat biasa. Hampir sama dengan nonton TV di sini. Situs-situs e-commerce bertebaran dan memberikan persaingan yang layak untuk membuat sebuah ekonomi berputar. Nilai transaksi sudah tinggi, sehingga mereka pun mampu membayar iklan, yang juga nilainya sudah tinggi ketika yang kita maksud adalah iklan online.

Sampai ke point seperti inilah, kurasa baru bisa disebut bahwa internet telah mengubah dunia. Karena secara total perilaku konsumen, perilaku masyarakat, budaya, telah berubah. Di sini, meskipun telah terjadi banyak perubahaan/kemajuan, sudah banyak orang yang online setiap hari, minimal satu jam misalnya, tapi perubahannya belum cukup fundamental untuk menjangkau hingga ke akar-akar masyarakat. Maksud saya, dengan kecepatan rata-rata download 0,46 mbps dan upload 0,61 mbps, bagaimana kamu mengharapkan internet dapat mengubah dunia???

Masyarakat kita secara umum, budaya kita, sayangnya, masih didominasi oleh televisi. Televisi, yang penuh drama, masihlah influencer terbesar. Internet belum bisa menggeser kedigdayaan televisi. Itulah sebabnya, as much as I hate it, I have to watch television. Karena pekerjaanku yang berhubungan dengan marketing, aku tidak bisa menyuekin televisi. Sebab dari situlah kita bisa belajar tentang perilaku market secara umum.

Sebelum ada perubahan infrastruktur internet kita, saya rasa "internet changes the world" hanyalah term yang terlalu berlebihan untuk kita. I think we're gonna have to stuck with TV for a while.



Readmore »»

Thursday, June 04, 2009

Taiwan, "Move Forward" to Become Global Player

Move Forward adalah tema/slogan Computex---pameran komputer dan ICT tahunan di Taipei, Taiwan---tahun ini. Pameran yang diikuti lebih dari 1,700 exhibitor dan 4,600 booth ini semakin banyak mendapat perhatian internasional seiring dengan perkembangan peran Taiwan dalam industri ICT (Information and communication Technology) dunia akhir-akhir ini. Slogan Move Forward seolah mengukuhkan cita-cita Taiwan untuk menjadi pemain global.



Sudah lama Taiwan dikenal sebagai salah satu manufaktur produk-produk komputer dan ICT untuk brand-brand global seperti Apple, Hewlett-Packard, dan Motorola. Perusahaan-perusahaan Taiwan menyuplai komponen untuk perangkat-perangkat tersebut, bahkan tak jarang juga merakit/membangun sebuah produk jadi, contohnya laptop, dengan spesifikasi yang persis seperti permintaan para brand-brand besar itu. Produk itu lalu dipasarkan di bawah nama brand besar tersebut.

Namun belakangan ini, Taiwan tidak lagi hanya dikenal sebagai pemain background, tetapi berkat beberapa brand yang penjualannya melesat pada masa krisis ini, nama-nama Taiwan mulai masuk dalam jajaran brand ICT dunia. Sebut saja Acer contohnya. Saat ini Acer telah mengancam kedudukan Dell sebagai pembuat PC kedua terbesar di dunia setelah Hewlett-Packard. Perusahaan Taiwan yang lain, Asustek, telah menggemparkan dunia dengan netbook kecil dan ringannya yang fenomenal, Eee PC.

Selain kedua nama tersebut, HTC juga nama Taiwan lain yang sudah melenggang di panggung global. HTC membangun smartphone pertama yang menggunakan operating system (OS) Android dari Google.

Setelah ketiga perusahaan ini, pemerintah Taiwan terus mendorong perusahaan lain untuk "move forward" dari pemain di belakang layar untuk berani tampil sebagai brand yang bersaing dengan brand-brand dunia.

Hal ini terlihat pada pameran Computex tahun ini. Biasanya, event ini lebih banyak menunjukkan komponen-komponen manufaktur kepada calon partner, seperti power supply atau kipas untuk mendinginkan komputer. Namun beberapa tahun belakangan ini, pameran telah didominasi oleh produk yang langsung dapat digunakan oleh konsumen.

Dua tahun yang lalu, Asustek memperkenalkan Eee PC pada pameran ini. Sekarang, hampir semua pembuat komputer membuat produk yang serupa. Pada Computex tahun ini, perusahaan-perusahaan komputer berlompa memamerkan laptop super tipis yang berharga
kurang dari 600 USD. Sementara perusahaan seperti Intel dan Microsoft memamerkan chip dan software yang cocok untuk laptop murah dan sangat tipis, ataupun komputer dengan teknologi layar sentuh yang canggih. Tahun depan, diharapkan Computex akan memamerkan smartphone baru yang menggemparkan, sebuah telepon yang mendekati kemampuan PC.

Waw... sampai di sini, kita hanya bisa merasa salut untuk Taiwan, sambil mengajukan pertanyaan yang membosankan itu lagi---kapan ya kita bisa begini? :D


Readmore »»

Have You Tweet?



Saya masih enggan menggunakan twitter.com hingga akhir-akhir ini. Sebenarnya sih sudah lama mendaftar di twitter, tetapi tidak pernah di-update. Pengguna Twitter di Indonesia pun belum banyak, data bulan lalu dari Google Ad Planner menunjukkan, Twitter tidak masuk dalam 100 top sites yang diakses orang Indonesia.

Baru akhir-akhir ini kita mulai sering mendengar Twitter dibicarakan, contohnya di radio. Beberapa seleb kita sudah menggunakan Twitter. Mereka juga sibuk mengikuti (follow) beberapa seleb luar negeri. Twitter sepertinya akan hot sebentar lagi.

Twitter menawarkan sesuatu yang berbeda, dia hadir di antara social media yang sedang marak dengan bentuk yang khas. Twitter adalah sebuah layanan jaringan sosial gratis berbentuk micro-blogging yang memungkinkan seseorang mengirim dan membaca update dari user lain. Posting dari user yang disebut tweet berupa teks 140 karakter, ditampilkan dalam halaman profil user dan akan dibaca oleh orang-orang yang mendaftar pada mereka (disebut sebagai follower). Pengirim pesan dapat membatasi pesan mereka dibaca hanya oleh teman-teman saja atau siapa saja yang membuka halaman mereka. User dapat menerima dan mengirim tweet melalui website Twitter, SMS, dan juga aplikasi lainnya.

Pola seperti ini membuat Twitter berkembang menjadi tidak hanya sebuah alat mencurahkan perasaan atau komunikasi antar teman saja, tetapi telah digunakan menjadi alat marketing. Sejak diluncurkan tahun 2006, perkembangan Twitter amat pesat. Dia tercatat sebagai salah satu situs web dengan perkembangan tercepat di dunia. Bulan Februari 2009 Compete.com menampilkan Twitter sebagai situs jaringan sosial ketiga terbesar setelah Facebook dan MySpace.

Berkenaan dengan itu, menarik mencermati penemuan terbaru dari Harvard Business School. Hasil riset ini dipublikasikan dua hari yang lalu (1 Juni), berisi beberapa fakta demografis yang mengejutkan tentang pengguna Twitter.

1. Twitter is male-centric. Pria cenderung mengikuti update (follow) pria lain sementara Wanita juga lebih cenderung follow pria. Padahal mayoritas pengguna Twitter adalah wanita (55%). Pria juga memiliki 15% lebih banyak follower dibanding wanita.

Hal ini bertentangan dengan situs jaringan sosial yang lain, di mana baik pria dan wanita lebih cenderung mengikuti update dari wanita.

2. Berlaku hukum 90:10. 90% tweet ditulis oleh hanya 10% twitterer yang aktif. Hampir separuh pengguna Twitter hanya menggunakan Twitter sekali dalam 74 hari.

Pada kebanyakan situs jaringan sosial, 10% pengupdate teraktif hanya menyumbang 30% dari seluruh content yang ada. Ini menunjukkan, Twitter lebih seperti Wikipedia (daripada Facebook), di mana 15% kontributor teraktif memproduksi 90% dari seluruh konten. Fakta ini membuat peneliti Bill Heil dan Mikolaj Piskorski menyimpulkan, komunikasi yang terjadi di Twitter adalah one-to-many atau one way communication dan bukan two way communication atau peer-to-peer.

Bila benar begitu, berarti benar dugaan saya dan yang menjadi alasan banyak orang menggunakan Twitter, bahwa keasikan menggunakan Twitter adalah seperti berlangganan sms berisi update dari sang idola, dan ini ditulis oleh idola itu sendiri. Kebanyakan seleb mengaku menulis sendiri Twitter-nya. Tidak hanya seleb, banyak tokoh lain (CEO dll) juga termasuk dalam 10% kontributor utama Twitter itu.

Anda sebagai pemilik brand juga bisa. Sebenarnya, pintar-pintarnya kita menggunakan Twitter sehingga terjadi percakapan (tidak hanya one-way communication). Kita bisa merangsang follower kita untuk berkomentar dan memberi masukan yang dapat berguna untuk produk/brand kita misalnya.

Yang jelas, penemuan terbaru menunjukkan begitulah pola penggunaan Twitter. Untuk saat ini. Kita belum tahu bagaimana perkembangannya selanjutnya. Jadi sudahkah Anda menggunakan Twitter?


Readmore »»

Wednesday, April 29, 2009

Hati-hati Pake Axis

Gara-gara promosi dari teman saya (sudah dua orang teman yang memakai data card Axis) saya pun tergoda untuk mencobanya. Biar bisa koneksi internet di mana saja menggunakan 3G Modem.

Paket yang ditawarkan Axis cukup menggiurkan, Rp 1,388 juta sudah termasuk modem dan koneksi internet selama 12 bulan dengan batas pemakaian per bulan 500 MB. Untuk provider lain, membeli modemnya saja sudah 1 juta lebih. Well, namanya juga promosi bundling begini memang seharusnya lebih murah. Dan saya pikir 500 MB cukup banyak, cukup lah untuk pemakaian email dan browsing sehari-hari. Hal ini juga sudah saya tanyakan kepada teman yang sudah memakai sebelumnya, dia bilang segitu cukup banget untuk pemakaian dia.

Ternyata... Saya mulai pakai sejak tanggal 20 April. Hari ini, tanggal 29 April, sudah tidak bisa konek. Saya cek di statistik-nya (gambar di bawah ini) pemakaian saya per bulan hanya 69,35 MB. Dari pemakaian saya selama ini juga tidak berat, paling download beberapa file yang dikirimkan teman. Tidak mungkin pulsa saya habis. Saya hubungi customer service-nya.

Customer Service yang bernama Boy yang menjawab telepon saya. Setelah menunggu agak lama (biasa, kalau telepon customer service selalu harus menunggu dan dikasih musik), dia mengecek nomor saya dan ternyata kata dia pulsa saya sudah habis. "Lho, kok bisa?" kata saya. Kalau memang sudah habis, mengapa tidak ada informasinya kepada konsumen? Lah saya tahu dari mana bahwa pulsa saya akan habis, padahal yang tertera di statistiknya hanya segitu.

Menurut Boy yang entah belum makan atau bete sama pacarnya sehingga menjawab dengan tidak sabar, dengan kekeh dia mengatakan "menurut data di kami pemakaian ibu sudah 500-sekian MB, karena itu batas pemakaian ibu untuk bulan ini sudah habis."

Hah? Saya sih tidak mempermasalahkan kalau memang benar-benar habis, tetapi apakah konsumen tidak diberi hak untuk tahu pemakaiannya? Mengapa yang tertera di tempat saya hanya 69,35 MB? Saya malah pikir sisa pulsa saya masih banyak, masih mau download file-file lain, karena kalau tidak dipakai dalam waktu satu bulan akan hangus. Lah tiba-tiba dikasih tahu pulsa saya sudah habis? Trus, apakah saya harus sering-sering telepon ke Axis dan menanyakan pulsa saya? Kata Boy data yang di saya belum direfresh, data di sistem Axis mengatakan sudah 500-an. Buset... Kekeh dia. Customer service yang sangat tidak helpful.

Gimana saya gak kesel? Saya rasa sebagai konsumen saya berhak marah kalau begini caranya. Siapa yang menyedot pulsa saya? Atau kalau memang sudah habis, gimana saya mengeceknya?

Boy yang sangat tidak helpful hanya bisa menyarankan saya untuk isi pulsa lagi. Yah nenek-nenek juga tahu kali... Bukan itu masalahnya... sekali lagi... gimana saya tahu pemakaian saya kalau begini caranya...???? Katanya GSM yang baik??? Kok kayak gini ya???????

Lalu saya, tanya, kapan saya bisa konek lagi (kan per bulan itungannya 500 MB itu), kata dia "silakan dicoba tanggal 1." Yang bener nih, saya gak yakin karena saya mulai aktifnya tanggal 20, bukan dari tanggal 1. Iya, silakan dicoba saja, jawab Boy dengan nada enggak sabar. Saya tanya "Maksudnya silakan dicoba? Memangnya belum pasti tanggal satu bisa konek?" Dia ngulang lagi "Silakan dicoba aja." Ggggggrrrrrrrrrrrrrr... Akhirnya saya paksa lagi hingga dia mengaku, "iya udah pasti tanggal 1 bisa konek lagi."

Awas ya kalau tanggal 1 gak bisa konek.

Readmore »»

KL (Kuala Lumpur) Photos





Readmore »»

Tuesday, April 28, 2009

Langkawi Photos (2): Pantai Cenang dan Tanjung Rhu



















Readmore »»

Langkawi Photos (1) : Cable Car Makcincang



















Readmore »»

Melaka Photos





















Readmore »»

Friday, April 24, 2009

Hari keempat dan kelima: KL-Genting-KL

Setiba di KL, tugas pertama adalah mencari hotel. Jangan ditiru ya, kalau mau travel nanti sebaiknya booking hotel terlebih dahulu. Terutama di KL pada akhir pekan, ternyata cukup sulit mencari hotel. Singkat cerita, akhirnya kami memilih sebuah hotel yang agak jauh dari keramaian---karena semua hotel di daerah Bukit Bintang penuh---tetapi dekat LRT (MRT-nya Malaysia). Hotel Maluri namanya, salah seorang teman telah membaca tentang hotel ini di internet.

Setelah beres-beres di hotel, kami pun keluar. Cari makan, cari info. Pada saat ini masih belum tahu bagaimana cara menuju Genting Highland. Sudah baca sih mengenai harus naik bus menuju Skyway lalu naik cable car untuk naik ke atas, tapi naik busnya di mana? Akhirnya, setelah tanya-tanya, ternyata kita harus kembali lagi kita ke Puduraya. Di sini memang pusat segalanya. Maka, kalau cari hotel disarankan dekat-dekat sini saja, terutama buat yang mau travel lagi ke kota-kota lain.

Tiket bus ke Genting Highlands 8,5 RM sekali jalan, sudah termasuk biaya cable car (5 RM). Jarak antara KL-Genting sekitar 1 jam, pada saat kami pergi agak macet karena wiken. Ini seperti Puncak-nya Jakarta deh, daerah pegunungan yang dingin yang
disulap menjadi pusat entertainment dan perjudian. Pada jam 11 ketika kami membeli tiket bus, bus selanjutnya yang available adalah jam 14.30. Karena itu, biar lebih aman kami pun langsung membeli tiket kembali ke KL, yaitu bus terakhir pukul 20.00.

Sebelum berangkat ke Genting ada waktu jalan-jalan di sekitar Puduraya, kami memilih mengunjungi Bukit Bintang lagi, daerah pusat perbelanjaan dan Chinatown. Di sini bisa mall-hopping, ada Pavillion, KL Plaza, Sungei Wang, dll. Bisa nyari Vincci di sini.

Genting

Ngapain sih ke Genting? Itu kan tempat judi. Yah, gitulah. Udah tahu begitu kami tetap mau datang, ya namanya juga belum pernah. Penasaran kan pengen tahu seperti apa, apalagi banyak orang Indonesia yang datnag ke sini.

Di sinilah pertama kali aku merasa sangat bosan dalam trip ini. Khususnya ketika berada di dalam Kasino-kasino yang gemerlapan. Alat-alat permainan beraneka ragam yang membuatku merasa asing karena tak satu pun kukenali. Roulette, jackpot, angka-angka besar dan kecil, angka-angka warna-warni, kartu, dadu berbagai bentuk, dan orang-orang Cina mengadu nasibnya. Di sinilah tak satu pun kulihat wanita berjilbab (ya iyalah kaliii), tidak seperti di tempat-tempat lain di Malaysia.

Untuk sampai ke sini, selain apabila Anda naik mobil pribadi, maka harus nyambung pake cable car (setelah naik bus). Cable car-nya cukup jauh, sekitar 20 menit. Yang ini lebih slow dibanding cable car yang di Langkawi dan malah membuat aku lebih gugup. Kalau yang Langkawi aku santai-santai saja, bahkan sibuk motret ketika teman-teman pada ketakutan. Kalau cable car yang ini aku agak merasa khawatir dengan bunyi nget ngot nget ngot seperti besi tua ketika cable car digeret ke atas.

Karena sudah pesan bus pukul 20.00, maka waktu yang kita miliki cukup banyak. Sampai bingung mau ngapain lagi, liat kasino sudah, liat entertainment park sudah, keliling-keliling naik trem wisata untuk merasakan udara yang sejuk dan berkabut, sudah. Akhirnya, shopping lagi deh. Di sini ada toko yang menjual cemilan yang sangat lengkap, dan juga ada sebuah toko menjual teh Cina yang antik. Kami mencoba guilin kau yang enak banget. Harganya juga mahal, 8 RM satu mangkok bow.

Malam itu berakhir di Petaling Street, sebuah jalan yang ramai sekali dengan pedagang kaki lima dan toko-toko. Mirip seperti

Pasar Baru. Ini daerah Chinatown deh, banyak makanan Chinese yang enak. Ini bukan pertama kalinya kami mampir ke Petaling. Karena dekat dengan Puduraya, kadang sambil menunggu jadwal bus bisa mencuri waktu untuk jalan-jalan ke sini. Malam ini kami mencoba nasi claypot ayam, semacam nasi campur atau nasi hainam ayam yang dimasak langsung dan dihidangkan dengan claypot yang masih berasap-asap. Enak banget deh apalagi sehabis hujan, ditambah dengan semangkok sayur asin (ham choi).

Kuala Lumpur

Keesokan paginya, masih banyak waktu untuk jalan-jalan di KL sebelum say goodbye to Malaysia. Pukul 20.50 pesawat kami, itu berarti pukul 18.00 sudah harus berangkat ke airport.

Hari ini kami jalan di Suria KLCC, mal di bawah twin tower (menara Petronas) yang terkenal itu. Tempatnya menyenangkan, malnya bagus. Terutama yang membuat aku paling senang adalah Kinokuniya-nya. Boleh dibilang adalah tempat kedua dimana aku merasa sudah mati dan masuk surga hehehe (setelah toko minuman di Langkawi).

Setelah puas di sini kami pindah ke Jusco, sebuah dept store yang dekat dengan hotel kami. Kenapa ke sini? Karena di sini ada Vincci, dan dari kemarin udah masuk beberapa Vincci belum juga ketemu yang cocok.

Karena masih ada waktu, kami pun duduk di Old Town White Coffee, outlet ngopi milik Malaysia sendiri. Keren euy, tempatnya bagus, layak untuk jadi tempat kongkow, selevel Starbucks. Tapi guess what, harganya murah. 1 cangkir kopi 2,5 RM (kira-kira
8 ribu rupiah deh). Dan rasanya enak. Orang-orang Malaysia senang nongkrong di sini. Ngopi dengan roti bakar isi kaya yang terkenal sambil ngerokok. Buat apa ke Starbucks kalau ada beginian?

Cafe seperti ini bisa dibikin di ruko, di pinggir-pinggir jalan di Bukit Bintang yang ramai pun banyak cafe yang menaruh kursi-kursinya di pinggir jalan. Bisa gak dibayangin kalau itu di Jakarta? Agak sulit ya? Semua cafe di Jakarta di dalam mal,
tidak dalam mal pun, misalnya di ruko-ruko, pasti di indoor. Yah, kalau di outdoor banyak pengemis kali ya... banyak debu pula, tukang parkir yang teriak-teriak, dll..

Yahh itulah negara kita tercinta. Meskipun banyak pengemis, banyak pula Alphard dan Jaguarnya. Di Malaysia selama lima hari saja, aku baru beruntung melihat 1 Jaguar saja. Mereka suka menggunakan mobil-mobil kecil yang irit bensin dan irit space parkir. Mobil-mobil seperti Kancil atau Ceria yang tidak begitu diminati di Indonesia, banyak terlihat di sana. Fashion yang dikenakan orang Malaysia pun biasa-biasa saja. Tidak terlalu wah. Blackberry tidak sebanjir di Jakarta. Tetapi, dengan penghasilan rata-rata 3000 RM (sekitar 9 jutaan rupiah), dan harga transportasi serta makanan yang terjangkau, dugaan saya rakyat Malaysia bisa menabung lebih banyak dibanding kita. Untuk membeli rumah, membeli mobil, dan jalan-jalan ke luar negeri.

Secara keseluruhan, surprisingly, Malaysia cukup menyenangkan. Negara yang identitasnya dibangun oleh 3 etnis dominan dengan budayanya masing-masing. Melayu, China, dan India. Di beberapa tempat kamu akan lupa sedang berada di Malaysia, karena orang-orang Cinanya berteriak dengan bahasa Kanton, dengan kekasaran khas Hongkong ketika menghidangkan makanan. Dan di tempat-tempat lain, bau bawang bombay menguasai udara, dan kamu dikelilingi orang-orang berkulit sangat gelap, sehingga kamu mengira sedang berada di India. Biar gimana pun, salah satu faktor yang membuat Malaysia menyenangkan, adalah makanannya. Chinese food-nya cocok dengan lidah aku, roti canai, teh terik, bakut teh, semuanya enak.

(the end)

Readmore »»

Thursday, April 23, 2009

Hari ketiga: Langkawi-Kuala Perlis-Arau-Kangar

Hari kedua di Langkawi, masih ada waktu untuk jalan-jalan sebelum bertolak lagi ke destinasi selanjutnya. Selanjutnya agendanya adalah kembali lagi ke KL untuk jalan-jalan di KL sendiri dan ke Genting. Sesuai dengan rencana, kami ingin mencoba
kereta api di Malaysia. Bila perginya naik bus, pulangnya ingin naik kereta. Biar lengkap semua moda transportasi dicobain. Kereta terdekat dari Kuala Perlis adalah dari stasiun Arau, pukul 17.30 tujuan Kuala Lumpur.

Karena itu, menurut itung-itungan waktu, paling tidak jam 15.00 kita sudah harus cabut dari Langkawi. Itu berarti, waktu kita tinggal sekitar 4 jam. Karena, biasalah, sehabis breakfast dan beres-beres, tak sadar waktu sudah pukul 11.00.

Selain pilihan naik taksi dan nyewa mobil yang nyetir sendiri itu, ada satu lagi paket kendaraan yang bisa dipilih, yaitu menyewa mobil (dan disetirin) selama 4 jam 100 RM. Karena pas dengan sisa waktu yang kami punya, ya udah kami ambil paket yang ini.

Di Langkawi banyak obyek wisata yang bisa dikunjungi. Ada Danau Dayang Bunting, bisa juga mengambil paket-paket yang banyak ditawarin, seperti island hopping (lewatin pulau-pulau kayak di pulau Seribu gitu), paket menyusuri hutan bakau (mangrove), Cable car dan daerah Makcincang dan sekitarnya (ini sudah kemarin), pantai kok, dan Pantai Tanjung Rhu. Dengan waktu yang terbatas, maka kita harus pandai memilih tempat yang akan kita kunjungi.

Jangan percaya kalau ada yang bilang enggak perlu ke Tanjung Rhu. Mereka akan bilang alasannya karena sepi. Di sana hanya ada 2 resort, Four Season dan Tanjung Rhu Resort. Dua-duanya sangat high class, di atas bintang lima kali ya. Publik tidak boleh masuk, tetapi untuk Tanjung Rhu resort, kita bisa masuk ke pantainya dari pantai di sebelahnya yang merupakan pantai umum.

Pantai Tanjung Rhu sangat indah. Inilah pantai yang lebih mirip dengan yang ada di film. Tempatnya sepi. Warnanya biru dan hijau benderang, dilapisi putih berkilauan di bawahnya, semuanya menggaungkan kemalasan dan kedamaian di udara. Hanya ada beberapa tamu hotel yang berenang di pantai, bule-bule kaya dengan bikini. Puas deh menikmati pantai ini.

Setelah itu kami memilih melihat Air Terjun Temurun, yang menurut rekomendasi orang hotel paling bagus. Air terjun lain Telaga Tujuh bisa dilihat dari atas ketika naik cable car. Di Air terjun Temurun kami hanya sebentar, kira-kira 30 menit, puas berfoto-foto, bernarsis-narsis ria, kami pun bertolak ke obyek selanjutnya.

Selanjutnya, Pantai Tengkorak, juga rekomendasi orang hotel, pantai ini kecil dan tidak begitu bagus. Hanya sejenak, kami pun lanjut. Bapak sopir kami merekomendasikan melihat Pantai pasir Hitam juga, meskipun tidak bagus-bagus banget, tapi tidak ada salahnya mampir sebentar. Ya, gitulah... gak ada apa-apanya, hanya pantai berpasir hitam (kalau di kita, jadi pantai yang kotor, tetapi di sana bisa dijadikan obyek, hihihi, kreatif). Selanjutnya kami hendak mengunjungi sebuah taman buah (MARDI) tapi ternyata tutup. Padahal itu pun waktu kami tidak banyak lagi, karena setelah itu masih mau mampir ke Billion, sebuah supermarket duty free untuk membeli barang yang belum sempat dibeli kemarin. Wah, empat jam benar-benar singkat, lalu kami kembali ke hotel, ambil barang, dan bertolak ke jetty point, untuk menyeberang kembali ke Kuala Perlis.

Arau

Dari Kuala Perlis naik taksi ke stasiun kereta api Arau 24 RM. Cukup jauh juga ternyata. Sampai di sana reaksi kami semua sama. "Hah? Kecil banget?" Stasiun keretanya hanya seperti sebuah pondok kecil, sebuah pintu masuk yang mengantar kita ke sebuah rel kereta, dimana di sampingnya ada beberapa bangku saja untuk menunggu kereta. Di sisi kanan sebuah pos untuk membeli tiket. Saat itu kira-kira pukul 16.30, kami mau membeli tiket pukul 17.30. Nekad banget ya... (khas gue nih, traveller last minute hehehe) Dan benar. Tiket ke KL habis. Biasanya tidak begini, katanya. Karena wiken, banyak yang 'turun' ke KL. Yang tersisa hanya tempat sleep yang di atas, tinggal tiga, mau diambil enggak? Harus segera, karena di belakang kita sudah ada yang mengantri dan mau mengambil apabila kita tidak mau.

Aku udah pernah naik kereta di bagian upper sleep, waktu dulu dari Bangkok-ChiangMai. Aku gak suka, rasanya sempit, gak bisa duduk, sejak naik kereta hingga tiba harus berbaring terus. Perjalanannya cukup jauh, karena naik kereta lebih slow daripada bus, dan banyak berhentinya. Kami sebenarnya lebih memilih yang duduk, ya sudah akhirnya diputuskan tidak jadi. Kami kembali ngebis.

Dari Arau naik bis menuju terminal Kangar. Ada bis umum, tarifnya 1,8 RM. Bisnya keren banget lho, sumpah, kita gak tahu kalau itu bis umum. Kayak bus pariwisata gitu deh, judulnya Mara Liner. Ketika udah naik ke bis, kami dimarahin kondekturnya
karena lama. Abis pake terpesona dulu, ragu-ragu dulu, baru nyetopin busnya sih.

Kami diturunkan tidak di terminal bus Kangar. Dari tempat turun harus berjalan sekitar 10 menit. Inilah sebabnya kalau travel begini sebaiknya membawa backpack. Kalau koper ataupun tas garet bayangkan repotnya kalau harus jalan gini. Waktu itu aku sangat buru-buru karena masih belum ada clue mengenai terminal maupun busnya.
Kami seperti terdampar di sebuah kota kecil yang asing. Karena trauma kehabisan tiket kereta, ketika ditawari tiket oleh pemilik warung kecil tempat kami makan di dekat stasiun Arau itu, kami ambil. Dengan harga 45 RM. (harga resmi 42,8 RM) Biar
gak usah buru-buru rush ke terminal, gak apa-apa deh. Tetapi setelah itu aku sempat worry, gimana kalau kita ditipu dll, tapi ternyata segalanya baik-baik saja. Akhirnya kami naik bus yang benar, dan tiba di tujuan dengan selamat keesokan harinya.

(bersambung)

Readmore »»