Malam Tahun Baru
Salah satu malam tahun baru yang paling kuingat adalah beberapa tahun yang lalu, di mana kami melewatkannya dalam penerbangan Cathay Pacific dari Taipei ke Hongkong. Kami memilih penerbangan itu karena itulah penerbangan paling murah. Tidak ingat lagi berapa harganya, kalau tidak salah tidak sampai Rp 1 juta. Harga yang sangat murah pada waktu itu, dan terbangnya pas tengah malam.
Kami meninggalkan langit Taipei yang sedang gegap gempita. Orang-orang berkumpul dekat Taipei 101 dan sekitarnya. Di sana ada balai kota, ada lapangan luas yang sering menjadi tempat acara-acara penting, biasanya memang selalu dijadikan pusat perayaan tahun baru.
Artis-artis ibukota meramaikan acara itu. Nama-nama yang menjadi icon dunia pop Mandarin hadir di sana. Lagu-lagu dan kembang api menggetarkan seluruh kota. Langit berwarna-warni. Semua sedikit demi sedikit meredup seiring dengan pesawat kami yang bergerak meninggi, dan menjauh.
Di dalamnya hanya senyap. Penumpang pesawat pun tidak banyak. Kami hanya saling mengucapkan Selamat Tahun baru dengan biasa-biasa saja. Meskipun di dalam hati kami tahu, pesawat ini telah membawa kami menyeberang, melintas dari tahun yang lama dan memasuki tahun yang baru.
Sesampai di Hongkong fajar belum pun terbit. Hari masih gelap. Kami langsung menuju daerah Tsim Sha Tsui untuk mencari penginapan. Di sana kami bertemu beberapa teman dari Indonesia, kami membawa yen su ci (jajanan khas Taiwan berupa goreng-gorengan) yang masih panas dari Taipei yang kami beli sore itu, eh tepatnya kemarin sore, atau lebih tepat lagi tahun kemaren, karena kami telah melintasi satu tahun.
Kami tertawa-tawa terpesona dengan penginapan teman kami yang sangat kecil. Aku langsung mengeluarkan kamera untuk mengabadikan kamar mandinya yang luar biasa sempit, hanya cukup untuk satu orang berdiri, pas. Kasurnya harus dilipat agar punya ruangan untuk bercakap-cakap dalam kamar. Benar-benar fantastis.
Sebelumnya kami sudah pernah dengar tentang rumah-rumah dan kamar-kamar hotel yang serba sempit di Hongkong, namun ketika menyaksikan sendiri, aku tetap tidak bisa menerima kenyataan. "Kita harus cari alternatif," kataku ketika melihat kondisi penginapan itu. Harga penginapan di sana kalau tidak salah ingat sekitar 300 ribu rupiah, harga penginapan di Hongkong yang paling murah. "Dengan harga segitu, kita masih bisa dapat yang kondisinya lebih baik," kataku yakin.
Lalu kami pun ngider, sambil menenteng backpack kami, mengitari sudut-sudut Tsim Sha Tsui, ruko-ruko yang tinggi di antara gang-gang sempit seperti yang sering kita tonton dalam film-film gengster Hongkong, begitulah modelnya. Hongkong masih tidur saat itu, belum menampakkan jati diri yang sesungguhnya.
Untunglah, kami berhasil menemukan sebuah tempat yang lebih layak. Saya lupa namanya. Penginapan kecil di ruko-ruko seperti itu bertebaran banyaknya, sehingga nama menjadi hal yang tidak terlalu menonjol. Penginapan itu milik seorang yang dulu pernah tinggal di Indonesia, dia bisa berbahasa Indonesia. Kamarnya tetap sempit, tetapi masih agak mending dibanding tempat penginapan teman kami itu.
Setelah berhasil menemukan tempat tidur untuk malam itu, kami pun meletakkan tas dan bergegas keluar, mencari sisa-sisa perayaan tahun baru di Hongkong.
Di Tsim Sha Tsui park kita bisa melihat pemandangan laut dan Hongkong Island di seberangnya. Inilah yang sangat saya sukai dari Hongkong. Hongkong yang terdiri dari daerah peninsula dan beberapa pulau memiliki transportasi laut. Yang nyaman dan murah.
One thing about Hongkong, is StarFerry, ferry yang menyeberangkan kita dari bagian Kowloon (peninsula) ke Hongkong Island dengan tarif sekitar 2000 rupiah saja saat itu. Saya senang karena betapa kita bisa selalu dekat dengan laut, tetapi juga dekat dengan kota. Hongkong salah satu mecca kapitalisme, namun masih ada hal-hal eksotis seperti ini. Saya selalu memilih menikmati debur laut dan angin alamiah dibanding menyeberang dengan MRT ataupun mobil. Maklumlah, sebagai turis punya kemerdekaan untuk tidak perlu rapi-rapi dan tidak perlu mengejar waktu seperti halnya mbak-mbak dan mas-mas kantoran yang tentu saja akan memilih MRT.
Ya, selain kapal, kedua daratan yang dipisahkan perairan itu juga bisa diseberangi dengan jembatan gagah perkasa yang dibangun di atas laut dan MRT yang melintas di bawah laut.
Singkat cerita, itulah salah satu cara mengawali tahun baru yang seru. Menyeberang tahun dengan pesawat, melalui hari-hari awal tahun baru di tempat yang asing, berpetualang ke tempat-tempat baru. Perjalanan kemudian dilanjutkan ke Shenzhen, Macau dan Zhuhai setelah menjelajah beberapa tempat di Hongkong.
Setelah itu, tidak banyak lagi tahun baru yang seperti itu. Kebanyakan tahun baru dalam hidupku disambut di rumah. Rumah sendiri, rumah kos, rumah kakak, rumah orang tua. Pernah juga "turun ke jalan" dalam keramaian merayakan tahun baru di Jakarta, tapi itu duluuuu.... haha. Sekarang bukan masanya lagi.
Beberapa tahun ini malam tahun baru berarti makan malam, sering kali dengan barbeque, sambil menonton TV yang menyiarkan pergantian tahun di berbagai negara. Sambil menonton kembang api dari TV yang indah-indah, ada juga kembang api live dari jendela apartemen kami, dimana terlihat kembang api yang meriah dari arah Ancol. Suaranya pun terdengar kencang. Dentuman kembang api bergelegar di dalam hati kita memberikan degup harapan pada tahun yang akan datang.
Itulah yang paling aku sukai dari tahun baru. Itulah yang selalu sama, dimana pun kita berada. Tak penting dimana kita merayakan tahun baru. Tahun baru selalu memberikan harapan baru. Semua orang berdoa dan berharap akan tahun yang lebih baik. Tidak semua membuat resolusi, tapi semua mempunyai harapan, bahwa tahun baru akan lebih baik, lebih hebat. Pada saat kembang api diluncurkan, meluncur juga jutaan doa seluruh umat manusia di dunia.
Semoga alam semesta mengabulkannya.
Selamat Tahun Baru 2010. Semoga tahun depan semakin semarak. Semakin exciting. Semakin banyak petualangan. Amin.
(foto dari Tripadvisor)
Thursday, December 31, 2009
Wednesday, December 30, 2009
Several Other Things about Taipei (Taiwan) (2)
Melanjutkan tulisan yang sebelumnya, berikut ini adalah daftar hal ke enam dan seterusnya mengenai Taipei, atau Taiwan secara umum.
6. Lotre: Di seluruh penjuru kota dan desa di Taiwan kamu akan melihat kios-kios yang menjual nomor undian (lotre) ini. Setiap minggu, bahkan satu minggu beberapa kali diadakan pengundian, yang merupakan salah satu acara dengan rating tertinggi di televisi.
7. Surga jajanan: Yup. Taiwan is the heaven of snack (xiao chi). Penjual makanan di pinggir jalan (street vendor) mudah dijumpai di mana-mana. Selain itu, di sana banyak pasar malam. Di pasar malam inilah pusatnya jajanan khas Taiwan. Mau apa juga ada: mulai dari makanan sejenis mie, sejenis goreng-gorengan, sejenis sop, macam-macam deh. Kalau ke sini, rasanya kurang afdol kalau tidak mengunjungi pasar malam atau ye shi dalam bahasa sananya. Saya pernah menulis untuk Majalah Tamasya mengenai hal ini, saya fokuskan tulisan saya pada pasar-pasar malam Taiwan dan juga jajanannya. Mengapa, karena bicara tentang Taiwan tidak akan lengkap tanpa membicarakan jajanan khas yang telah menjadi salah satu icon pariwisatanya.
8. They are highly creative: Ini berhubungan dengan makanan tadi, dan juga bisa ditarik lebih luas ke area-area yang lain. Menurut saya, orang-orang Taiwan kreatif sekali dalam menciptakan makanan baru. Kalau jalan di sana, akan ketemu makanan-makanan yang menurut kita aneh, seperti misalnya es krim yang ada sayurnya, atau semacam lumpia yang membungkus eskrim dan kacang, di dalamnya juga ada sayur. Café-café di sana pun designnya unik-unik, tempatnya kecil-kecil tapi terlihat asri dan menyenangkan. Bisa dibayangkan karena negara mereka kecil dan tidak punya banyak natural resources, maka kreativitas tinggi dan inovasi selalu dibutuhkan untuk survive.
9. Hot spring: Karena daerahnya yang mountainous, maka di Taiwan juga banyak tempat-tempat hot spring alami. Ini adalah salah satu yang harus dicoba kalau jalan-jalan ke sana. Tidak mahal, tariff mulai dari 150 NT sudah bisa berendam.
10. News is boring: Lagi-lagi, ini menurut saya. Berdasarkan pengalaman saya tinggal di sana, berita-berita di sana lebih santai. Tidak seperti kita yang selalu heboh, masalah politik, kriminal, dll. Di sebuah masyarakat makmur dan developed, tidak terlalu banyak kasus kriminal. Tidak ada huru-hara atau bom. Yang membahayakan mostly terkait dengan cuaca, seperti gempa atau longsor. Berita yang selalu diikuti semua orang adalah ramalan cuaca, terutama akan datangnya typhoon (taifung).
11. Mild weather: Di sini cuacanya asik. Musim dingin tidak terlalu dingin, masuk kategori Mild Winter. Paling dingin mungkin sekitar 10 derajat Celcius. Paling asyik adalah autumn, sekitar bulan Oktober pada saat saya berkunjung belum lama ini. Suhu rata-rata 20-25 derajat Celcius, sangat nyaman. Tidak panas dan tidak dingin. Perubahan cuaca agak ekstrem antara pagi dan malam. Kalau Spring banyak hujan, payung warna-warni membuat kota terlihat sangat cantik. Summer cukup panas, bisa mencapai 38 derajat Celcius. Tank top terlihat di mana-mana, dan orang-orang pun mengungsi ke tempat-tempat ber-AC seperti mal dan café.
12. Toko buku: Saya pernah menonton sebuah liputan di televisi tentang pertumbuhan toko buku di Taiwan yang sangat pesat. Liputan itu mengkonfirmasi dugaan saya, ternyata memang tingkat literacy di Taiwan sangat tinggi, dan masyarakatnya sangat suka membaca. Karena itu, toko bukunya besar-besar dan tidak jarang buka 24 jam. Kalau saya bandingkan dengan toko buku di tempat kita misalnya, ambil saja contoh Gramedia di Grand Indonesia yang termasuk paling besar, koleksi bukunya tidak banyak. Kalau diperhatikan, banyak koleksi yang diletakkan di beberapa tempat sehingga terlihat banyak. Padahal, bukunya itu-itu saja. Buku bahasa Inggris pun tidak banyak. Ya, mungkin kamu akan bilang, gak usah dibandingin kali, kan masyarakat kita masih berkembang, minat baca pun masih rendah. Well, itulah salah satu enaknya di negara maju.
Selain toko buku, perpustakaan umum pun banyak sehingga tidak perlu selalu membeli buku untuk mendapatkan pengetahuan. Sayangnya, tentu saja, sebagian besar buku berbahasa Mandarin. Buku English tidak banyak. Sebuah toko yang memfokuskan pada buku bahasa Inggris bernama Page One yang berdiri gagah di salah satu lantai di Taipei 101, kini harus menyusut lebih dari 50% size sebelumnya. Buku Mandarinnya pun akhirnya diperbanyak. Hal ini menunjukkan buku bahasa Inggris memang sulit, mungkin sama seperti di Indonesia, QB world tutup dan juga Kinokuniya di sini amatlah menyedihkan, size-nya tidak ada artinya dibanding Kinokuniya Kuala Lumpur misalnya. Para penerbit juga bekerja lebih cepat, misalnya tidak lama setelah heboh buku Free (Chris Anderson), sudah ada terjemahan Mandarinnya. What the Dog Saw (Malcolm Gladwell) dan Dan Brown yang baru (Lost Symbol) sampai saat ini kita masih tunggu terjemahan Indonesianya, tapi di sana sudah lama beredar di toko dalam versi Bahasa Mandarin. Ini beberapa contoh saja, lagi pula belum tentu buku-buku yang saya sebut akan diterjemahkan penerbit di Indonesia … hehehe
Sampai di sini dulu daftar saya, ada yang mau menambahkan? Silakan.
Tulisan selanjutnya akan membahas tentang tempat-tempat wisata di Taiwan, khususnya yang pernah saya kunjungi.
Bersambung
Tuesday, December 29, 2009
Several Other Things about Taipei (Taiwan)
Di tulisan pertama saya sudah menulis beberapa hal tentang Taipei, atau bisa digeneralisasikan ke Taiwan secara umum:
1. Convenient dan aman
2. Masyarakatnya yang tertib dan kesadaran tinggi
3. Casual dan lebih santai
Pada tulisan ini saya ingin menambahkan beberapa hal lain yang cukup menonjol tentang Taiwan:
1. Easy Card (You you Ka) : Ini adalah semacam kartu sakti yang bisa dipakai di hampir semua moda transportasi darat di Taiwan. MRT sudah pasti. Bis dalam kota, bis luar kota, kereta antar kota. Sangat-sangat memudahkan dan cepat. Tinggal ditempelkan pada sensornya. Setidaknya ada tiga jenis kartu ini, yang membedakan tarif angkutan umum untuk 3 golongan ini: umum/normal, pelajar, dan orang tua. Yang terakhir ini paling murah, kalau naik bus hanya 1 NT.
2. Struk Belanja (Fa phiao) : Satu hal tentang Taiwan adalah hampir semua cash register di toko-toko sudah terintegrasi secara online, sehingga sulit untuk tidak membayar PPN. Masyarakat pun didorong untuk menyimpan struk tersebut. Struk menjadi sesuatu yang berharga untuk disimpan ataupun disumbangkan (banyak yang menerima sumbangan berupa struk), karena, setiap minggu pemerintah melakukan penarikan undian nomor struk. Hadiahnya lumayan, dari berapa ribu hingga paling kecil 200 NT (sekitar 6o ribu rupiah). Yang terakhir kayaknya tidak sulit, saya pun pernah dapat. Hadiah dengan mudah bisa diambil di kantor pos terdekat. Sangat menyenangkan. Tidak jarang ada tempat-tempat public seperti museum dimana kita bisa masuk dengan gratis hanya dengan memberikan satu struk belanja kita. Asyik kan?
3. Convenient Store: toko-toko seperti 7 Eleven, Circle K, Family Mart, ada di mana-mana. Sekitar beberapa langkah saja, sudah ada lagi satu toko seperti ini. Sangat memudahkan untuk membeli minuman, jajanan, dll. Di toko-toko seperti ini kita harus membayar, biasanya 1 sampai 2 NT untuk kantong plastik untuk menampung belanjaan. Jadi biasanya, selalu ditanya terlebih dahulu oleh petugas kasir, apakah kita mau pake plastik atau tidak.
4. Harga yang stabil: Ini yang membingungkan untuk saya, seorang Indonesia. Apakah ekonomi Taiwan sudah stagnan atau bagaimana? Karena harga-harga sebagian besar barang, tidak pernah naik. Dari dulu naik bis 15 NT. Harga makanan rata-rata hampir sama, atau paling berubah sedikit, dibanding 5 tahun yang lalu. Kalau di Jakarta, udah berapa kali naik tuh, jangankan 5 tahun, setahun saja harga-harga makanan banyak yang naik berkali-kali. Ya, mungkin begitulah bedanya negara berkembang dengan negara yang sudah maju kali ya? Maju atau stuck? Sudah developed mungkin jadi tidak ada ruang untuk berkembang lagi, entahlah, untuk ini kita harus tanya pakar ekonomi. Yang jelas, bagi kita asyik-asyik aja karena harga stabil. Yang membedakan adalah nilai tukar kurs kita yang berubah terhadap NT. Lima tahun yang lalu 1 NT = 250, sekarang sekitar 300-an.
5. Masyarakat yang nice: Setidaknya ini menurut pengalaman saya. Orang Taiwan mostly lebih sopan dan nice. Saya bandingkan dengan misalnya, Hongkong atau China. Kalau di China kita nanya jalan pada orang, mereka akan menjawab “Bu zhi dao” (Tidak tahu) dengan kasar, lalu cenderung menghindar. Agak-agak parno ama orang asing kali ya? Tapi kalau di Taiwan, bila mereka tahu, mereka akan bantu, sangat helpful. Kalau mereka tidak tahu, mereka akan minta maaf. “Bu hao yi shi,” biasanya mendahului kalimat mereka, lalu mereka akan bilang “Bu xiao de” yang lebih halus daripada “Bu zhi dao.” Kalau di Hongkong, misalnya kita makan di restoran-restoran, pelayannya cenderung kasar-kasar, cara mencatat menu dan menghidangkan serba cepat sehingga terkesan kasar. Hal ini berbeda dengan di Taiwan, pelayan restoran mostly ramah.
Yang paling membuat saya kaget dan agak terharu tentang keramahan dan kebaikan orang Taiwan ini adalah ketika suatu hari saya sedang berjalan mau masuk ke perpustakaan umum. Tiba-tiba saya disapa oleh seorang ibu-ibu muda yang tidak saya kenal. Kata dia, di pantat gue ada stiker, mungkin gue dikerjain orang atau apa, she just try to let me know, bahwa di celana gw bagian belakang itu ada tempelan aneh. Oh, gue baru inget. Hari itu gue pake celana jins gue yang ada tambalan di bagian pantat, sebuah stiker melintang (rada-rada out of place kali ya?) bertuliskan “Adventurer” hahahaha. Trus, gue dengan gak enaknya bilang, Ohh.. itu memang disengaja. Lalu si ibu-ibu itu juga malu dan menghindar. Hahahaa, pengalaman yang lucu, tapi itu menunjukkan betapa orang Taiwan itu care terhadap orang lain.
Bersambung
Monday, December 28, 2009
Taipei, my kind of city
Taipei is one of the cities I’ll always miss. When you finish reading this post, you’ll see why. Apart from any personal reasons, I think this is a city to love.
Tidak seperti Hongkong di mana semua orang selalu terburu-buru, atau Seoul di mana semua berdandan cantik (dan sedikit menor), Taipei adalah kota yang menyenangkan, lebih santai meskipun sudah sangat modern, dan orang-orangnya lebih casual dalam penampilan.
Dengan mudah kamu akan tahu, di MRT dan tempat-tempat umum, kebanyakan berbusana santai dan nyaman. Kontras dengan Seoul dimana kebanyakan lelaki mengenakan setelan suit dan wanita berdandan ala boneka Korea pada hari kerja. Di Taipei terlihat lebih banyak orang yang berbusana santai, dandanan pun biasa. Mereka terlihat sama seperti kita-kita, seperti ayi-ayi kita, mengobrol santai di kampung kita.
Dan ini satu lagi, di kota besar modern yang menjadi ibukota Taiwan itu, banyak berkeliaran orang-orang tua. These senior citizens dengan mudah terlihat di café-café sedang nongkrong bersama teman, di bis umum, MRT, seolah sebagai bukti hidup bahwa kota ini sangat nyaman, mudah, dan aman. Maksudnya, saking aman dan mudahnya sampai orang tua dengan tongkat pun bisa bepergian sendiri dan ngumpul-ngumpul seperti anak muda. Mereka tidak perlu takut nyasar, dirampok atau ditodong, misalnya. Tidak perlu diantar oleh anak-anak mereka.
Itulah one thing about Taipei yang akan membuatmu betah: highly convenient, dan aman. Sampai sekarang, untuk hal ini, saya belum menemukan kota lain yang setara, mungkin juga karena saya belum banyak bepergian.
Fasilitas transportasi di Taipei adalah salah satu yang paling convenient di dunia. MRT yang menjadi kebanggaan warganya, selalu on time dan dapat diandalkan. Setiap hari di sinilah ribuan warga Taipei masuk dan keluar dari pintu-pintu kereta listrik itu dengan gerakan cepat, namun tertib. Nah inilah yang menurut saya susah dicari di tempat-tempat lain. Masyarakat Taipei yang sangat tertib, hampir mendekati robotic, apalagi kalau dibandingkan dengan perilaku masyarakat Jakarta, wah, bagai surga dan neraka kali ya.
Misalnya, semua keluar dari MRT sesuai dengan tanda di lantai, jalur keluar dan jalur masuk (tidak ada pemisah), hanya sebuah gambar di lantai. Semua membayar dengan tertib kalau naik bis, padahal tidak dijagain. Tidak ada yang berani makan atau minum di MRT, atau duduk di kursi prioritas (yaitu diprioritaskan untuk orang tua dan wanita hamil). Bila kamu berani duduk, puluhan tatapan tidak ramah seolah menghukum kamu. Motor-motor berhenti di kotaknya di jalan bila lampu merah. Kota yang sangat-sangat patuh. Kalau mengingat perilaku masyarakat Jakarta yang selalu nyerobot, ini seperti surga, tapi kalau dipikir lagi, agak-agak terlalu neurotic gak sih? I mean, apa enaknya hidup ini kalau kita tidak melanggar aturan?
Saya mencoba menganalisa mengapa mereka begitu patuh. Mungkin ada hubungannya dengan teori Tipping Point, bila kepatuhan dan ketertiban itu sudah menjadi trend (mungkin awalnya dipicu oleh para influencer tokoh-tokoh masyarakat atau tetangga), maka kamu juga akan cenderung mengikuti. Siapa pun yang datang ke Taipei akan ikut-ikutan jadi neurotik, mungkin robotik. In a good way, tapi ya.
Teori kedua mungkin berkaitan dengan banyaknya kamera di tempat-tempat umum, di MRT sudah pasti ada, di lampu-lampu merah, dan di tempat-tempat umum lainnya. Sehingga, misalnya, kalau kamu parkir di tempat yang dilarang parkir, meskipun sudah lihat sekitar tidak ada polisi, bisa saja tiba-tiba kamu mendapat surat yang dikirim ke alamat kamu, dan kamu harus membayar denda sekian ratus ribu. Denda, itulah sepertinya yang sering ditakuti. Sehingga, mudah untuk melarang orang-orang Taiwan, misalnya, pada waktu naik boat di Sun Moon Lake, ada yang ingin naik ke lantai atas boat. Petugas melarangnya. Dia tanya kenapa gak boleh? Petugas tinggal jawab, karena kalau naik denda 60.000 NT, maka orang itu langsung “oh” lalu mengurungkan niatnya. Apakah kepatuhan itu terpicu karena denda? Mungkin juga iya, mungkin juga tidak. Karena pada banyak kepatuhan itu, hanya himbauan, tidak ada hukuman yang jelas (seperti tidak duduk di MRT), di sini terlihat bahwa mereka adalah masyarakat kota besar yang memiliki kesadaran tinggi. Yang menghormati orang lain. Ini pastinya adalah hasil didikan massa selama puluhan tahun, sehingga sebuah kota bisa menjadi begini.
Kembali ke angkutan tadi, biaya pun relatif tidak mahal. Naik MRT 15 NT-45 NT tergantung jarak. (1 NT saat ini sekitar Rp 300 rupiah). Dengan 45 NT kita sudah bisa sampai di tempat yang cukup jauh, seperti misalnya Dan Shui, salah satu tempat wisata menarik di Taipei. Mengenai tempat-tempat wisata ini nanti saya ceritakan di tulisan terpisah deh ya, kayaknya yang ini bakalan panjang. :D
Selain MRT, ada pula pilihan transportasi lain, yaitu bis kota yang juga sangat convenient dan aman. Di sini juga kamu bisa melihat kepatuhan dan ketertiban tingkat tinggi itu. Bis kota selalu berhenti di tempat yang sudah ditentukan, kamu harus menunggu di halte, kalau tidak, sampai mati pun tidak ada bis yang berhenti menjemputmu. Di semua halte informasi nomor-nomor bis dan jurusan sangat jelas. Sayangnya, semua dalam bahasa Mandarin tentunya. Nah, inilah yang sedikit merepotkan untuk turis.
Bicara soal turis, Taipei atau Taiwan secara umum sebenarnya cukup memudahkan buat turis. Banyak informasi untuk turis yang bisa diperoleh di tempat-tempat umum seperti bandara, stasiun kereta, stasiun MRT, dan tempat-tempat wisata. Brosur wisata amatlah sangat banyak, ini juga salah satu yang perlu diacungkan jempol tentang Taiwan. Ada yang bahasa Inggris, Jepang, dan Korea. Sayangnya bahasa Indonesia belum ada. Kalau ada, bukan jempol lagi, kita akan mengacungkan semua jari hahahaha.
Nah masalahnya ya itu. Untuk wisata mungkin belum cukup banyak alasan bagi turis Indonesia untuk ke Taiwan. Pemandangan alam termasuk mediocre. Apalagi dibandingkan dengan China misalnya, mostly tempat wisata alam berskala kecil. Namun yang hebat adalah pengelolaannya. Segala fasilitas yang dibuat oleh pemerintah sehingga tempat wisatanya lebih menarik, lebih nyaman dan aman, menyenangkan untuk dikunjungi. Masyarakat Taiwan banyak yang travelling. Tidak sulit bagi mereka bepergian dari kota ke kota, naik gunung, mengunjungi pelosok-pelosok Taiwan. Jalan-jalan fenomenal yang dibangun pemerintah Taiwan melintasi gunung-gunung (Taiwan is a mountainous place, banyak sekali gunung) cukup mengagumkan.
Bersambung
When career and social media collides, artikel saya yang dimuat di blog Virtual Consulting dan blog Konsultankarir.com.
Tuesday, December 22, 2009
Bagaimana supaya tidak menjadi ayam kalkun
Tulisan ini bukan tentang ayam kalkun---yang belum lama ini terhidang di meja-meja makan di Amerika dalam perayaan Thanksgiving. Tulisan ini---lagi-lagi---tentang Black Swan. Maaf buat yang bosan, bukannya aku seneng banget dengan Black Swan, yang hebohnya juga udah lama, tapi kebetulan karena aku baru selesai membaca bukunya. Itu pun lama sekali baru kelar, karena itu aku pikir, dengan menuliskan sari-sarinya adalah salah satu cara aku belajar dan menyerap apa yang disampaikan penulis. Selain menulis untuk aku sendiri, aku juga menulis untuk seorang sahabat, yang menurutku dia perlu tahu mengenai beberapa point dalam buku ini, tetapi dia malas membacanya.
Dalam tulisan sebelumnya aku mengaitkan Black Swan dengan kekayaan. Aku khawatir bila ada teman yang tidak membaca bukunya, akan mengira Black Swan adalah tentang kekayaan. Padahal bukan. Black Swan tidak hanya untuk yang positif dan baik saja, tetapi juga sebaliknya. Sesungguhnya, Black Swan lebih tentang ayam kalkun.
Perhatikan kehidupan ayam kalkun. Setiap hari mereka diberi makan oleh makhluk baik hati bernama manusia sehingga mereka percaya, bahwa manusia ada untuk membahagiakan mereka. Namun pada suatu petang di hari Rabu sebelum Thanksgiving, datanglah makhluk yang sama dan sesuatu yang "tak terduga" akan terjadi pada sang kalkun, sesuatu yang akan membuatnya mengoreksi kepercayaannya yang terdahulu (tapi tentu saja sudah terlambat).
Pelajaran yang dapat diambil dari kehidupan kalkun adalah: bagaimana kita dapat mengetahui masa mendatang, dari pengetahuan kita tentang masa lalu, atau, bagaimana kita dapat menggambarkan sifat-sifat sesuatu yang tidak kita ketahui (tanpa batas) berdasarkan hal-hal yang kita ketahui (terbatas)?
Keseluruhan bagian satu memaparkan keterbatasan kita, sehingga kita sama saja seperti ayam kalkun, kita tidak mungkin dapat mengetahui akan munculnya suatu Black Swan, seperti Google, peristiwa WTC, dll. Ini berkaitan dengan bagaimana cara kita memandang peristiwa-peristiwa masa lampau dan peristiwa masa sekarang serta distorsi yang muncul dalam persepsi itu.
Hal ini dilanjutkan lagi dalam bagian dua "Kita cuma tidak dapat membuat prediksi" di mana Taleb (sang penulis) membahas tentang kesalahan-kesalahan kita dalam berurusan dengan masa mendatang dan keterbatasan "ilmu-ilmu" yang kita pelajari.
Salah satu hal yang menarik pada bagian ini, Taleb membagi disiplin ilmu menjadi dua, yaitu yang mempunyai pakar dan yang tidak. Psikolog James Shanteau pernah dengan serius mencari tahu tentang hal ini dan menemukan adanya keteraturan: ada profesi dengan pakar yang berperan, ada juga profesi yang tanpa bukti bahwa di situ ada keterampilan. Mana saja itu?
Saya kutip dari bukunya:
Pakar yang cenderung menjadi pakar: penilik pertanian, astronom, pilot penguji, ahli tanah, master catur, fisikawan, matematikawan, akuntan, pemeriksa gabah, penafsir foto, dan analis asuransi.
Pakar yang cenderung menjadi ... bukan pakar: pialang saham, psikolog klinis, psikiater, petugas penerimaan mahasiswa, hakim pengadilan, konselor, penerima
pegawai, dan ini ditambahkan oleh Taleb: ekonom, peramal keuangan, dosen keuangan, ilmuwan ilmu politik, "pakar risiko", dan penasihat keuangan pribadi.
Apakah Anda melihat perbedaannya? Bisa dikatakan profesi yang pertama lebih banyak berhubungan dengan keterampilan. Profesi yang kedua lebih banyak berhubungan dengan pengetahuan.
Disiplin yang memerlukan pengetahuan, biasanya tidak memerlukan pakar. Dengan kata lain, profesi yang berurusan dengan masa depan dan mendasarkan studi pada masa lalu yang tak dapat diulang mempunyai masalah pakar. Lebih ekstrem-nya Taleb memberi contoh, dalam urusan-urusan tertentu, seorang profesor universitas atau seorang pakar di bidang ilmu tertentu, tidak lebih baik dibanding seorang pembaca rata-rata koran New York Times dalam mendeteksi perubahan-perubahan di dunia sekitar mereka.
Salah satu kebiasaan orang-orang di dunia korporat adalah membuat ramalan, prakiraan, atau semacam prediksi. Yang menyedihkan adalah, menurut Taleb, semakin
banyak pengetahuan kita maka kemampuan meramal kita semakin berkurang. Taleb malah menasihatkan agar kita berhenti membaca koran.
Nah apa yang harus dilakukan agar kita tidak menjadi ayam kalkun?
Taleb menasihatkan agar kita berhenti berusaha memprediksi segala sesuatu dan justru mengambil keuntungan dari ketidakpastian.
Contohnya: penulis skenario legendaris William Goldman konon pernah beseru: "Tak seorang pun tahu segalanya!" ketika sedang membicarakan prediksi tentang penjualan film. Goldman tidak suka membuat prediksi, tetapi dia tahu apa yang harus diperbuatnya agar filmnya sukses. Ia tahu bahwa ia tidak dapat meramalkan kejadian satu demi satu, tetapi ia sadar sekali bahwa yang tidak dapat diramalkan, yakni perubahan sebuah film menjadi film laris, akan sangat bermanfaat baginya.
Buku ini bukan buku panduan self-help yang penuh dengan nasihat praktis. Namun Anda harus memahami keseluruhan konsep Black Swan dan akhirnya dapat mengambil manfaatnya buat Anda sendiri. Buku ini komplit: ada nuansa sastra, ilmiah, psikologi, ekonomi. Membaca buku ini bagaikan menyelam ke dalam samudera pengetahuan sang penulis yang sangat dalam dan luas. Benar-benar sangat nikmat, sekaligus mengguncang iman!
Wednesday, November 25, 2009
Menjadi Kaya
(The Black Swan on Being Rich)
Ini sebuah ilustrasi: ada seseorang yang merasa dirinya kaya. Dia senang menceritakan hal-hal yang akan mensinyalkan kemapanannya, misalnya: HDTV flat berapa
inci, Blackberry terbaru, piano, main golf, tinggal di apartemen di pusat kota, dan punya karyawan, misalnya. Banyak juga orang yang tidak memiliki semua itu tapi sudah merasa kaya. Artinya merasa kaya tidak ada hubungannya dengan berapa banyak kekayaan (materi) yang aktual.
Itulah sebabnya merasa kaya itu relatif, artinya related/berhubungan dengan siapa perbandingannya. Namun menjadi kaya itu absolut. Kaya yang saya maksudkan di sini bukan kaya batin atau omong kosong lainnya itu. Kita membicarakan bergunung-gunung uang. Kekayaan materi yang kotor itu, yang dalam bahasa Inggris disebut filthy rich.
Ini contohnya. Kembali ke ilustrasi tadi, suatu hari, si orang yang merasa kaya tadi datang mengunjungi rumah temannya di sebuah perumahan elit di kawasan Jakarta Utara. Perumahan itu sendiri sudah cukup menjadi simbol kekayaan, dibangun dengan reklamasi pantai yang luar biasa spektakuler, menggunakan dam-dam dengan teknologi Belanda bahkan arsitek-arsitek yang turut membangun kota Dubai.
Setelah masuk ke rumah sang teman, si tokoh ilustrasi kita, sebut saja namanya Amin, tambah tercengang. Dia pikir rumah seperti yang dilukiskan dalam komik dan film Richie Rich hanya khayalan, tetapi sekarang dia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri. Beberapa yacht terparkir di depan rumah. Garasi yang lebar dengan jejeran paling sedikit 6 mobil mewah. Ruangan-ruangan yang besar dan tinggi di dalam rumah, dengan perabotan yang serba lux. Mereka mempunyai bar sendiri, semacam toko minuman sendiri, snack dan minuman ringan berlimpah, bagaikan sebuah surga buat anak kecil. Home theater yang sama kualitasnya dengan Blitz Megaplex serta ruang karaoke kedap suara dengan koleksi lagu yang melebihi nav-nav.
Tidak hanya itu, ketika berbicara soal liburan, Paris terasa sudah standar. Maldives yang bagi banyak orang hanya impian, bagi sang teman sudah seperti bolak-balik ke toilet, alias sudah biasa. Tentu saja semua ini membuat teman kita si Amin langsung merasa tidak berarti.
Yang paling menyakitkan bagi Amin adalah ketika mengetahui sang teman bisa bersantai. Tidak seperti Amin yang sibuk terus. Senin sampai Jumat kesibukannya dari pagi hingga malam. Dari meeting ke meeting. Tidak jarang dia menjadi pembicara seminar, tidak hanya di Jakarta tetapi juga di beberapa kota lain. Pulang selalu sudah malam. Blackberry selalu kehabisan baterei karena digunakan nonstop dari pagi hingga malam untuk selalu menjadi terdepan, tidak pernah ketinggalan informasi. Pada akhir pekan pun sering kali dia masih harus membuat materi presentasi, proposal, dan lain-lain.
Pertanyaan selanjutnya yang ada di benak si Amin, dan juga benak kita semua, the one million dollar question, adalah, bagaimana dia melakukannya? Bagaimana dia bisa menjadi sekaya itu?
Orang-orang pun mulai merasionalisasi, mencoba membuat penjelasan. Dia bisa kaya karena ini, karena itu, teori A dan B dan C, banyak sekali teori yang menjelaskan kunci sukses. Tidak, di sini saya tidak membicarkaan kesuksesan (karena sukses pun relatif) dan saya juga tidak membicarakan minat orang per orang yang berbeda dalam karir. Saya membicarakan kekayaan materi. Bergunung-gunung uang.
Saya sering mendengar komentar "yah dia kan memang dari dulu sudah kaya" apabila membicarakan tentang bagaimana seseorang bisa menjadi kaya. Rasanya melegakan dan lebih tidak menyakitkan mengetahui bahwa seseorang memang dari sononya sudah kaya, orang tuanya kaya, dia tinggal meneruskan usahanya. Tetapi, teman si Amin ini tidak begitu. Mereka adalah teman SMA, sama-sama bersekolah di sebuah SMA yang "tidak punya nama" di pinggiran Jakarta. SMA yang namanya bila disebut selalu membuat orang memicingkan mata dan bertanya "di mana tuh?" yang disusul dengan pertanyaan-pertanyaan selanjutnya. Tidak ada orang kaya raya yang akan menyekolahkan anaknya ke sekolah antah-berantah itu bukan? Well, ada, mungkin. Tapi tidak banyak. Dan yang jelas teman si Amin yang kita ilustrasikan ini bukan anak orang kaya.
Maka, kekayaan teman si Amin, boleh dikatakan adalah sebuah Black Swan. Black Swan adalah sebuah kejadian yang tidak pernah diduga-duga, sebuah kejadian random yang mempunyai dampak yang amat besar. Kemunculannya hampir mustahil untuk diprediksi, namun setelah terjadi biasanya barulah orang-orang mulai mencari penyebabnya dan membuat rasionalisasinya. Contoh Black Swan seperti sukses Google, Harry Potter, penemuan komputer, peristiwa 11 September (WTC) hingga bencana-bencana alam skala besar.
Saya akan mencoba menjelaskan perbedaan Amin dan temannya dengan teori Black Swan dari Nassim Nicholas Taleb. Buku The Black Swan, The Impact of the Highly Improbable (Taleb, 2007) telah diterjemahkan oleh penerbit Gramedia Pustaka Utama tahun 2009. Salah satu bagian dalam buku itu bercerita tentang Scalability, Extremistan dan Mediokristan, serta perbedaan antara spekulator dan pelacur.
Perbedaan antara Amin dengan temannya terletak pada nature pekerjaan mereka. Amin adalah seorang konsultan/trainer, sedangkan temannya adalah seorang pedagang. Menurut buku Black Swan, profesi Amin termasuk yang tidak scalable, sementara profesi temannya scalable. Apa maksudnya?
Taleb menulis pada bab 3, salah satu nasihat paling baik yang pernah didapatnya dalam hidup adalah agar mengambil profesi yang scalable. Yakni profesi yang membuat Anda dibayar tidak melulu berdasarkan jam kerja dan, karena itu, imbalannya dibatasi oleh kuantitas pekerjaan Anda.
Dengan cara yang sederhana, profesi-profesi di dunia ini dapat dikategorikan ke dalam dua bagian. Dokter gigi, konsultan, tukang pijat, dan pelacur adalah contoh-contoh profesi yang scalable. Ada batas dalam jumlah pasien dan klien yang dapat Anda tangani dalam rentang waktu tertentu. Dalam profesi-profesi ini, tidak peduli setinggi apapun bayaran Anda, pendapatan Anda tunduk pada gravitasi. Dengan kata lain, dalam profesi tersebut tidak akan terjadi Black Swan.
Sementara, apabila Anda seorang pedagang, pengusaha, spekulator, penulis, pencipta lagu, profesi-profesi ini memungkinkan Anda untuk duduk-duduk saja sementara barang-barang dagangan Anda terjual; bila Anda penulis buku/lagu tinggal menunggu transferan royalti masuk ke dalam rekening Anda ketika Anda sedang berlibur atau melakukan kegiatan mengasyikkan yang lain.
Namun hati-hati dengan profesi yang scalable. Taleb sendiri mengingatkan bahwa profesi yang scalable juga penuh dengan ketidakpastian. Di antara ribuan orang dengan profesi ini, mungkin hanya beberapa yang sukses. Yang ceritanya sampai ke telinga kita adalah yang sukses, berapa banyak yang gagal di luar sana ceritanya tidak pernah sampai pada telinga kita, karena cerita-cerita seperti itu memang tidak pernah disebarkan.
Berkaitan dengan scalable dan nonscalable, Taleb juga bercerita tentang area Mediokristan dan Extremistan. Mediokristan adalah wilayah yang didominasi oleh yang serba sedang, dimana tidak ada satu kejadian pun yang akan secara signifikan mengubah agregat atau keseluruhan. Pengamatan yang paling besar akan mengesankan, tetapi pada akhirnya tidak signifikan terhadap keseluruhan.
Ambil contoh, misalnya di sebuah desa ada seorang yang mempunyai berat badan hingga 200 kg, yang membuat heboh seluruh desa bahkan menjadi berita nasional. Atau orang yang tingginya hingga 3 meter misalnya. Betapapun spektakuler berat badan dan tinggi badan seseorang di desa itu, tidak akan punya pengaruh penting terhadap tinggi badan dan berat badan rata-rata desa itu.
Berbeda dengan misalnya, penjualan buku. Bariskan seribu orang pengarang dan di dalam barisan itu tempatkan seorang JK Rowling. Tentu saja jumlah pembaca/pembeli buku kelompok itu akan amat sangat terpengaruh. Sama halnya dengan penjualan buku, kekayaan adalah penghuni negara Extremistan. Bariskan seribu orang dan di antaranya terdapat seorang Bill Gates, maka tentu saja angka rata-rata pendapatan mereka akan melejit.
Tinggi badan, berat badan, konsumsi kalori, pendapatan seorang pelacur, pendapatan seorang dokter gigi, angka kematian, IQ, semua termasuk dalam area Mediokristan dan nonscalable. Sementara kekayaan, penjualan buku per pengarang, kematian dalam perang, kematian akibat ulah teroris, adalah beberapa contoh yang termasuk dalam area Extremistan dan scalable.
Di daerah Extremistan jumlah total ditentukan oleh sejumlah kecil peristiwa ektrem. Di sini berlaku efek "pemenang mendapatkan hampir semuanya" dan di sinilah tempat peluang terjadinya Black Swan.
Singkat cerita, apabila Anda mengharapkan Black Swan, maka janganlah berada pada area Mediokristan. Ubahlah profesi Anda menjadi scalable dan kekayaan Anda menjadi tidak terbatas pada batasan-batasan fisik, dengan segala resikonya.
Nah, apa yang harus dilakukan oleh Amin, bila dia menginginkan kekayaan seperti temannya?
Mencoba mempraktikkan teori dalam buku ini, maka yang harus dilakukan Amin adalah membuat pekerjaannya scalable. Dia sudah sukses menjadi seorang konsultan dan trainer terkenal. Sementara sang teman (yang filthy rich itu) tidak pernah terdengar namanya oleh publik, Amin adalah seorang tokoh, mendekati selebriti. Namanya sering disebut dalam berbagai media massa. Penampilannya pun keren. Tentu saja dia harus selalu tampil necis sebagai seorang konsultan. Sementara temannya, selalu mengenakan T-shirt dan celana jins, bahkan kadang celana pendek. Sering disangka sopir apabila mengemudikan mobil-mobil mewah miliknya.
Sama dengan temannya yang menjual produk, maka yang dijual Amin adalah ide atau pengetahuan. Pengetahuan ini harus dijadikan produk, yang kemudian dapat disampaikan/di-deliver tidak melulu oleh dia sendiri. (tetapi bisa diteruskan oleh karyawannya) Dengan cara itulah profesi dia menjadi scalable. Katakanlah nama Amin sekarang kita ubah menjadi Ary Ginanjar Agustian. Lalu dia menulis buku, dia mengembangkan sebuah teori, dia membuka pusat training yang kemudian menjadi sangat besar bernama ESQ. Ary Ginanjar dan ESQ adalah sebuah Black Swan.
Atau bisa saja nama Amin kita ubah menjadi Jamil Azzaini, seorang trainer/motivator juga yang kemudian mengembangkan Kubic Leadership. Atau bagaimana kalau kita ganti Amin menjadi Hermawan Kertajaya, yang mengembangkan MarkPlus yang kemudian dapat dijalankan oleh konsultan-konsultan lain, bukan melulu oleh dirinya sendiri? Untuk itu Amin harus membangun sebuah sistem yang terstruktur yang akan mudah untuk dijalankan oleh orang lain yang mempunyai kecerdasan di atas rata-rata, tidak harus melulu oleh dia sendiri. Jika tidak, maka Amin akan terjebak dalam area Mediokristan.
Atau, Amin bisa membuat produk. Produk yang bisa dijual sehingga pendapatan akan tetap datang meskipun Amin tidak sedang bekerja. Misalnya saja, ambil contoh terdekat, seorang dokter kecantikan. Dokter-dokter kulit ini --- yang menjadi teman akrab para wanita begitu memasuki usia 30 --- biasanya membuat produk mereka sendiri. Mereka meracik obat-obat sendiri sehingga pasien, bila cocok, tidak selalu harus kembali ke dokter, tetapi cukup memesan obatnya saja. Bila seorang dokter kulit kemudian terkenal, dari mulut ke mulut biasanya, tentu saja barisan panjang selalu terjadi dalam kamar praktiknya dan obatnya pun laku keras. Untuk yang ini, berpeluang untuk menjadi Black Swan.
Apalagi kalau dokter itu kemudian membuka klinik. Dan klinik itu di franchise. Kekayaan dapat bergulir menjadi bola salju dengan cepat apabila sudah dalam track-nya. Dan langkah itu bisa sedemikian cepat, sehingga dia menjadi fenomenal dan dapat disebut sebagai Black Swan.
Nah, apa produk (tangible) yang dapat dibuat oleh Amin? Well, entahlah. Mungkin karena itulah para konsultan (HR, misalnya) banyak yang menerbitkan buku, menjual produk-produk lain selain konsultansi, membuat produk-produk seperti alat tes, buku-buku panduan, dll yang dapat di-leverage dengan memanfaatkan gagasan utama dari si pemilik.
Nah, sekarang, bagaimana dengan Anda? Apakah Anda mengejar "yang pasti-pasti saja" atau apakah Anda seorang pemburu Black Swan? Taleb mengingatkan, Extremistan bukan tempat paling aman untuk didatangi, kecuali, jika Anda adalah seorang pemenang.
Wednesday, November 04, 2009
Black Swan dalam Lonely Planet Story
“Once while traveling across the sky, this lonely planet caught my eye,” demikian Tony Wheeler bernyanyi pada suatu hari. Tanpa disadarinya, dia telah salah menyanyikan lirik lagu Space Captain (Joe Cocker) yang kemudian dikoreksi oleh Maureen, istrinya.
“Bukan begitu liriknya,” kata Maureen, “Yang benar adalah lovely planet.” Namun, meskipun mengakui kekeliruannya, Tony tetap merasa lonely planet kedengarannya lebih bagus. Dan begitulah cara nama Lonely Planet ditemukan.
Meskipun terdengar tidak serius dan jauh dari kesan bisnis, nama itu jelas adalah nama yang sulit dilupakan. Kini nama itu sudah menjadi sangat familiar di kalangan pelancong, khususnya para pelancong mandiri yang tidak butuh tour guide atau tour agent. Sebagai brand, Lonely Planet termasuk salah satu brand yang dicintai, sebuah brand yang memiliki engagement yang baik dengan pemakainya. Pada tahun 2004 terpilih menjadi salah satu dari 10 brand terbaik di Asia Pacific dalam Interbrand Readers’ Choice Brand of the Year, dikalahkan oleh Sony, Samsung, Toyota, LG, dan Singapore Airlines.
Tentu saja kesuksesan Lonely Planet, sama seperti banyak kisah sukses lainnya, bisa dikatakan sebuah Black Swan (suatu kejadian yang tidak pernah diduga sebelumnya) juga. Sama seperti penemuan namanya yang terjadi secara tidak sengaja, bisnis penerbitan buku panduan juga bukanlah sesuatu yang direncanakan Tony dan Maureen Wheeler ketika muda. Mereka adalah fresh graduate dari London, pada waktu itu Tony sudah mendapatkan pekerjaan dari Chrysler, namun dia memutuskan untuk melakukan perjalanan terlebih dahulu sebelum mulai bekerja. Surat panggilan dari Chrysler itu hingga kini masih disimpan oleh Tony.
Semua berawal dari sebuah perjalanan fenomenal yang mereka lakukan dari Eropa menuju Australia. Lewat darat. Perjalanan itu melewati tempat-tempat eksotis di Asia, seperti Afghanistan, India, Nepal dan Asia Tenggara, termasuk tentu saja, tanah air kita tercinta.
Bisa Anda bayangkan, pada saat itu masih tahun 1971-1972, masih sangat jarang orang Eropa yang melakukan perjalanan ke tempat-tempat eksotis itu. Thailand baru mulai membuka dirinya untuk pelancong, dan Pantai Kuta---seperti dilukiskan dalam buku ini---hanya memiliki satu jalan setapak berpasir menuju pantai dan akomodasi hanya ada Hotel Kuta Beach dan dua lusin losmen.
Setelah mereka berhasil melakukan perjalanan itu, tentu saja banyak sekali pertanyaan, bagaimana kalian melakukannya? Bagaimana kalian, misalnya, menyeberangi Afghanistan menuju India? Dan berbagai pertanyaan lain, serta pada saat yang sama mereka sempat kehabisan uang di Australia, yang membuat Maureen berpikir, mengapa mereka tidak membuat buku panduan perjalanan? Maka lahirlah buku pertama mereka, Across Asia on the Cheap.
Buku ini mendapat sambutan yang sangat baik di Australia, yang tentu saja kemudian mendorong lahirnya buku-buku selanjutnya. Sementara pertanyaan tentang perjalanan mengilhami lahirnya Lonely Planet, buku Lonely Planet Story ini juga ditulis dengan alasan yang sama---karena orang-orang terus bertanya, “Bagaimana ceritanya dua orang backpacker dengan 27 sen akhirnya bisa mengelola perusahaan multinasional?”
Jawaban pertanyaan itu diurai dalam 565 halaman buku ini. Banyak cerita yang menarik, selain cerita petualangan dalam perjalanan ke negara-negara eksotis (yang sekarang sudah menjadi tidak terlalu eksotis lagi), buku ini juga memuat banyak kisah jatuh bangun sebuah perusahaan, tentang membangun sebuah perusahaan start-up dari nol, dan liku-liku bisnis penerbitan buku panduan. Kita bisa menemukan black swan-black swan kecil di dalam sebuah black swan besar kesuksesan Lonely Planet.
Seperti misalnya, cerita bagaimana Steve Hibbard diangkat menjadi CEO Lonely Planet. Pada 1993, Lonely Planet telah mencapai tahap menjadi perusahaan yang dijadikan objek studi kasus mahasiswa sekolah bisnis. Suatu hari sebuah kelompok mahasiswa dari Melbourne Business School meminta data seperti “diagram alir” dan “struktur hirarki” perusahaan, sebuah permintaan yang menurut Tony dan Maureen cukup menghibur, karena mereka tidak memilikinya.
Setelah itu mereka pun mendatangi presentasi kelompok mahasiswa tersebut dan menyimak pada waktu mahasiswa menjelaskan apa yang telah membuat mereka sukses dan memaparkan tantangan yang akan mereka hadapi di masa depan.
Tidak lama setelah itu, Steve Hibbard, salah satu dari kelompok mahasiswa itu, mengusulkan agar dia bekerja untuk Lonely Planet selama enam bulan untuk mengidentifikasi area-area yang memerlukan perbaikan untuk membawa perusahaan ke depan. Tony dan Maureen berpikir, mereka selama ini menjalankan perusahaan dengan cara mereka sendiri, kurang memberi perhatian pada sisi “bisnis,” keputusan dibuat dari hari ke hari dan kurang perencanaan serta analisa secara keseluruhan serta pengawasan terhadap pembelanjaan.
Di situlah Steve mulai bekerja. Alih-alih hanya enam bulan, dia telah bersama Lonely Planet selama sepuluh tahun. Mulai dari jabatannya sebagai general manager, dia telah memasukkan kedisiplinan dalam perencanaan bisnis Lonely Planet, hingga dia pun diangkat menjadi CEO.
Pada bab-bab terakhir Tony juga menjawab suatu hal yang menjadi pertanyaan kita semua, bagaimana Lonely Planet menjawab tantangan perkembangan internet, dimana banyak informasi panduan wisata begitu mudah diakses secara gratis? Lonely Planet jelas tidak ketinggalan dalam era “information superhighway” ini. Di buku ini juga dipaparkan pandangan Tony tentang perkembangan teknologi.
Pada bagian terakhir terdapat tulisan Maureen yang menganalogikan Lonely Planet sebagai anak mereka sendiri. Saya kutip dari buku:
“Saat anak-anakmu masih sangat kecil, mustahil untuk membayangkan kehidupan ketika mereka takkan tinggal bersamamu, ketika kau takkan melihat mereka setiap hari atau mengetahui apa yang mereka lakukan. Saat mereka tumbuh dewasa kau pelan-pelan melepaskan dirimu dari diri mereka sampai tiba harinya ketika kau memandang anakmu dan melihat orang dewasa yang terpisah, dan menyadari bahwa peran yang kaumainkan dalam hidup mereka tak lagi sentral. Sulit mengakui bahwa anakmu sudah mandiri, tetapi hal tersebut juga teramat membebaskan.”
(Tulisan ini adalah resensi saya yang kedua untuk buku Lonely Planet Story tulisan Tony dan Maureen Wheeler yang versi Indonesianya diterbitkan oleh Mizan. Resensi yang pertama untuk PortalHR menyorot sisi HR dari kisah ini sementara resensi yang ini berfokus pada hal-hal yang mempunyai relevansi personal untuk saya. Thanks for reading!)
Tuesday, October 13, 2009
Mui Ne, a little city full of resorts which sales sand dunes as main tourism object
Waktu yang sempit dan godaan melihat kota antah berantah yang masih jarang dilihat orang membuat kami akhirnya memilih Mui Ne dari sekian banyaknya pilihan tujuan wisata di Vietnam. Dari "terminal pariwisata" Vietnam di Pham Ngu Lau, banyak kota tujuan wisata yang bisa Anda pilih. Dari selatan ke utara: Mui Ne, Da Lat, Nha Trang, Hoi An, Da Nang, Hue, Ha Noi, Halong Bay, dan Sapa. Semuanya mempunyai daya tarik sendiri-sendiri. Ke arah barat Anda bisa memilih kota-kota di Cambodia, tapi di tulisan ini mari kita fokuskan pada Vietnam saja.
Karena semua kota di atas terletak dalam satu daratan yang sama, jadi semuanya bisa ditempuh lewat perjalanan darat, dengan kereta atau bis. Menariknya di Vietnam, Anda bisa membeli tiket bis yang disebut open bus ticket. Artinya, Anda bisa beli dari Ho Chi Minh City sampai paling ujung (Ha Noi) dan bisa berhenti di kota-kota yang dilewati tanpa batas waktu. Informasi jadwal bus ke kota-kota tersebut sangat mudah diperoleh di agen-agen tour, bahkan bisa disearch di Google. Dengan mengetahui jadwal bus ini sangat memudahkan dalam penyusunan itenerary (rencana perjalanan).
Mui Ne, 4-5 jam dari Ho Chi Minh City, adalah yang paling dekat. Mui Ne menawarkan wisata antara lain: pantai kampung nelayan (Fishing Village), White Sand Dunes, Lotus Lake, dan Yellow Sand Dunes.
Da Lat, sekitar 6-7 jam dari Ho Chi Minh City menjual wisata pemandangan alam nan hijau dan air terjun seperti Datania Waterfalls, Prenn waterfalls, Bao Dai Summer Palace, Valley of Love dan Buddhist meditation monastery. Semuanya dapat di-google untuk melihat foto-fotonya.
Nha Trang adalah kota pantai. Tahun 2008 tempat ini pernah menjadi host Miss Universe 2008 dan rencananya akan menjadi host (tuan rumah) Miss World 2010. Tour Nha Trang biasanya berarti mengunjungi pulau-pulau di dekatnya, Mun Island dan Mot Island, snorkeling, serta mengunjungi fishing village. Nha Trang dapat dicapai dengan 8 jam naik bus dari Ho Chi Minh City.
Wisata Hoi An biasanya disatukan dengan Da Nang dan Hue, karena sudah dekat. Jarak Ho Chi Minh City sampai Hue kira-kira 22 jam perjalanan dengan bus. Kota-kota ini sudah kami eliminir dari awal karena jaraknya tidak memungkinkan mengingat waktu kami di Vietnam hanya 4 hari. Untuk perjalanan darat tidak memungkinkan waktunya, kecuali naik pesawat.
Ho Chi Minh City - Ha Noi pernah saya tempuh dengan kereta selama 32 jam. Dengan bus kurang lebih sama waktunya. Itu sudah tidak menjadi option untuk kali ini. Satu-satunya cara ke Ha Noi adalah naik pesawat, namun karena budget tidak mencukupi, maka akhirnya kami memilih yang dekat-dekat saja. Dengan berbagai pertimbangan (karena masih mau explore Saigon juga), akhirnya pilihan kami jatuh pada Mui Ne. Sebuah kota di pinggir pantai juga, yang ternyata, penuh dengan resort.
Tidak mengherankan karena jaraknya yang tidak jauh dari Ho Chi Minh City, membuat kota kecil ini dapat berkembang menjadi sebuah tujuan wisata. Bila dilihat gambar Vietnam di peta, negara ini panjang dan sempit, kalau kita berjalan terus ke arah timur, pastilah bertemu dengan pantai. Itu berarti, pantai di Vietnam banyak sekali. Coba saja google "beaches in Vietnam" bila Anda menyukai wisata pantai, maka tinggal dipilih saja dengan melihat foto-foto di hasil search. Sebenarnya Vung Tau adalah kota pantai terdekat dengan Ho Chi Minh City, tapi sayang kami tidak sempat ke sana.
Kami memilih Mui Ne karena dari hasil google, terlihat foto-foto gurun pasir yang eksotis. Tidak perlu jauh-jauh ke Sahara, kita bisa melihat "Sahara Kecil" di sini. Di Indonesia katanya juga ada gurun pasir Parangkusumo di Jawa Tengah, tetapi ketika saya search tidak banyak informasinya, bahkan tidak ada fotonya.
Jadi tanggal 24 September malam 20.30 kami pun berangkat ke Mui Ne. Tidak mau repot, kami membeli tour di Sinh Cafe (yang berganti nama menjadi Sinh Tourist) yang sudah termasuk bus pp, menginap di Mui Ne resort milik Sinh Cafe (2 malam), makan, dan tour di Mui Ne. Tour setengah hari meliputi Fishing Village, White Sand Dunes, Lotus Lake dan Yellow Sand Dunes. Total biaya sekitar 700 ribu rupiah.
Kami tiba di Mui Ne resort tengah malam. Sebenarnya agak sayang juga sih boros biaya hotel satu hari, tapi tak apalah, toh kami juga harus mencari hotel bila malam itu menginap di Saigon dan baru berangkat besoknya. Karena berangkat malam, kami ternyata mendapat sleeping bus. Inilah pertama kalinya saya mencoba sleeping bus Vietnam yang spektakuler itu. Bis ini tidak ada yang duduk, semua penumpang harus berbaring, karena langit-langitnya rendah, tidak memungkinkan untuk duduk apalagi berdiri. Bila pegel bisa berdiri di lorong tempat duduk. Sebelumnya, pada waktu browsing sudah pernah menemukan video tentang bis seperti ini di youtube, dan berharap saya tidak perlu naik bis ini, ternyataaa... nasib akhirnya mempertemukan juga saya dengan bis ini. (Coba saja search "Sleeping bus in Vietnam" di youtube, banyak sekali hasil videonya).
Ketika naik ke bus, kita harus melepaskan alas kaki, seperti masuk mesjid saja. Lalu sopir memberikan kita sebuah kantong plastik untuk menyimpan sepatu kita dan kita pun dapat meletakkannya di tempat duduk (tidur) kita. Setelah memberikan plastik, sang sopir mencatat tujuan kita untuk nanti dibangunkan ketika sudah sampai. Hebat kan?
Tetapi dasar tidak biasa, sepanjang perjalanan 4 jam lebih itu saya tidak bisa tidur. Sebelah-sebelah kami sudah tertidur dan mengorok, kami masih mengobrol dan ketawa-ketiwi. Padahal sudah kurang tidur dari semalam, tidak jatuh-jatuh tidur juga saking tidak biasa dengan busnya. Saya terheran-heran, bus seperti ini produksi atau hasil kreasi negara mana ya? Kayaknya kecil kemungkinan bikinan Vietnam sendiri. Ketika saya cerita ke seorang teman, katanya China juga punya bus seperti itu. Mungkin saja produksi China kali ya?
Apa saja yang dilakukan di Mui Ne? Ternyata, selain tour ke tempat yang saya sebutkan tadi, memang tidak ada apa-apa lagi tentang Mui Ne. Pantainya lumayan, tidak begitu bagus. Ombaknya besar. Kita bisa "berenang" alias main ombak di sini. Setelah itu lanjut berenang di kolam renang resort. Cukup menyenangkan.
Setelah sebuah kota yang sangat bising, hiruk-pikuk, dengan tingkat bahaya yang tinggi di lalu-lintas, tiba di Mui Ne bagaikan mendarat di surga. Tiada lagi bunyi klakson. Hanya ada debur ombak yang membuai.
Selanjutnya, untuk tour-nya, lumayan. Pantai Fishing Village cukup bagus. White Sand dunes dan Yellow Sand Dunes juga cukup indah, eksotis. Sayangnya waktu kami datang cuaca mendung. Sempat hujan pula di White Sand Dunes, sehingga waktu habis hanya menunggu hujan. Untunglah masih sempat menikmati sebentar setelah hujan berhenti. Ya, selama kami di Vietnam hujan terus. Setelah pulang, terdengar berita ada badai besar yang memakan korban cukup banyak di Vietnam tengah.
Selanjutnya, mengenai tempat-tempat tadi, mudah-mudahan foto-foto di bawah ini cukup untuk bercerita. 








Wednesday, October 07, 2009
Some Pictures from Ho Chi Minh City
Pukul 17.00 adalah saat lalu lintas paling ramai. Motor jauh lebih dominan dibanding mobil.
Datangnya kendaraan dari segala arah.
Lampu merahnya ada yang besar dan ada yang kecil. Maksudnya apa ya?
Mendung di Saigon
Gereja Katedral Notre Dame Saigon
Altar gereja Notre Dame Saigon yang megah, langit-langit sangat tinggi.
Seorang ibu meletakkan lilin sehabis berdoa di gereja Notre Dame Saigon (Ho Chi Minh City).
Louis Vuitton Opera View Saigon
Malam di De Tham Street, masih daerah Pham Ngu Lau.
Opera House Saigon
Pho 2000 Saigon
Jajanan pinggir jalan yang aduhai
Bumbu khas Vietnam, di restoran Quan An Ngon.
Colokan listrik di Vietnam yang bersahabat. Bisa dua model, yang kurus dua atau yang bulet seperti di Indonesia. Jadi aman ketika kita travel ke sana, tidak perlu mengganti ujung colokan.
Ulasan tentang Ho Chi Minh City:
Ho Chi Minh City, the motorcycle republic who only good for transit (and for business, maybe)
